Ide tulisan ini muncul ketika saya sedang beristirahat di kamar. Sambil menatap langit-langit, pikiran seolah berkata bagaimana kalau aku iseng membuat tulisan di luar skripsi supaya tidak jenuh? Sejenak diri ini ingin menyegarkan otak setelah mencari data awal penelitian, berdiskusi dengan dosen pembimbing, dan mengerjakan ‘naskah umum’ bab satu hingga bab tiga. Apa judul penelitian tersebut? Tidak perlu dipublikasikan, khawatir dikatakan ‘penistaan Alquran’.

Tulisan ini merupakan kesan yang saya peroleh selama tujuh semester berkuliah di kampus tercinta. Wah, tidak terasa rupanya diri ini sudah semester tujuh. Ada banyak dinamika yang terjadi. Ada beragam pengalaman yang terlalui. Yang menjadi sorotan utama hanyalah satu. Konsistensi. Kesan ini sengaja digoreskan, berharap ada pesan yang bisa tersampaikan untuk diri ini dan orang lain.

Hidup di keluarga yang Islami merupakan suatu anugerah. Hal itu tentu wajib disyukuri. Mengapa? Saya tidak bisa membayangkan bila hidup di keluarga atau lingkungan yang menjunjung nilai-nilai amoral. “Halah, selama kita taat kepada Tuhan, kita pasti tetap bisa di jalan-Nya.” Tidak semudah itu, Kawan. Kondisi lingkungan sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan pola perilaku seseorang. Apakah bila kita hidup di lingkungan kampung pencuri, lantas kita menjadi pencuri? Lambat laun hal itu akan terjadi. Bila tidak, kita akan dicampakkan kalau tidak ikut mencuri. Kemungkinan terburuk justru rumah kitalah yang menjadi sasaran empuk. Hal itulah yang pernah diajarkan oleh saudara saya yang seakidah.

Kampus tempat saya belajar memang bisa dikatakan tergolong kampus Islami. Nilai-nilai keislaman telah diusahakan tegak oleh para petinggi baik secara konstitusional maupun kultural. Saya mengapresiasinya. Namun, nilai-nilai tersebut belumlah tampak secara keseluruhan dalam hal penerapannya. Mungkin standar Islami yang saya pakai ‘terlalu tinggi’ sehingga kalimat tersebut bisa muncul dalam tulisan ini. Hal itu, mengenai nilai-nilai keislaman, bisa dimaklumi karena tidak semua elemen kampus berasal dari organisasi yang menaungi kampus ini. Kesatuan visi dan kesatuan jalan hidup sangat sulit terbentuk dalam jiwa semua elemen kampus. Meskipun sulit, hal tersebut bisa tetap diusahakan. Pada tahun 2014 saya pernah membaca puisi Secarik Puisi untuk Sang Rektor di hadapan Rektor dan wakil-wakilnya. Puisi itu berisi rasa terima kasih kepada beliau karena telah mengembangkan kampus. Puisi itu juga berisi keinginan yang dalam supaya nilai-nilai keislaman bisa semakin ditegakkan

“Lho, bukannya bagus bila ada perbedaan? Jadi, pikiran kita bisa beragam pula.” Saya sepakat dan mengapresiasi pendapat itu, lebih saya apresiasi lagi bila perbedaan yang ada bisa menimbulkan penguatan nilai-nilai keislaman. Bila ada kampus yang seluruh elemennya memiliki kesatuan visi dan kesatuan jalan hidup, lantas menjalankannya secara sungguh-sungguh, saya sangat percaya kelak lulusan kampus itu akan menjadi pribadi yang luar biasa. Adakah kampus yang seperti itu? Ada banyak hal yang sesungguhnya belum kita ketahui.

Kali pertama saya masuk ke kampus untuk mengikuti orientasi mahasiswa, keterkejutan muncul dalam hati. Lho, kok gini? Sungguh berbeda dengan kondisi lingkunganku sebelumnya. Lagi, mungkin standar Islami yang kupakai ‘terlalu tinggi’. Sempat muncul pikiran aku harus bertahan, idealis. Akan tetapi, saya telah kalah telak oleh ribuan elemen kampus yang visi dan jalan hidupnya berbeda dengan diri ini. Mengapa? Ya tentu saja karena pengaruh lingkungan. Ada beberapa hal yang menjadi rapuh. Ada beberapa hal yang tergores, menyisakan dedaunan Islami yang mulai menguning. Itulah konsekuensinya. Pikiran ini sempat berkata kesal enak sekali mereka yang hidup dan belajar di lingkungan Islami sejati, tidak perlu susah-susah mempertahankan nilai-nilai itu, lah aku? Secara perlahan kutepis anggapan itu dengan berpikir itulah konsekuensi yang harus dihadapi. Beruntung aku kuliah ‘di sini’. Mungkin kondisi yang terjadi akan berbeda bila aku kuliah di ‘kampus reguler’.

