Apa hubungannya kereta Ranggajati dan peran seorang ibu? Sebelum saya memulai cerita, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak PT KAI atas pelayanannya. Kamis lalu, 22 Desember 2016, saya menumpang kereta api Ranggajati menuju Yogyakarta. Awalnya, saya duduk berhadapan dengan seorang ibu muda berjilbab kuning yang sedang menggendong anaknya. Tak lama kemudian petugas kereta datang, mengubah tempat duduk supaya para penumpang menghadap searah.

Pukul 09.20 kereta berangkat. Anak ibu muda tadi senang karena kereta telah berangkat. Meskipun dia di belakangku, suaranya terdengar jelas. Selama perjalanan, ibu tersebut sering mengajak anaknya berkomunikasi. Sesekali dia mengajarkan kata-kata baru kepada anaknya. Maklum, si anak masih kecil.

Ibu: “Dek, itu namanya sa..wah. Sa.…..wah. Apa namanya itu? Sa….

Anak: “Pi..”

Ibu: (Tertawa) “Bukan sapi, Nak. Mana gak ada sapi di situ, hayo….. Namanya sa….wah, sa…wah. Ayo, Wildan. Sa….”

Anak: ”Wah. Sawah”

Ibu: “Pintar”. Di sawah ada apa, Sayang?”

Anak: “Embek. Eta.. eta…”

Ibu: (Tertawa) “Iya iya. Ayo, lihat (video) kereta. Naik kereta api tut tut tu…..t. Si…apa hendak turu…t (dst)”

Anak: “Eta…eta… Tut Tu…t”

Ibu: “Iya. Nih, keretanya sudah jalan dari tadi, Dek.”

Itulah sedikit kutipan percakapan mereka yang hampir mirip dengan dialog aslinya. Tentu saja sifatnya hampir mirip karena dialog itu tidak direkam, sekadar diingat saja. Inilah tiga amanat yang bisa diambil.

1. Pengajaran Berbahasa
Beruntung sekali bila seorang balita memiliki ibu yang cerewet. Cerewet dalam hal positif tentunya. Komunikasi yang dilakukan ke balita akan membuat anak tersebut semakin memahami banyak kosakata. Kegiatan itu semacam memasukkan pelbagai kata ke memori anak. Bila si anak hendak mengutarakan sesuatu, kata-kata itulah yang digunakan. Bila orangtua atau orang lain jarang mengajak anak berkomunikasi, dari mana ia mendapat kata-kata baru?

2. Pengucapan yang Benar
Ketika pembelajaran berlangsung, dosen saya pernah berkata, “Kalau ada anak yang cara mengucapkan suatu kata belum benar, kita jangan menirunya. Ucapkan kata yang benar supaya dia meniru kita. Bila kita turut mengucapkan kata yang salah, anak akan berpotensi menganggap kata yang salah tersebut bersifat benar.” Muncul kebingungan? Saya contohkan berdasarkan dialog tersebut. Di dialog tersebut si anak mengucapkan eta berulang-ulang. Namun, si ibu tetap berujar kereta, bukan eta. Entah mengerti atau tidak, si ibu tadi sebenarnya telah berusaha mengajarkan bahwa kata yang benar adalah kereta, bukan eta.

3. Pujian
Pujian yang diberikan bisa memotivasi seseorang untuk terus berkembang. Tentu kadar pujian terhadap anak kecil dan orang dewasa berbeda. Di dialog tersebut si ibu mengucapkan kata pintar setelah anaknya bisa mengucapkan kata sawah. Mungkin dia melakukannya sambil mengelus kepala anaknya. Wah, sok tahu itu. Namanya juga mungkin. Itu namanya berhipotesis.

Ketika di tengah perjalanan, seorang ibu duduk di sebelah ibu muda tadi. Kalau tidak salah, dia menumpang kereta Ranggajati dari stasiun di Mojokerto. Dia pun juga membawa anak yang usianya sedikit lebih tua dari Wildan, anak si ibu muda. Supaya tidak terjadi kebingungan, sebut saja ibu muda benama Tika dan ibu satunya bernama Yanti.

Bu Yanti mulai mengajak bicara Bu Tika. Awalnya, percakapan berlangsung agak kaku, tetapi lambat laun menjadi cair, akrab. Ternyata Bu Tika hendak ke Kebumen, mengunjungi orangtuanya. Setiap satu atau dua bulan sekali dia ke sana. Karena suaminya sedang sibuk bekerja sebagai pengemudi suatu transportasi daring (online) di Surabaya, dia hanya pergi bersama anaknya.

Mereka saling bercerita tentang kehidupan yang dijalani sebagai seorang ibu. Menurut cerita mereka, tidak jarang waktu tengah malam terbangun karena anak menangis. Tidak semua merek susu instan cocok di anak. Kalau tidak cocok, anak akan muntah-muntah. Segala upaya harus dilakukan supaya asupan gizi anak tetap terjaga terutama melalui ASI. Masih banyak lagi sebetulnya, tetapi cukup kusebutkan beberapa saja. Selain itu, saya juga menyimak ujaran Bu Tika kepada anaknya.

Berikut beberapa ujaran Bu Tika kepada anaknya.

>Ketika kereta mulai bergerak
Bu Tika: “Ayo, Nak. Baca doa dulu. Bismillahirrohmanirrohim. Subhanalladzi sakhkhorolana hadza wamakunna lahumukrinin.”

>Ketika anaknya berulah
Bu Tika: “Wildan gak bole gitu ah, jijik tahu, tak bilangin papa lho. Papa, Wildan nakal nih, turunin dari kereta aja ya.” (intonasinya sangat lembut, sulit mendeskripsikannya dalam tulisan).

