A. Profil Narasumber

1. Nama lengkap dan gelar : Astajab, S.Pd., M.M.
2. Tempat, tanggal lahir : Lamongan, 16-2-1969
3. Jabatan saat ini : Kepala SMAM 2 Surabaya
4. Riwayat Pendidikan
SD        : SDN Wangen 1/MI Muhammadiyah Glagah, Lamongan
SMP     : MTs Muhammadiyah Glagah, Lamongan
SMA     : SMA Muhammadiyah 2 Surabaya
PT        : IKIP Surabaya/Universitas Negeri Surabaya
5. Pengalaman organisasi
Sekretaris IMM Komisariat Unesa
Bendahara Majelis PKU PCM Ngagel
Majelis Pustaka PWM Jawa Timur
Sekretaris PAN Ranting Ngagel Rejo
6. Jabatan sebelumnya:
Wakasek kesiswaan SMAM 2 Surabaya
7. Motto hidup: Hari esok lebih baik dari hari ini

B. Transkrip Wawancara

1. Menurut Bapak, apakah yang dimaksud dengan pendidikan?
Pendidikan adalah usaha yang terencana untuk mewujudkan proses belajar mengajar agar para peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, akhlak mulia, kepribadian, kecerdasan, pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan.

2. Mengapa pendidikan harus diperoleh setiap orang?
Karena pendidikan adalah suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri setiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupannya.

3. Bagaimana kriteria pendidikan yang baik?
Kriteria pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cakap, percaya diri, berdisiplin, bertanggung jawab, cinta tanah air, mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan, dan menghasilkan sumber daya manusia yang handal.

4. Bagaimana tantangan zaman pada saat ini dan masa selanjutnya yang dihadapi oleh para siswa?
Jadi, menurut saya yang utama ada empat hal. Yang pertama adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi itu. Sekarang telah kita ketahui bahwa arus informasi yang luar biasa. Jadi, apakah sosial media dan lain-lain, kalau anak tidak memiliki benteng yang kuat, bisa terpengaruh dengan situs-situs yang kurang baik.

Kemudian, yang kedua adalah tantangan media massa baik cetak atau elektronik yang bersifat edukasi itu kan jumlahnya, persentasenya tidak banyak. Jadi, TV-TV rata-rata hanya menyajikan hiburan. Jadi, kalau yang edukasi, rata-rata ya sekitar dua puluh persen. Itu yang kedua.

Kemudian yang ketiga, yang terkait dengan NAPZA atau narkoba. Jadi saat ini pengguna narkoba terbanyak itu di usia anak-anak SMA dan mahasiswa dan sekarang ini mulai anak SD, itu sudah mulai dikenalkan narkoba mulai SD, SMP, SMA, perguruan tinggi sampai orang tua. Akan tetapi, kalau lihat data, yang banyak (terlibat narkoba adalah) anak usia SMA dan mahasiswa.

Kemudian, tantangan berikutnya yang terkait dengan adanya AFTA, pasar bebas itu. Jadi, pasar bebas yang sekarang kita sebut MEA, Masyarakat Ekonomi ASEAN, ketika kita tidak mempunyai kompetensi yang baik maka akan terpinggirkan. Jadi, kalau ada produk-produk perdagangan, kalau kita tidak bisa menjual produk yang baik dengan harga yang lebih murah, akan kalah dari luar negeri.

Saya telah melihat di daerah Wedoro. Wedoro dulu terkenal dengan home industry sandal, sepatu,  yang buatan Waru yang dari kulit. Tetapi, saya beberapa waktu yang lalu ke sana, malah yang dijual di situ tidak produk home industry­-nya yang banyak, tetapi (yang banyak dijual) sudah sandal, sepatu, dari Cina. Ketika saya,”Kenapa kok menjual produk (Cina) ini?” (Mereka menjawab) “Karena produk ini yang harganya murah dan laku keras di pasaran.” Jadi, karena (mereka) tidak menutup produk dari luar dan tetap dijual, mangkannya produk dalam negeri, home industry­ dan produk ciri khas masyarakat sana mulai kalah dan terjadi pergeseran.

