Hampir dapat dipastikan setiap orang pernah mencurahkan isi hatinya. Ada saatnya seseorang ingin berbagi kebahagiaan, berharap ada kedamaian jiwa yang tersalurkan. Ada saatnya pula seseorang ingin bercerita tentang masalah yang melilit, berharap munculnya setitik cahaya solusi. Ada saatnya juga seseorang berkisah mengenai pengalaman baik atau buruk, berharap jiwa pembelajar akan semakin tumbuh. Bila orang tersebut mendatangi kita, tentu penyikapan yang baik harus dilakukan.

Melalui tulisan ini bukan berarti saya sangat mengerti hal-hal terkait kejiwaan seperti mahasiswa psikologi. Diri ini hanyalah seorang pembelajar yang berusaha mengambil hikmah dari yang terlewati. Melalui hikmah, kita bisa belajar. Dengan belajar, kita dapat berkembang menjadi lebih baik.

Secara umum tulisan ini menjelaskan respons yang sebaiknya dilakukan bila ada orang yang curhat ke kita tentang suatu masalah atau pengalaman buruk. Tulisan ini berdasarkan pengalamanku sejak beberapa tahun lalu. Diri ini sering menjadi orang yang curhat dan sering pula dicurhati hingga kini. Saya sangat berterima kasih kepada para penyemangatku yang telah menjadi ‘narasumber’ secara tidak langsung dalam hal ini. Karena berdasarkan pengalaman, tentu tulisan ini tidak 100% benar dan mungkin tidak cocok diterapkan oleh semua orang. Oleh karena itu, judulnya cara yang baik, bukan cara yang benar. Semoga uraian berikut bermanfaat untuk pembinaan di organisasi, pergaulan sehari-hari, atau yang lain.

1. Menyimak
Menyimak tidak sekadar mendengarkan. Menyimak berarti memperhatikan secara sungguh-sungguh perkataan orang lain. Hal terpenting ketika merespons curhat adalah tindakan kita ketika menghadapinya. Terkadang ada orang yang curhat, tetapi lawan bicara hanya menyimaknya. Dengan hanya melakukan ‘itu saja’ sebenarnya lawan bicara sudah merasa agak senang. Oleh karena itu, tunjukkan sikap antusias kita! Sikap antusias yang wajar tentunya. Bila memang ada hal yang lebih penting, misal ada pesan singkat atau telepon yang harus segera dijawab, tentu prioritaskan hal tersebut lebih dahulu. Jangan lupa mengatakan sebentar ya, maaf! Insya Allah lawan bicara kita akan memahaminya.

2. Diam Sejenak
Setahun yang lalu seorang kawan menceritakan kegundahan hatinya. Rekan-rekannya yang berada dalam satu divisi kepanitiaan memiliki kinerja yang buruk. Ketika bercerita, tak hanya isi hatinya yang tercurah. Air matanya pun ‘tercurah’ begitu hebat. Saya memaklumi hal tersebut karena dia perempuan. Selain itu, dia juga berposisi sebagai koordinator suatu divisi kepanitiaan acara besar yang lingkupnya seprovinsi, sebuah tanggung jawab yang tidak mudah tentunya.

Hal yang kali pertama kulakukan saat dia bercerita adalah menyimak ceritanya secara antusias. Setelah ceritanya usai, air matanya masih keluar. Saya diam sejenak, menunggu jiwanya agak stabil. Kok gak kamu hapus sih air matanya? Malah nungguin. Ini bukan FTV, Bung. Biarlah dia menjadi perempuan tangguh yang bisa menghapus sendiri air matanya. Saya sengaja diam sejenak. Mengapa? Hipotesis saya, sugesti dan motivasi yang kuberikan akan sulit masuk bila kondisi jiwanya belum stabil. Mungkin bagi psikolog, mentalis, atau orang yang kemampuan berkomunikasinya sangat baik, hal itu mudah dilakukan. Lah saya tidak termasuk ketiganya. Tentu menunggu sejenak hingga kondisinya agak stabil merupakan tindakan yang bijak, lalu memberikannya sugesti dan motivasi.

