Menulis itu termasuk wujud syukur hamba kepada Tuhannya. “Benarkah?” Tentu. Setiap manusia bisa menulis bila memiliki akal dan kalbu. Setiap insan dapat menulis jika mampu berbahasa. Setiap orang mampu menulis kalau memiliki bagian tubuh untuk menulis. Akankah nikmat itu hendak disia-siakan? “Aku mengerti, tapi mengapa disebut ‘bagian tubuh untuk menulis’? Mengapa tidak disebut ‘tangan’?” Di belahan lain bumi ini terdapat orang-orang yang harus menulis dengan mulut, kaki, atau lengan. Iya, mereka begitu karena suatu kondisi. Masihkah enggan menulis bila jemari masih melekat di tangan? Menulis juga bisa dijadikan sarana untuk berbagi dan berbuat baik kepada orang lain. Bersyukur bisa dengan beragam cara termasuk menulis.

*Rasa syukur menghilangkan keluhan. Rasa syukur juga yang mengalirkan ketenangan dan kekuatan, termasuk untuk berbuat bagi orang lain. (Asma Nadia, penulis novel Surga yang Tak Dirindukan). Dikutip dari kolom resonansi Asma Nadia berjudul Melangitkan Syukur.

Menulis itu mudah dan menyenangkan. “Bukankah justru menulis itu sulit?” Tidak. Tulis saja hal-hal yang sederhana dan sangat dipahami. Semua bisa diabadikan dalam bentuk tulisan. Mulai dari sekecil amuba hingga sebesar gajah. Mulai dari selemah buih hingga sekuat besi. Mulai dari semudah diary hingga serumit skripsi. “Kalau begitu, jelas menulis jadi mudah.” Betul sekali. Membiasakan menulis mulai dari yang sangat sederhana hingga yang sangat kompleks merupakan hal yang baik.

*Biasakanlah menulis pendapat kita dalam sebuah tulisan yang panjang dan komprehensif. Melalui proses pemikiran, di edit berkali2, diperbaiki sumbernya, diperbaiki lagi, maka jadilah dia sebuah tulisan yang baik. Karena membuat tulisan seperti ini akan membuat kita belajar banyak, dan paham bahwa: satu tulisan yg dibuat dengan baik lebih berharga dibanding 1.000 status/tweet/komen yang asal keluar. (Tere Liye, penulis novel Hafalan Shalat Delisa). Dikutip dari status facebook Tere Liye.

Menulis itu ternyata bersifat produktif. “Aku sudah tahu.” Kalau sudah tahu, baca ini supaya sekalian dapat ‘tempenya’! Ada istilah keterampilan berbahasa produktif dan reseptif. Nah, berbicara dan menulis termasuk yang produktif karena menghasilkan sesuatu. Namun, jangan abaikan yang reseptif juga! Membaca dan menyimak merupakan modal utama untuk mendukung kemahiran seseorang dalam berbicara dan menulis. “Aku hanya bisa nulis diary, aku hanya bisa nulis puisi, masalah gak sih?” Selama bersifat mudah sehingga bisa ditulis, memiliki makna, dan bermanfaat tentu bukanlah suatu perkara. Bila ingin mahir dalam hal menulis, berlatih menulis memang harus digiatkan. Menghadiri seminar kepenulisan ribuan kali pun tidak bisa membuat seseorang mahir menulis tanpa sering mengabadikan sesuatu melalui tulisan.

*Semua orang bisa menulis. Tinggal memulainya saja, lalu berlatih, berlatih, dan berlatih. Pada akhirnya akan mengalirlah tulisan itu. (Jonih Rahmat, penulis buku berjudul Buku tentang Kebaikan). Dikutip dari Buku tentang Kebaikan halaman 186.

Menulis itu merupakan sarana untuk mendekap orang-orang terkasih. “Berarti dipeluk dengan tinta? Nanti kotor lho bajunya.” Budayakan membaca secara utuh sebelum berkomentar! Orang-orang terkasih termasuk seperti orangtua, saudara kandung, saudara seiman dan seakidah, para pendidik, kawan seorganisasi, rekan seperjuangan, dan pasangan hidup. Nah, maksud dari mendekap bisa diartikan dari sisi yang lain. Mengingat, berterima kasih, menghargai, hingga mendoakan merupakan sisi lain dari mendekap. Bila tidak mampu mendekap orang-orang terkasih karena suatu norma, etika, atau jarak, sejatinya tulisan bisa menggantikan dekapan itu.

*Mengapa saya menulis? Mungkin karena saya ingin selalu mendekapmu erat lewat kata-kata. (Helvy Tiana Rosa, penulis novel Ketika Mas Gagah Pergi yang juga merupakan kakak Asma Nadia).

Pada dasarnya setiap orang adalah penulis. Bahan tulisan bisa dari pengalaman yang baik atau tragis. Menulis juga gratis. Tak perlu risau meskipun yang ditulis tidak bombastis. Tak perlu khawatir dengan komentar orang-orang yang sinis. Tak perlu melangit dengan pujian termanis. Mari menulis dan tetaplah optimis!

Doraemon bukanlah musang
Dia punya pintu ke mana saja
Menulislah mulai sekarang
Supaya ilmu tidak di otak saja

Irungmu iku lho pesek
Pengen tak jawil mbek petis
Nulis iku gak angel Rek
Nek ngono ayo ndang nulis

His hobby is swimming
His cats are Blue and Pussy
You can write everything
Because writing is easy

Advertisements