Kemudian ada lagi AFLA. AFLA itu kan tenaga bebas. Jadi, suatu saat kalau AFLA diberlakukan, kalau anak-anak, generasi muda, tidak memiliki kemampuan yang baik, maka masalah yang terjadi adalah perusahaan jutru banyak mengambil tenaga dari luar, bukan dari masyarakat lokal. Bisa jadi warga negara atau anak-anak kita adalah yang hanya menjadi penonton di negerinya sendiri. Jadi, (mereka) juga bisa termarginalkan. Jadi tantangan saat ini dan yang akan datang saya kira seperti itu. Kita harus menyiapkan anak-anak kita supaya bisa bersaing secara global

5. Salah satu sistem pendidikan yang ada ialah sistem pendidikan berbasis Islam seperti yang diterapkan sekolah ini dan sekolah berbasis Islami lainnya. Bagaimana keefektifan sistem pendidikan tersebut untuk mencetak generasi penjawab tantangan zaman?
Jadi, saya kira yang terpenting dalam sebuah sekolah Islam adalah pendidikan karakter. Jadi, kami memiliki keyakinan kalau karakter anak itu terbentuk dan baik, maka ini adalah langkah yang efektif untuk mengahadapi semua tantangan. Kalau anak dengan karakter yang baik, saya kira di situasi apapun, tidak menjadi sebuah permasalahan kalau memang kepribadiannya kuat. Jadi, walaupun ada pengaruh dari luar tidak menjadi persoalan yang serius kalau siswa telah terbentuk karakternya. Kalau dalam Islam ya tentunya karakter-karakter Islami yang bisa dibentuk.

6. Bagaimana kriteria sistem pendidikan berbasis Islam yang baik?
Jadi, kalau pendidikan Islam sekolah yang baik ya yang pertama sekolah yang mampu menciptakan karakter anak yang Islami. Yang kedua adalah tentunya mencetak siswa yang punya kemampuan akademik dan nonakademik. Jadi, yang pertama adalah karakternya yang kita bangun, dan yang kedua adalah (pembinaan) siswa yang memiliki kemampuan akademik dan nonakademik, memiliki daya saing. Artinya, kalau ada anak yang memiliki kemampuan akademik dan nonakademik kan nantinya bisa menghadapi persaingan global.

7. Bagaimana cara mencetak siswa supaya menjadi pribadi yang taat pada nilai-nilai keislaman, berwawasan tinggi di bidang keislaman dan pengetahuan?
Jadi saya kira, yang pertama dilakukan adalah pembiasaan-pembiasaan karakter baik yang merupakan langkah awal. Kalau kebiasaan itu dilakukan terus-menerus akan menjadi tradisi dan selanjutnya menjadi karakter.

Jadi kalau misalkan di sini kami membiasakan anak-anak sebelum memulai pembelajaran (untuk) berdoa dan mengaji bersama di kelas masing-masing. Pada hari Jumat juga ada kajian tafsir. Pada hari Jumat dan Selasa kami biasakan anak-anak untuk salat dhuha berjamaah. Kemudian ada pembiasaan salat dhuhur, asar, dan salat Jumat berjamaah. Pembiasan-pembiasaan itu akan membentuk karakter Islami.

Kemudian ada pembiasaan piket simpatik. Piket simpatik yang pikul 06.00 pagi itu aakan membiasakan anak-anak untuk salam, tegur sapa, senyum, dsb ketika bertemu dengan guru, karyawan, dan teman-teman sebayanya. (Mereka) juga saling bersalaman, yang laki-laki dengan laki-laki dan yang perempuan dengan perempuan.

Kemudian ada pembiasaan puasa Senin Kamis. Jadi, anak-anak kita imbau untuk melakukan puasa Senin Kamis. Kemudian ada pembinaan semacam pondok Ramadan, bagi anak-anak kelas X kami adakan Baitul Arqam, yang kelas XI ada kegiatan Darul Arqam, yang kelas XII ada Ramadan Mubarak. Kemudian ada kegiatan-kegiatan untuk menyemarakkan bulan Ramadan.

Kami juga mengajarkan anak-anak tentang kepedulian sesama misalnya lewat bakti sosial. Jadi, anak-anak kita latih bakti sosial ke panti asuhan dan panti jompo. Kemudian kalau setiap Idul Adha ada bakti sosial berupa bagi-bagi sembako dan menyembelih hewan kurban di masyarakat yang membutuhkan. Hal itu dilakukan untuk menumbuhkan karakter anak.

