Manusia merupakan makhluk yang sebenarnya dituntut untuk senantiasa berkarya. Hal itu dikarenakan makhluk termulia ini memiliki beragam nikmat luar biasa yang ada pada dirinya. Tentu saja nikmat tersebut tidak boleh disia-siakan.
Berkarya sangat berkaitan dengan produktivitas dan kesibukan. Karena hampir setiap hal memiliki sisi baik dan sisi buruk, kesibukan pun juga memiliki dua hal itu. Berikut sisi baik dan sisi buruk dari sangat padatnya kesibukan seseorang.

A. Sisi Baik
1. Peningkatan Kemampuan Akal
Akal merupakan anugerah terhebat yang diberikan Tuhan kepada manusia. ‘Perangkat lunak’ manusia tersebut mampu menghasilkan karya-karya luar biasa yang bisa bermanfaat untuk banyak orang. Mengajar, belajar, berkarya melalui tulisan atau film merupakan contoh kesibukan yang bisa meningkatkan kemampuan akal. Berbeda dengan mesin, semakin sering akal digunakan maka fungsinya akan semakin baik. Tentu ada batas-batas tertentu supaya pengoptimalan kemampuan akal tidak berlebihan.

2. Peningkatan Kemampuan Fisik
Sama dengan akal, kemampuan fisik pun juga bisa lebih optimal dengan kesibukan yang dijalani. Dengan adanya kesibukan maka bagian-bagian tubuh manusia akan sering digerakkan. Gerakan-gerakan itulah yang pada dasarnya bisa membuat tubuh menjadi lebih bugar dan memiliki ketahanan fisik yang baik. Sama dengan akal, tentu ada batas-batas yang harus diketahui dan dijalani supaya kondisi fisik tidak menjadi lebih buruk akibat padatnya aktivitas.

3. Bertambahnya Teman
Seribu teman terlalu sedikit. Satu musuh terlalu banyak. Pernah mendengar pepatah itu? Karena manusia merupakan makhluk sosial, hal yang wajar bila muncul keinginan memiliki banyak teman. Manusia yang dimaksud tentu manusia pada umumnya. Melalui kesibukan yang dijalani, potensi mendapat teman baru akan semakin tinggi. Berorganisasi menjadi pilihan yang tepat untuk mengoptimalkan potensi tersebut. Berkarir di suatu lembaga atau komunitas juga bisa menjadi pilihan lain. Hal itu disebabkan keikutsertaan dalam organisasi, lembaga, dan komunitas mendorong adanya interaksi dengan sesama anggota dan orang lain.

4. Bertambahnya Pendapatan
Ketika seseorang telah berkarir, tentu pundi-pundi rupiah bisa masuk ke dalam dompetnya. Terkadang di tengah karir yang sedang dijalani, tawaran pengembangan karir menghampiri. Misalnya, ada seseorang yang menjadi guru les privat. Awalnya, dia hanya memiliki empat murid. Namun, ada tawaran mengajar dua murid baru. Karena masih mampu, orang itu pun menerima tawaran tersebut. Kesibukan dan pendapatannya pun dapat semakin bertambah. Selain tawaran yang bisa ditolak atau diterima, ada pula pengembangan karir yang bersifat wajib. Contohnya, ada seseorang yang berkarir di dunia perfilman. Karena sudah terikat kontrak, proyek film yang sedang digarap pun harus ia jalani sekalipun itu menguras pikiran dan tenaganya. Lagi, kesibukan dan pendapatannya pun bisa semakin bertambah.

5. Kebermanfaatan Hidup
Alhamdulillah tentu menjadi suatu ucapan yang harus terpatri dalam kalbu dan lisan para pelaku kesibukan. Karena dengan produktivitas yang telah dijalani, banyak manfaat yang bisa diperoleh atau dihasilkan. Manfaat tersebut bisa berguna untuk diri maupun orang-orang di sekitarnya. Bukankah sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain? Akhirnya, apapun kesibukan yang dijalani harus diorientasikan untuk suatu kebermanfaatan.

