Semester tujuh telah berakhir. Tentu ada beragam pengalaman dan pelajaran yang diperoleh selama menjalani kegiatan di kampus. Saya mengabadikannya melalui tulisan ini. Berikut pengalaman dan pelajaran yang kuperoleh selama menjalani tujuh semester di kampus.

1. Jangan Pernah Minder!
Bagi yang mengenal diriku, tentu mengerti saya memiliki suatu anugerah dari Allah di tangan kiri. Anugerah tersebut secara medis diistilahkan brakidaktili. Mengapa kusebut anugerah? Pertama, diri ini termasuk manusia yang unik secara fisik, jarang ada yang menyamai. Kedua, secara otomatis saya selalu menggunakan tangan kanan ketika makan, minum, memberi, atau menerima. Melakukan empat hal itu dengan tangan kiri bukanlah hal yang baik menurut Islam dan etika.

Secara alamiah seseorang yang mengalami disabilitas akan rendah diri karena merasa ‘berbeda’. Nah, sayangnya perasaan rendah diri tersebut justru bersifat sangat merugikan. Orang yang minder akan mengalami perlambatan perkembangan dari segi pemikiran, komunikasi, emosi, dan sosial. Saya sangat bersyukur karena pihak prodi dan organisasi serta teman-teman sekelas telah memberikan motivasi dan peran kepadaku sehingga diri ini bisa berkembang.

*Ketidaksempurnaan fisik bukanlah sesuatu yang menghambat seseorang sampai pada tujuan. Bahkan sebaliknya itulah kelebihan yang dikaruniakan Allah. Banyak sekali dijumpai penyandang cacat yang meraih penghargaan, memiliki kemampuan yang lebih daripada orang yang bertubuh lengkap dan normal. Masalahnya di sini urusan semangat bukan urusan organ. Tuhan memberi kesempatan yang sama kepada setiap orang untuk memiliki dan meraih prestasi. Yang terpenting adalah semangat untuk meraihnya. Jika kita memiliki kekurangan atau kelemahan, jadikan itu pendayung semangat untuk mencapai pulau tujuan. Ubahlah kelemahan menjadi sumber kekuatan. Berpikirlah bahwa Anda mampu mencapainya. (Abu Aly, kutipan buku Manusia Target halaman 67)

*Mujahadah sesungguhnya terletak pada kearifan kita dalam menyikapi setiap pemberian-Nya. (Ahmad Mufid AR, kutipan buku Tips Berpikir Positif halaman 264)

2. “Aku Pasti Bisa.”
Keberadaan motivasi dan keyakinan (optimistis) dalam jiwa setiap orang sangatlah penting. Seseorang bisa berkembang secara pesat bila dua hal itu ada dalam setiap langkahnya. Bagaimana cara memiliki dua hal tersebut? Sugesti pikiran diri. Yakinkan diri bahwa aku pasti bisa!

Orang-orang tertentu terkadang sulit melakukan hal tersebut. Bila kesulitan itu dibiarkan, selamanya aku pasti bisa akan susah terwujud. Apa yang harus dilakukan? ‘Bergurulah’ pada orang lain! Saya sangat bersyukur karena ‘dipertemukan’ oleh Allah dengan dua orang yang sering memotivasi diri ini. Tak lupa nama mereka akan kugoreskan dalam halaman persembahan skripsi saya.

*Katakan dengan lantang, bahwa dirimu adalah seorang yang sudah siap untuk mengenggam kemenangan di lahan yang tengah engkau semai! (Mhd. Rois Almaududy, kutipan buku Beginilah Sang Pemenang Meraih Sukses halaman 16)

*Dibutuhkan pola pikir dan perangkat sebagai pemenang agar kita tak mudah menyerah menghadapi tantangan serta hambatan itu. Pola pikir dan perangkat itu dapat dibentuk serta dipelajari, tergantung seberapa besar keinginan kita untuk berubah. (FX Afat Adinata & Kevin Wu, kutipan buku Berubah atau Punah halaman xxvi―xxvii)

3. Antara Berkompetisi dan Bekerja Sama
Sejatinya kelas merupakan suatu wadah berkompetisi dalam hal akademis. Bila tidak ada semangat berkompetisi, perilaku akademis seseorang tentu ‘begitu-begitu’ saja. Mahasiswa harus bersaing dengan rekannya. Iklim berkompetisi di PBSI angkatan 2013 memang ‘kurang panas’. Namun, saya sangat bersyukur karena setiap mahasiswa memiliki potensi sehingga iklim berkompetisi bisa muncul secara tidak langsung.

