Pada umumnya orang introvert cenderung lemah dalam hal bersosialisasi dan berkomunikasi. Ironisnya, dua hal tersebut bersifat penting untuk menyongsong kesuksesan pada masa depan. Kalau sudah begitu, lantas bagaimana? Berikut cara dan motivasi dari saudari dan kawan saya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Semoga tulisan ini bisa menjadi pijakan bagi para penggenggam impian khususnya sosok introvert.

1. Memperhitungkan Kondisi Internal
Sebelum berperang, setiap prajurit tentu harus memiliki amunisi yang baik. Amunisi tersebutlah yang akan digunakan untuk menghadapi musuh. Sebenarnya kondisi internal seseorang bisa diibaratkan sebagai amunisi. Informasi dari hasil membaca kondisi tersebut akan sangat bermanfaat untuk menghadapi segala hal. Buang-buang waktu saja membaca hal seperti itu. Ada banyak hal tak terduga yang bisa datang kepada setiap orang. Dengan bekal yang telah dipersiapkan, setidaknya orang tersebut bisa mengoptimalkan kesiapan diri dan meminimalkan risiko yang dihadapi.

*”Fikri harus memastikan kelebihan dan kelemahannya apa? Pastikan kelebihan dan kelemahan tersebut berkaitan dengan ‘esok’!”

2. Memperhitungkan Kondisi Eksternal
Analogi ini sering digunakan. Misalnya, ada orang yang hendak pergi ke suatu kota dengan mobil. Tentu dia harus memahami rute menuju kota tersebut, kondisi jalan, lokasi SPBU, hingga daerah-daerah yang rawan tindak kriminal. Membaca kondisi yang akan dihadapi memanglah penting untuk menghindari ‘buta jalan’. Informasi dari hasil tersebut bisa dikombinasikan dengan perhitungan kondisi internal untuk membuat suatu rencana. Ribet banget deh tiga tahapan itu. Setiap orang memang bebas memilih. Bagi yang sudah terbiasa membuat dan menjalani beragam perencanaan, hal tersebut justru sangat membantu ketika melangkah.

*”Coba Fikri cari informasi. Informasi tentang peluang mendapat itu, tanggung jawab yang ada, tantangan, dan hambatan yang akan dihadapi. Itu akan sangat berguna nantinya.”

3. Berencana
Jalan terbaik untuk membaca masa depan adalah dengan membuat rencana. Hampir semua hal bisa diprediksi oleh suatu rencana. Halah, langsung maju aja gak usah rencana-rencanaan. Sekali lagi, setiap orang memang bebas memilih. Namun, ada satu hal penting dari suatu perencanaan. Rencana mampu menuntun langkah seseorang supaya tidak keluar dari jalur menuju terwujudnya impian.

*”Fikri nanti harus merencanakan ke depannya seperti apa. Misal nanti Fikri jadi ini, berarti harus dilihat bagaimana caranya supaya bisa berkembang dan terus belajar meningkatkan kemampuan diri.”

4. Berusaha Sungguh-sungguh
Hasil takkan pernah mengkhianati usaha. Motto tersebut sudah dikenal banyak orang. Memanglah benar bahwa orang yang bersungguh-sungguh akan mendapat suatu keberhasilan. Ada lho orang yang sudah sungguh-sungguh, tapi kok gagal? Bila mengalami hal tersebut, introspeksi diri wajib dilakukan, tidak perlu menyalahkan orang lain. Jangan memiliki anggapan bahwa Tuhan tidak adil! Itu hal terpentingnya. Tuhan telah menetapkan suatu ketetapan yang adil bagi hamba-Nya yang telah berusaha sungguh-sungguh.

*”Kamu berusaha yang sungguh-sungguh, Mas. Nanti kesuksesan akan mengikutimu.”

5. Mulai dari Bawah
Setiap orang tentu mendambakan kesuksesan besar dan meraih impian tertinggi. Akan tetapi, hampir mustahil ada orang yang tiba-tiba meraih sukses besar. Perjuangan harus dilakukan dari bawah. Tenang saja, ayah dan ibuku kaya kok, punya perusahaan. Ada yang beranggapan seperti itu? Sejatinya kesuksesan dari perjuangan diri akan lebih bermakna dan membanggakan. Namun, bukan berarti pertolongan orang lain menjadi terabaikan.