>Ketika hendak makan
Bu Tika: “Ayo, Sayang, dibagi sama temannya. Gak boleh makan sendiri.”

>Ketika menerima sesuatu

  1. Bu Tika: “Dedek gak boleh gitu. Tangan bagus, Sayang.” (mungkin sambil mengarahkan tangan kanannya, mencegah tangan kirinya menerima pemberian orang lain)
  2. Bu Tika: “Hayo, bilang apa kalau dikasih? Terima kasih. Terima kasih.”

Tadi kita sudah sampai nomor tiga. Mari kita lanjutkan ke nomor selanjutnya.

4. Peran Luar Biasa Ibu
‘Beban’ yang dialami oleh Bu Tika dan Bu Yanti sudah sedikit terdeskripsikan. Mayoritas ibu sepertinya mengalami hal seperti itu. Kalau boleh menggunakan suatu istilah, ibu adalah wonder women. Mengurus anak kecil bisa jadi merupakan peran yang menyenangkan sekaligus menyusahkan. Keluarbiasaan peran ibu tidak datang serta-merta. Ada proses yang harus dilakukan sejak masih menempuh pendidikan, tidak hanya bersenang-senang saja.

5. Pengajaran Nilai Kebaikan
Saya sangat tidak suka dengan para orangtua yang tidak bisa mendidik anak secara baik apalagi kalau anaknya banyak. Bila mengacu ke pemerintah, jumlah anak lebih dari dua sudah bisa dikatakan banyak. Lho, banyak anak banyak rejeki. Baca surat Al An’aam ayat ke-151! Jangan salah! Banyak anak juga sunnah Nabi. Anak itu pemberian Tuhan, gak boleh ditolak. Kalau bisa mendidik dan menghidupi secara baik, tidak ada masalah tentunya. Jangan sampai anak menyusahkan masyarakat! Sejak awal anak kecil memang harus diajarkan nilai-nilai yang baik supaya kelak itu menjadi moral, kebiasaan. Contohnya seperti yang dilakukan Bu Tika. Hal itu memang sederhana, tapi akan berdampak besar nantinya. Ketika belajar mata kuliah Psikolinguistik, saya diajarkan suatu kaidah bahwa bahasa bisa memengaruhi pikiran seseorang.

6. Intonasi Bicara
Bu Tika berasal dari Kebumen, Jawa Tengah. Mungkin karena itulah intonasi bicaranya sangat lembut, alus. Apakah warga luar Jawa tidak bisa seperti itu? Tentu saja bisa, meskipun tidak sama persis. Intonasi bicara yang baik akan membuat otak si anak bisa berkembang baik. Lho, kok tahu. Kamu anak Fakultas Kedokteran? Bukan. Saya menggunakan ‘logika kebalikan’. Menurut penelitian, sel-sel otak anak kecil yang dibentak, dimarahi secara keras, akan rusak. Hal yang sebaliknya tentu saja berlaku. Namun, ada yang berhipotesis bahwa anak yang sering diperlakukan seperti itu kelak akan menjadi lembek, kurang tegas. Entahlah, saya belum tahu teori tentang mendidik anak kecil secara lembut supaya kelak menjadi tegas dan tangguh.

7. Penggunaan Kata Sapaan
Coba perhatikan dialog Bu Tika dengan anaknya! Ibu muda tersebut sering menggunakan kata sapaan Dek, Nak, Sayang, dan Dedek. Penggunaan kata sapaan bisa memberikan kesan yang berbeda terhadap suatu ujaran. Berbeda bagaimana? Sulit kudeskripsikan secara jelas. Menurutku, intinya bahwa dalam kondisi tertentu penggunaan kata sapaan membuat suatu ujaran bisa menjadi lebih alus dan akrab .

*Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Luqman[31]: 14)

*“Kau tidak seharusnya marah seperti itu. Anak laki-laki yang baik tidak pernah meneriaki wanita, apalagi membuatnya sedih dan tersakiti.” (Tere Liye, kutipan novel Ayahku (Bukan) Pembohong halaman 91)

*”Kau pastilah pernah mendengar kalimat ini, Nak, ”Jika kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang Ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian. (Tere Liye, kutipan novel Eliana halaman 388)

*Orangtua adalah makhluk Allah yang pertama harus kita perlakukan dengan baik. Jika sudah sukses, buatlah orang tua yang pertama kali menikmati dan merasakannya. Ingatlah, pengorbanan mereka untuk mengasuh kita hingga kita bisa menjadi seperti sekarang ini tidak mudah. Susah, minta ampun. Apalagi kalau ayah dan ibu kita bukanlah orang yang berpunya. Pastinya, pekerjaan yang mereka lakukan lebih keras lagi. (Mhd. Rois Almaududy, kutipan buku Beginilah Sang Pemenang Meraih Sukses halaman 34)

*Disadari atau tidak, kita adalah makhluk pemberi makna. Kita selalu memberikan makna atas kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar kita. Atas setiap makna itu kita lalu memberikan respons yang bisa berupa pemikiran, sikap, tindakan, dan ucapan. Respons itu mendatangkan manfaat dan hasil yang berbeda, serta terakumulasi bisa menghasilkan orang yang sama sekali berbeda dari orang lain yang berasal dari lingkungan atau mengalami kejadian yang serupa sekalipun. (FX Afat Adinata & Kevin Wu, kutipan buku Berubah atau Punah halaman 96)

(Sumber gambar: http://www.cirebonmedia.com/berita-cirebon/2016/10/28/ka-ranggajati-trayek-baru-cirebon-jember-pp/

Advertisements