B. Sisi Buruk
1. Lelah Fisik
Banyak fenomena yang menunjukkan bahwa terlalu sibuknya seseorang bisa berakibat buruk pada fisiknya. Sakit, letih yang berlebihan, dan melemahnya kemampuan fisik merupakan contohnya. Bila seseorang mengalami itu, tentu aktivitasnya yang lain akan terganggu. Orang yang terlalu sibuk tidak boleh menganiaya diri sendiri dengan produktivitasnya yang berlebihan. Tubuh manusia juga harus diperlakukan secara baik. Pada dasarnya segala hal yang ‘terlalu’ akan menjadi ‘keterlaluan’. Membaca dan menerapkan pola hidup sehat merupakan solusi untuk mengatasi hal tersebut.

2. Lelah Batin
Cara menghilangkan lelah fisik boleh dibilang cenderung lebih mudah daripada lelah batin. Penat, bimbang, dan tertekan merupakan beberapa contoh lelah batin. Banyak artikel di media daring yang membahas tentang cara yang baik untuk mengatasi hal tersebut. Namun, tidak sedikit pula fenomena orang-orang yang mengatasi lelah batin dengan cara yang buruk. Berbicara tentang solusinya tentu tidak lepas dari para pelaku kesibukan. Solusinya, mereka harus memahami diri serta memiliki dan menerapkan kiat-kiat yang sesuai dirinya untuk menghilangkan lelah batin yang dialami.

3. Batalnya Janji dengan Orang Lain
Janji harus ditepati. Itulah pasal pertama yang harus tertanam di dalam orang-orang yang telah berjanji. Sebisa mungkin janji yang telah terucap tidak diingkari. Akan tetapi, terkadang hal tersebut tidaklah mudah bagi orang yang memiliki banyak kesibukan. Bisa saja tiba-tiba janji dibatalkan olehnya karena ada kesibukan lain yang mendadak dan lebih prioritas. ‘Kejutan’ itulah yang memang benar-benar membuat orang yang diberi janji terkejut dan agak kecewa. Meminta maaf dan berusaha tidak membatalkan janji lagi merupakan solusi bila hal seperti itu telah terjadi.

4. Kegiatan Lain yang Harus Dikorbankan
Hal yang lumrah bila seseorang yang memiliki lebih dari satu kesibukan harus melakukan ‘pengorbanan kesibukan’. Misalnya, ada mahasiswa yang menjadi pelaku organisasi dan sedang berkarier. Artinya, mahasiswa tersebut memiliki tiga kesibukan, yaitu berkuliah, berorganisasi, dan berkarier. Idealnya, tiga hal tersebut dilakukan secara seimbang. Namun, itu merupakan suatu kemustahilan. Terkadang ada beberapa kesibukan yang harus dikorbankan. Akibatnya, terkadang muncul ketidakoptimalan dalam berkuliah, berorganisasi, atau berkarier. Tentu hal tersebut merugikan dirinya. Oleh karena itu, mahasiswa tersebut harus menerapkan perencanaan dan skala prioritas untuk meminimalkan risiko yang akan terjadi.

5. Pikiran yang Terlalu Fokus
Pikiran orang yang terlalu sibuk tentu dipenuhi dengan kesibukannya. Hal-hal lain merupakan angin lalu yang bersifat tidak penting. Akibatnya, bila ia diajak diskusi tentang suatu hal di luar kesibukannya, dia pun menolak dan menganggapnya tidak penting padahal tidak selalu seperti itu. Hal yang dianggap sepele bisa dikaitkan dengan hal yang penting, bergantung alur diskusinya. Akan tetapi, ketika pikiran terlalu fokus terhadap sesuatu, hal yang lain dianggap tidak penting padahal bisa saja sesuatu yang buruk bisa bersifat baik bagi seseorang. Mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik merupakan solusi untuk mencegah hal itu terjadi.

Hingga saat ini manusia masih tercatat sebagai makhluk penghasil beragam karya yang hebat. Karya-karya tersebut dihasilkan melalui suatu produktivitas. Manusia yang produktif memang baik, tetapi bukan berarti tidak ada risiko di dalamnya. Lima hal baik dan buruk yang telah dipaparkan bisa menjadi refleksi bagi orang-orang yang memiliki kesibukan yang padat. Jadilah pribadi yang produktif, bijak, dan bermanfaat untuk orang lain!

Advertisements