3. Menyebutkan Nama Lawan Bicara
Kata ganti untuk orang kedua (lawan bicara) adalah kamu, dirimu, engkau, dan Anda. Nah, memang tidak ada salahnya kita memakai kata-kata itu kepada orang yang curhat ke kita. Namun, dalam kondisi tertentu, menyebutkan nama lawan bicara juga penting. Kondisi yang bagaimana? Misalnya, bila orang yang kita hadapi memiliki sisi afeksi yang cukup kuat. Penyebutan nama lawan bicara saat memotivasi atau memberikan solusi bisa menyentuh sisi afeksinya secara tidak langsung. Selain itu, bukankah sesuatu yang asli lebih utama daripada pengganti? Mari kita perhatikan tiga kalimat berikut untuk memperjelas bagian ketiga tulisan ini!

  1. “Kamu seharusnya tidak seperti ini. Kamu masih bisa bangkit dari keterpurukan ini. Teman-temanmu di sini pasti mendukung. Kamu pasti bisa.” (terkesan agak menghakimi)
  2. “Engkau seharusnya tidak seperti ini. Engkau masih bisa bangkit dari keterpurukan ini. Teman-teman engkau di sini pasti mendukung. Engkau pasti bisa. (terkesan ‘lebay’ dan terlalu puitis)
  3. “Rara seharusnya tidak seperti ini. Rara masih bisa bangkit dari keterpurukan ini. Teman-teman Rara di sini pasti mendukung. Rara pasti bisa.” (Lebih baik karena tidak menggunakan kata ganti, tetapi menggunakan ‘kata asli’ berupa nama)
  4. Menggunakan Intonasi dan Tempo yang Beragam

Hal ini berlaku secara umum dalam semua percakapan. Intonasi dan tempo yang monoton akan membuat lawan bicara merasa jenuh atau tidak suka. Bila tidak suka, sesuatu yang kita sampaikan akan menjadi percuma. Sama dengan itu, menanggapi curhat pun harus menggunakan intonasi dan tempo yang beragam, tidak selalu rendah dan lambat. Terkadang intonasinya perlu berapi-api. Terkadang temponya perlu agak cepat. Intonasi dan tempo yang kita gunakan bergantung dengan hal yang kita sampaikan.

4. Bersabar
Mungkin kita pernah dicurhati tentang ‘itu-itu’ saja. Mungkin kita pernah dicurhati hal yang sama persis padahal sudah kita beri nasihat atau solusinya. Kita harus bersabar. Kita tidak boleh memaksakan orang lain berubah secara cepat. Kadar kemampuan berubah setiap orang berbeda. Bila yang dicurhatkan tentang ‘itu-itu’ saja atau sama persis, respons yang diberikan hendaknya berbeda. Bila sama, hampir dapat dipastikan dia tidak akan berubah. Kita bisa menggunakan intonasi, tempo, dan tata bahasa yang beragam.

5. Menceritakan Hal yang Sama
Tujuan dari respons tersebut adalah untuk menguatkan lawan bicara bahwa dia tidak sendirian. Konteksnya adalah dia curhat tentang hal buruk. Kita bisa menceritakan hal buruk yang sama dan pernah kita alami. Bila tidak pernah mengalami, kita bisa menceritakan hal buruk yang sama dan pernah dialami orang lain yang dikenal oleh kita dan lawan bicara. Bila tidak ada, kita bisa menyatakan bahwa pasti ada orang-orang tertentu yang pernah mengalami hal itu juga. Tentu ada sisi etika dalam penggunaan tiga pilihan itu. Dengan tiga pilihan cara tersebut setidaknya lawan bicara akan merasa…

“Iya, aku tidak sendirian. Orang lain pun pernah mengalami, bahkan banyak yang bisa menyelesaikannya. Aku juga pasti bisa.”

6. Subjektif Dulu, Objektif Kemudian
Curhat merupakan akronim dari curahan hati. Karena berkenaan dengan hati, merespons langsung curhatan orang lain dengan logika merupakan suatu kesalahan. Kita bisa memulai membahas dari ‘subjek’ yang bercerita. Caranya beragam, misal memotivasinya, menceritakan hal yang sama, menghiburnya, atau basa-basi sejenak. Setelah itu, kita bisa mulai membahas ‘objek’ permasalahannya. Misalnya, ketika dia salah, jelaskan letak kesalahannya! Ketika masalah yang dihadapi sebetulnya bersifat mudah, jelaskan hal tersebut! Tentu penjelasannya menggunakan bahasa yang etis dan bisa ia terima. Pada bagian ‘objektif’ inilah kita bisa menyampaikan solusi bila lawan bicara curhat tentang suatu masalah. Pada bagian ‘objektif’ ini pula kita harus memberikan atau menawarkan kesempatan kepada lawan bicara untuk menyetujui, menyanggah, atau menambah solusi yang kita berikan. Teknisnya bergantung kreativitas kita.