Kemudian, sebenarnya ada empat nilai minimal yang harus dimiliki oleh anak-anak kita, yaitu disiplin, kejujuran, bersih, dan kepedulian. Itu nilai-nilai yang harus kita tanamkan.

8. Apa pesan Bapak kepada seluruh siswa, baik yang menempuh pendidikan di sekolah berbasis Islam maupun tidak, supaya mereka bisa menghadapi tantangan zaman?
Saya kira, pesan saya untuk seluruh siswa, anak-anak bisa belajar sungguh-sungguh dalam menempuh ilmu di sekolah manapun, tempat belajar. Jadi, saya kira kalau anak-anak bersungguh-sungguh kemudian berkonsentrasi pada kegiatan yang diadakan sekolah, anak-anak akan senantiasa berpikir positif dan akan menjadi anak-anak yang luar biasa. Saya kira itu karena memang tiap sekolah ada pembentukan karakter. Hanya saja nanti model kegiatannya tidak sama. Itu pesan saya kepada seluruh siswa baik di sekolah Islam maupun non-Islam. Jadi, (mereka) harus belajar sungguh-sungguh dan menjalankan ibadah dengan sungguh-sungguh juga.

Saya yakin kalau anak-anak belajar sungguh-sungguh, ibadah, dan menjalankan kewajiban, serta berusaha mengembangkan kemampuan akademik atau nonakademiknya, saya yakin anak-anak memiliki kecerdasan majemuk. Jadi artinya, setiap anak pasti punya kecerdasan hanya saja kecerdasannya berbeda-beda. Karena punya kecerdasan yang berbeda, misalnya kecerdasan dalam sepakbola ya harus sungguh-sungguh dalam berlatih sepakbola. Kalau (siswa memiliki) kecerdasan musik ya harus sungguh-sungguh (mengembangkannya). Kalau kecerdasannya di akademik seperti matematika, fisika, kimia, dan lain-lain ya harus dikembangkan. Nantinya hal itu akan bermanfaat untuk ke depannya.

9. Apa pesan Bapak kepada para pendidik/pengajar para siswa, seperti guru, pembina ekstrakurikuler, instruktur kajian keislaman, dsb supaya bisa mencetak generasi penjawab tantangan zaman?

Jadi, guru ekstra atau intra, semua punya kewajiban mengantarkan anak-anak dalam pembentukan karakter yang baik terutama kalau Islam ya karakter yang Islami itu. Kemudian (guru) mengembangkan  dan memfasilitasi potensi yang dimiliki oleh anak-anak supaya mereka bisa berprestasi baik akademik maupun nonakademik. Yang terakhir adalah guru juga memberi wawasan yang luas dan global kepada anak-anak supaya memiliki daya saing yang luar biasa dan mampu menghadapi tantangan zaman saat ini atau pada masa depan.

10. Apa pesan Bapak kepada para mahasiswa yang berada di fakultas keguruan supaya kelak mereka bisa menjadi pendidik yang baik?
Jadi, saya berharap kepada mahasiswa yang calon guru, yakinlah bahwa apa yang menjadi cita-cita untuk menjadi guru, saya yakin itu merupakan cita-cita yang mulia. Mohon nanti jadi guru yang sungguh-sungguh biar hidup itu punya nilai. Jadi, kita jariyah-kan usia kita untuk membangun karakter anak bangsa, mencerdaskan anak bangsa, dan nanti ke depan bangsa kita insya Allah menjadi bangsa yang lebih baik.

Jadi yang terpenting adalah kesungguhan kita untuk menjadi guru. Kita harus yakin bahwa guru adalah profesi yang mulia dan kita niatkan untuk ibadah, kemudian kita harus ikhlas. Hidup ini kan punya nilai dan makna kalau kita bisa berbuat baik untuk orang lain apalagi untuk anak bangsa yang nantinya akan meneruskan perjuangan-perjuangan kita. Dengan itu harapannya bangsa ini ke depannya bisa menjadi lebih baik, berwibawa, dan bermartabat, serta setidaknya sejajar dengan negara-negara maju saat ini.

*Wawancara dilakukan di ruang kepala SMA Muhammadiyah 2 Surabaya pada Kamis, 17 November 2016, pukul 11.45 WIB.

Advertisements