Di sisi lain mahasiswa juga manusia yang merupakan makhluk sosial. Tentu membantu rekan yang berada dalam kesulitan sebisa mungkin dilakukan. Adanya kepedulian untuk saling membantu justru bisa semakin mempererat keakraban antarteman. Diri ini yakin suatu saat orang yang sering menolong akan mendapat bantuan bila mengalami kesulitan. Akan tetapi, keyakinan tersebut tidak boleh dijadikan pamrih saat membantu orang lain.

*….. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Al Maaidah[5]: 2)

*Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (Ar Rahmaan[55]: 60)

4. Menyeimbangkan Kuliah dan Berorganisasi?
Sulit. Itu adalah kata pertama pada bagian ini untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dalam hal menyeimbangkan studi dan organisasi, saya sudah berusaha dua kali, tetapi kurang berhasil. Pertama, ketika masih belajar di SMA, penurunan kualitas di bidang akedemis kualami karena berorganisasi. Kedua, ketika sudah berkuliah, terjadi penurunan kualitas di bidang organisasi karena studi. Namun, dampak dari dua hal tersebut tidak bersifat fatal karena saya menerapkan skala prioritas.

Manfaat dari berorganisasi sangatlah beragam. Saya sangat bersyukur bisa berorganisasi. Diri ini mulai merasakan manfaatnya sejak belajar di SMA, saat kali pertama saya berorganisasi. Sungguh rugi pelajar atau mahasiswa yang tidak berorganisasi. Namun, belajar di suatu lembaga pendidikan juga wajib ketika seseorang telah mendaftar untuk belajar di lembaga itu. Akhirnya, sebisa mungkin pelajar atau mahasiswa tersebut bersungguh-sungguh dalam hal menyeimbangkan studi dan organisasi meskipun sangat sulit. Belajar dan berorganisasi sebaiknya diorientasikan untuk masyarakat dan akhirat supaya tujuannya lebih mulia.

*Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (Al Israa’[17]: 19)

*Dan, jangan pernah melupakan Allah. Sertakan Allah dalam setiap langkah pasti kita. (Mhd. Rois Almaududy, kutipan buku Beginilah Sang Pemenang Meraih Sukses halaman 16)

5. Iri: Menutup Potensi, Menjatuhkan Diri
Organisasi A lho enak, dananya banyak.
Organisasi B lho enak, punya ruang sekretariat yang besar.
Iya kamu, ya wajar tugas-tugasmu bisa cepat selesai dan bagus. Kamu pandai, lah aku?

Ucapan atau anggapan seperti itu kadang-kadang saya dapati. Bibit-bibit iri rupanya sudah tumbuh. Bila dibiarkan, justru rasa iri tersebut berdampak buruk. Orang yang iri hanya berfokus kepada orang lain. Akibatnya, potensi yang dimiliki malah tertutup, selalu beranggapan bahwa orang lain lebih baik. Hal itu hanya membuat dirinya jatuh, tidak lebih baik dari yang lain. Saya juga pernah iri dengan orang-orang yang pemikirannya cerdas dan cara berkomunikasinya baik. Namun, saya sangat bersyukur rasa iri tersebut bisa kuarahkan menjadi pengembangan diri.

*Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (An Nisaa’[4]: 32)

6. Lebih Buruk, Sama, atau Berkembang
Hidup itu penuh pilihan. Setiap saat manusia selalu memilih dalam hal yang sederhana, sedang, atau kompleks. Bila salah menentukan, dampak buruk akan menimpa orang yang salah memilih. Bagaimana pilihanku ketika di kampus? Sederhana. Saya memilih menjadi orang yang selalu berkembang dalam hal pemikiran, cara berkomunikasi, dan rasa percaya diri. Sudah itu saja, cukup. Saya tidak ingin menjadi orang yang lebih buruk atau sama saja pada setiap pergantian semester. Apakah sulit? Bukan sulit, melainkan sangat sulit. Namun, saya sangat bersyukur karena selalu ada orang-orang yang mendukung di balik itu. Perubahan memang harus dilakukan supaya seseorang bisa berkembang menjadi lebih baik dan tidak menyesal pada masa-masa selanjutnya.

*Melakukan perubahan besar dalam hidup memang terasa agak menakutkan. Tapi tahukah kau apa yang lebih menakutkan dari itu? Penyesalan. (FX Afat Adinata & Kevin Wu, kutipan buku Berubah atau Punah halaman 9)

7. Alhamdulillah
Bila dicermati, frasa sangat bersyukur selalu ada mulai dari bagian pertama hingga keenam. Mengapa? Karena bersyukur bisa membawa manfaat. Pertama, rasa syukur akan meredam keangkuhan dalam diri manusia. Kedua, kemampuan seseorang bisa meningkat bila bersyukurnya dengan cara mengoptimalkan potensi diri. Semoga kita senantiasa menjadi hamba-Nya yang senantiasa bersyukur. Aamiin.

*Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Luqman[31]: 12)

Advertisements