Bagian pertama tulisan ini memuat tiga belas petunjuk dalam Alquran. Petunjuk-petunjuk itu secara umum meliputi perintah untuk menggunakan akal, berbuat baik, dan berusaha secara optimal. Pada bagian kedua ini terdapat tiga belas petunjuk pula. Semoga kita menjadi orang-orang yang beruntung dan mendapatkan kebaikan di dunia maupun di akhirat.

  1. Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu.” (Yunus[10]: 108)
  2. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (Al Anbiyaa’[21]: 35)
  3. Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Al ‘Ankabuut[29]: 8)
  4. (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Luqman[31]: 16)
  5. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (Al Ahzab[33]: 7071)
  6. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. (Asy Syuura[42]: 40)
  7. Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah (pula sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran. (Al Mu’min[40]: 58)
  8. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Luqman[31]: 18)
  9. Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (Al Israa’[17]: 37)
  10. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka (kecurigaan), sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Al Hujuraat[49]: 12)
  11. Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Luqman[31]: 12)
  12. Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (Al Furqaan[25]: 63)
  13. Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maaidah[5]: 100)

*Menurut Purwanto (2012), di dalam al-Qur’an ada 48 kata akal yang bersifat aktif (fi’il mudhari’) dan hanya 1 kata akal yang bersifat lampau (fi’il madi) yang berbicara tentang sejarah. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai hamba Allah kita harus menggunakan akal pikiran sehat, baik ketika melakukan ritual ibadah maupun muamalah, seseorang hamba dilarang untuk mengerjakan amal perbuatan kalau tidak didasarkan pada ilmu pengetahuan (QS: Al-Isra’ (17): 36) (Kutipan buku Membaca Muhammadiyah; Refleksi Kritis Anak Muda Lintas Isu halaman 121)

*Manusia diberi akal pikiran, kemampuan, kemauan, dan kebebasan untuk mewujudkan perbuatannya. Tetapi dalam hal apa akal pikiran, kemampuan, kemauan, dan kebebasan itu dipergunakan untuk kebaikan atau keburukan itu adalah hak manusia untuk melakukannya sebagai konsekuensi kebebasan yang diberikan kepadanya. (Kutipan buku Nikmatnya Iman Menenangkan Hati dan Pikiran halaman 141)

*Lebih dari itu, manusia juga diberi kemerdekaan untuk bebas memilih hidupnya sendiri hingga setiap pribadi memiliki self drive-nya masing-masing. Sungguh luar biasa pemberian-Nya kepada manusia sehingga tanpa terasa sebenarnya kita bekerja dan mengorbit dalam sistem kepemilikan-Nya (Kutipan buku Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi & Spiritual; ESQ Emotional Spiritual Quotient Jilid 1 Edisi Revisi halaman 216)

(Sumber gambar: https://www.elmina-id.com/5-tips-efektif-agar-anak-mencintai-al-quran-sejak-dini/)

Advertisements