*”Tidak ada orang yang tiba-tiba langsung sukses besar. Coba baca biografi orang-orang yang sudah sukses! Mereka dari bawah, dari gak punya apa-apa.”

6. Bangkit Lagi Setelah Jatuh
Hal yang paling mengecewakan dalam suatu perjalanan menuju kesuksesan adalah kegagalan. Pengalaman tersebut akan senantiasa membekas dalam diri. Akan tetapi, bila terus terpuruk, perjalanan akan terhenti. Semangatku udah sirna waktu jatuh. Artinya, motivasi dalam diri harus diisi lagi. Itulah nilai penting keberadaan keluarga, saudara seorganisasi, dan kawan terdekat. Mereka bisa membantu menumbuhkan semangat yang telah sirna supaya bisa bangkit dari keterpurukan.

*”Kalau kamu jatuh, bangkit. Jatuh lagi? Bangkit lagi. Gak peduli seberapa banyak kamu jatuh, Mas. Yang penting kamu bangkit lagi. Jangan putus asa!”

7. Bersikap Bijak Terhadap Ucapan Orang Lain
Setiap orang memang bebas berpendapat. Sayangnya, ucapan tersebut justru bisa menyakiti hati lawan bicara bila perkataannya dianggap buruk oleh lawan bicara. Orang seperti itu memang menyebalkan, gak bisa jaga kata-katanya. Orang tersebut tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Mungkin dia berpendapat dengan niat yang baik. Namun, karena tidak mengetahui kondisi lawan bicara, ucapannya malah dianggap buruk. Atas dasar realitas itulah setiap ucapan yang dianggap buruk tidak boleh terlalu dipikirkan, santai saja.

*”Yang tahu dirimu ya kamu. Orang lain hanya tahu sedikit saja. Jadi, jangan terlalu memikirkan ucapan buruk dari orang lain!”

8. Buang Jauh Rasa Minder
Ngapain sih minder? Sama-sama manusianya kok. Hal yang fatal bila ada yang menyamaratakan kondisi kejiwaan setiap orang. Perasaan minder bisa ada pada setiap orang terutama pada orang yang memiliki suatu ‘keterbatasan’. Secara alamiah dia akan seperti itu karena merasa ‘berbeda’. Sayangnya, sifat tersebut justru sangat merugikan. Karena itu, orang-orang terdekat memiliki peran penting untuk memotivasinya. Motivasi diri juga harus dilakukan, tidak hanya bergantung dengan orang lain.

*”Sudahlah. Kamu gak boleh minder lagi. Nanti gak ada kemajuan.”

9. Optimistis
Orang yang memiliki sifat optimistis disebut optimis. Para optimis memiliki keyakinan kuat bahwa mereka akan meraih sesuatu yang diimpikan. Keyakinan inilah yang bisa menjadi energi utama ketika melangkah. Kalau cuma yakin aja, aku sih bisa. Hal itu tidaklah benar. Ada satu hal yang harus disandingkan dengan optimistis, yaitu realistis. Perpaduan antara impian dan kenyataan akan menghasilkan langkah yang terarah dan potensi kekecewaan yang lebih kecil bila kegagalan telah datang.

*”Jangan takut, Mas! Kalau takutmu seperti itu, lalu bagaimana? Tidak akan jadi apa-apa. Kalau takut, ya sudah kamu akan hidup dengan ketakutanmu.”

10. Realistis
Memiliki sifat realistis sangatlah penting dalam kehidupan. Hal itu dikarenakan manusia hidup dalam dunia yang nyata, bukan dunia maya. Oleh karena itu, perencanaan yang tepat, langkah yang benar, dan hati yang lapang merupakan tiga hal penting bagi para realis. Waduh, berarti gak boleh memiliki impian yang tinggi-tinggi dong? Kan kita harus realistis? Impian yang hebat justru bisa menjadi penyemangat seseorang. Kegilaan terbaik orang yang waras adalah dengan memikirkan impian yang ‘gila’. Tentu saja orang tersebut harus pandai memadukan perencanaan, pelaksanaan, optimistis, dan realistis.

*”Keajaiban itu memang ada, tapi kita gak boleh terlalu berharap dengan keajaiban. Kita harus bersikap realistis.”

Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Cukuplah terjemahan surah Al Israa’ ayat 19 tersebut menjadi penutup tulisan ini. Semoga setiap langkah yang akan dan telah dilakukan senantiasa diarahkan untuk kehidupan akhirat.

Advertisements