7. Memberikan Solusi Sesuai Kapasitas
Solusi merupakan hal terpenting saat lawan bicara menceritakan suatu masalah. Orang yang curhat berharap kita bisa memberikannya suatu penyelesaian. Semakin banyak dan berkualitas pengalaman kita, semakin mudah kita memberikan suatu solusi. Namun, kita harus memastikan bahwa solusi yang diberikan sesuai dengan kapasitas lawan bicara. Bila terlalu sulit, lawan bicara akan down. Bila terlalu mudah, lawan bicara berpotensi agak kecewa. Saya rasa kita pasti bisa memberikan solusi yang sesuai karena orang yang curhat biasanya memiliki kedekatan dengan kita. Karakter lawan bicara pun secara otomatis telah diketahui. Bagaimana bila kita benar-benar tidak bisa memberikan solusi? Kita harus minta maaf. Kita juga harus menunjukkan ke lawan bicara terkait seseorang yang berpotensi besar bisa memberikan solusi masalah itu.

8. Ketulusan dalam Tersenyum atau Bersedih
Hal yang dicurhatkan seseorang bisa berupa hal baik atau buruk. Bila hal baik, tentu dia ingin berbagi kebahagiaan dengan kita. Karena itu, respons kita juga harus sejalan, misalnya tersenyum atau tertawa. Respons tersebut haruslah tulus, tidak dibuat-buat. Kita memang bisa berpura-pura turut senang. Akan tetapi, bukankah itu justru menyiksa batin kita?

Respons yang sejalan dan tulus juga harus dilakukan bila seseorang curhat tentang suatu masalah atau kesedihan. Memang suatu perasaan terutama perasaan sedih bisa ‘menular’. Namun, kita tetap harus bisa mengendalikan diri. Jangan sampai kita terlalu terbawa oleh perasaan sedih lawan bicara! Mengapa? Karena kondisi pikiran dan perasaan juga bisa berpengaruh terhadap keoptimalan kita dalam berbahasa. Kita harus tetap bisa memberi penguatan yang baik kepada lawan bicara.

9. Memberikan Motivasi Secara Kontinu
Tibalah kita pada akhir pembahasan. Saya sangat percaya dengan kaidah bahasa bisa memengaruhi pikiran. Ujaran yang kita sampaikan bisa membawa dampak bagi pikiran lawan bicara. Tentu hal tersebut bergantung dengan keragaman intonasi, tempo, dan pilihan kata yang kita gunakan. Kedekatan hubungan dengan lawan bicara juga berpengaruh. Bila percakapan sudah berlangsung cukup lama, kita bisa menggunakan cara ini. Kita bisa mengujarkan kata-kata motivasi selama beberapa menit tanpa berhenti. Kontinuitas motivasi tersebut berfungsi untuk ‘mengisi’ jiwa seseorang supaya bangkit. Sekali lagi, cara ini memerlukan kemahiran dalam berbahasa dan kedekatan dengan lawan bicara.

*Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (Al ‘Ashr[103]: 1―3)

*Dalam strategi ini, yang kita butuhkan adalah keseriusan mengumpulkan ragam informasi yang memiliki nilai-nilai kebijaksanaan hidup, atau istilahnya informasi yang dapat menggugah semangat jiwa kita. Tak peduli informasi tersebut berasal dari mana dan siapa, selama ia mengandung nilai-nilai kearifan, kebijaksanaan, kelembutan, dan kasih sayang, insya Allah, kita diperkenankan untuk menggunakannya. (Ahmad Mufid AR, kutipan buku Tips Berpikir Positif; 101 Cara Berpikir Tentang Kehidupan halaman 336)

*Banyak jenis komunikasi di dunia ini, tetapi patut direnungkan bahwa tidak ada bentuk komunikasi yang lebih efektif ketimbang komunikasi dari hati ke hati. (Drs. E.B. Surbakti, MA., kutipan buku Manajemen dan Kepemimpinan Hati Nurani halaman 167)

Advertisements