Tergabung di angkatan 2013 merupakan suatu anugerah. Jumlah mahasiswa sekelas kini hanya 15 orang, ideal untuk pembelajaran yang efektif. Sekali lagi, mungkin standar Islami yang kupakai ‘terlalu tinggi’. Awalnya, usaha untuk bertahan tetap dilakukan. Lambat laun nilai-nilai itu semakin memudar. Kerapuhan konsistensi telah terjadi. Mengapa begitu? Kondisi kelas berbeda dengan lingkungan selama ini. Entahlah, seolah hanya ada dua pilihan. Beradaptasi atau terdegradasi.

Ada satu hal yang membuat diri ini cukup kesal di angkatan 2013. Hal tersebut adalah bila teman-teman heboh membahas tentang pacaran, lamaran, nikah, dsb. Maklum, ibarat sepakbola, ‘starting eleven’ kelas kami adalah perempuan sejati dari latar belakang yang berbeda. Hal-hal seperti itu dibahas bahkan hingga ‘offside’. Tidak pernahkah masalah studi lanjut atau karir dijadikan pembahasan yang kontinu dan menarik layaknya ‘serangan tujuh hari tujuh malam’? Saya tahu sebentar lagi ‘babak pertama’ akan berakhir. Tak lama kemudian ‘kick off babak kedua’ akan dimulai. Sejatinya setiap mahasiswa bisa memilih untuk segera memenangi ‘pertandingan’ atau menunggu terjadinya ‘perpanjangan waktu’ untuk mencetak ‘gol’. Itupun kalau ‘cedera’ tidak menghampiri sehingga ‘pemain’ tetap bisa ‘merumput’ di ‘lapangan’. Semoga.

Itulah ‘iklim pertandingan’ saat ini, kurang kondusif. Kehadiran sosok ‘second striker’ memang didambakan semua insan termasuk diri ini. Dialah yang bertugas membantu ‘penyerang murni’ untuk mencetak ‘gol’. Dialah yang bersikap sabar untuk tetap menguasai ‘bola’, lantas mencetak ‘gol’ atau memberi ‘assist’ ke ‘penyerang murni’, hampir sama dengan playmaker. Siapa sih yang tidak menginginkan hadirnya ‘second striker’? ‘Bermain bersama’, bekerja sama, saling mendukung, lantas mencetak ‘gol kemenangan’. Tapi ayolah, jangan terlalu fokus pada sosok ‘second striker’! Fokus dan optimalkan ‘skill individu’ yang dimiliki dan teknologi yang ada tanpa bersikap individualis.

Beruntung sekali ‘Sang Wasit’ memberikan peringatan dan satu ‘kartu kuning’ jika diri ini keluar dari ‘aturan pertandingan’. Bagaimana kalau ‘kartu merah’? Entahlah. Saya takut, sangat takut. Semoga kelak kita bisa mendapatkan ‘trofi’ dengan cara ‘bertanding’ yang menjunjung tinggi ‘aturan’ dan ‘sportivitas’. Aamiin.

*Selalulah menjadi anak muda yang peduli, memilih jalan suci penuh kemuliaan. Kau akan menjalani kehidupan ini penuh dengan kehormatan. Kehormatan seorang petarung. (Tere Liye, kutipan novel Negeri di Ujung Tanduk halaman terakhir)

*Begitu banyak “bacaan” yang dapat dipelajari di sekitar kita. Ia bisa berupa kejadian-kejadian, atau pengalaman-pengalaman, baik dari diri kita sendiri atau dari orang lain, yang pada intinya dapat dipetik untuk dijadikan teladan, peringatan, atau kesimpulan. (Ary Ginanjar Agustian, kutipan buku Emotional Spiritual Quotient edisi revisi halaman 169)

Berbagai cobaan, kesulitan, dan tantangan
Membuat hidupmu menjadi lebih matang
Apabila beban terasa terlalu berat
Mintalah nasihat orang-orang bijak
Bermunajatlah kepada Yang Kuasa
(Jonih Rahmat, kutipan puisi di Buku tentang Kebaikan halaman 240)

*Seseorang kini lebih memilih melakukan sesuatu dengan bantuan alat, daripada harus meminta bantuan orang lain, sehingga sosialisasi antar sesama jarang dilakukan. Pola hidup individualis ini membuat manusia cenderung tidak peduli terhadap kondisi di sekitarnya. (Vella Rohmayani, kutipan tulisan Penerapan Pendidikan Ekoliterasi dalam buku Membaca Muhammadiyah; Refleksi Kritis Anak Muda Lintas Isu halaman 137)

Advertisements