Saya pernah mendapat materi perkuliahan tentang perkembangan kognitif dan sosial anak. Materi tersebut ada di dalam mata kuliah psikolinguistik. Dari nama itu terlihat bahwa mata kuliah tersebut membahas tentang hubungan antara psikologi dan bahasa. Tugas yang pernah diberikan oleh dosen adalah mengobservasi ujaran anak usia 3―7 tahun. Ternyata setelah saya dan kawan-kawan sekelas melakukan tugas itu dan mempresentasikannya, kami menemukan hal-hal yang menarik, bermanfaat, dan suatu pembelajaran hidup. Saya menguraikannya sebagai berikut.

1. Bersyukur Secara Optimal
Kita tentu tahu bahwa ujaran anak kecil masih belum lancar dan pelafalannya kurang jelas. Sesuatu yang diucapkan olehnya sering menimbulkan makna yang ambigu. Kami juga menemui realitas tersebut ketika observasi. Di sisi lain gerakan tubuh anak kecil juga sangatlah terbatas. Cara berpikirnya pun masih sangat sederhana. Itulah kondisi anak kecil pada umumnya.

Masa setelah anak-anak adalah remaja lalu dewasa. Berbeda dengan anak-anak, remaja dan dewasa memiliki kelancaran bicara yang sangat baik. Fisiknya pun bisa bergerak lebih bebas. Cara berpikirnya juga lebih kompleks. Kondisi itu jauh berbeda dengan saat mereka masih kecil. Bila kita telah remaja atau dewasa, apakah kita menjalani hidup ini dengan begitu saja tanpa pernah bersyukur? Amatlah sombong orang-orang yang seperti itu. Mereka tidak mengingat atau mempelajari masa kecilnya.

Bagaimana caranya bersyukur? Mengucapkan alhamdulillah merupakan cara yang paling sederhana. Namun, cara terbaik untuk bersyukur adalah dengan mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki. Contohnya, bila seseorang pandai dalam berkomunikasi, berbicara di depan umum, orang itu bisa terus mengasah kemampuannya. Caranya bisa dengan sering berlatih, meminta saran teman, dan lebih sering berbicara di depan umum. Jika seseorang memiliki akal yang cerdas, orang itu bisa meningkatkan kemampuannya dengan cara lebih sering menggunakan akalnya untuk kebaikan. Intinya, cara bersyukur terbaik adalah dengan selalu menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk suatu kebaikan.

*Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim[14]: 7)

*Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (Ar Ruum[30]: 54)

2. Bersikap Secara Baik
Ketika anak kecil tidak mendapat sesuatu yang diinginkan, dia akan menangis. Bila anak kecil sedang marah, mungkin barang-barang di sekitarnya akan diacak-acak atau dilempar. Begitulah anak kecil dengan sifatnya yang ‘khas’. Orang-orang di sekitar pun terutama orangtuanya dibuat sangat repot karena sikapnya.

Kita tentu pernah menemui orang yang sikapnya masih seperti itu. Kita tentu tahu bahwa manusia memiliki perasaan. Namun, kita juga tahu bahwa seharusnya orang-orang yang lebih tua dari anak kecil, remaja atau dewasa, bisa mengontrol emosinya. Bila tidak, sejatinya orang itu masih memiliki sifat seperti anak kecil.

Berbicara mengenai perasaan atau emosi, sejatinya remaja memiliki emosi yang masih labil. Emosi bukan berarti marah. Emosi adalah luapan perasaan seseorang seperti senang, sedih, dan marah. Apakah emosi yang labil itu dibiarkan saja? Menganggap bahwa emosi yang labil adalah hal yang wajar? Tidak. Sesungguhnya emosi bisa dilatih supaya bisa stabil. Berlatih mengontrol emosi merupakan hal yang harus dilakukan setiap orang khususnya remaja. Hal itu dikarenakan remaja pada umumnya memiliki emosi yang labil sehingga mereka berperilaku negatif. Selain emosi, akal pun perlu dilatih sehingga bisa berpikir imiah dan objektif. Mengapa? Karena akal dan emosi (perasaan) bisa menentukan sikap atau perilaku seseorang, apakah masih sama atau berbeda dengan sikap dan perilaku anak kecil.

Beberapa tahun lalu kata galau menjadi populer. Galau diartikan sebagai perasaan tidak menentu dalam diri seseorang, bimbang. Remaja sering mengalami hal ini terutama bagi yang menjalin hubungan asmara dengan lawan jenisnya. Saat menempuh pendidikan tingkat sekolah, saya melihat teman-teman yang galau lebih sering murung atau menangis. Ada pula yang melempar ponselnya ke dinding kelas hingga rusak. Saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi pun masih saja saya temukan realitas seperti itu. Melalui ayat-Nya, Allah telah menyuruh hamba-Nya supaya memiliki jiwa yang stabil dan berbuat baik.

*Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali ‘Imran[3]: 139)

*Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan. (Al Qashash[28]: 84)

3. Bersiap Secara Sabar

Wes meneng.o gak usah ngomong ae!” (sudah diam saja jangan banyak bicara!)

Apa yang ada di benak Anda ketika seorang anak kecil berkata seperti itu pada orang lain? Seorang kawan saya mendapat perkataan seperti itu ketika mengobservasi seorang anak kecil. Dia bercerita bahwa bila anak tersebut banyak bertanya, Ibunya akan berkata, “Wes meneng.o ae!” (sudah diam saja!). Akhirnya, dia pun meniru. Setelah mendengarkan cerita itu, dosen saya berkata bahwa ucapan tersebut justru bisa mematikan kreativitas dan imajinasinya.

Ada lagi realitas yang lain. Terdapat seorang anak kecil yang belum bisa berbicara secara lancar padahal anak-anak seusianya sudah bisa. Dia tidak memiliki kelainan pada alat ucapnya (pita suara, lidah, langit-langit, dsb). Kawan saya berkata bahwa dia jarang diajak berbicara oleh orangtuanya karena mereka sibuk bekerja. Akhirnya, pemerolehan bahasanya pun terhambat.

Anak yang saya observasi tidak seperti dua peristiwa tersebut. Namun, ada suatu pengalaman yang miris. Saya pernah mendengar seorang Ibu muda, berusia sekitar 21―25, berkata pada anaknya yang balita dengan nada tinggi, “Koen iku koyok t4ek, haduh!” (kamu itu seperti kotoran, aduh!). Dia berkata seperti itu karena anaknya tidak mau tenang ketika dimandikan di luar rumah. Saya memiliki hipotesis terkait dampak ucapan itu. Pertama, dia akan menjadi anak yang sangat pemurung karena dimarahi terlalu keras. Kedua, suatu saat dia akan berperilaku sangat buruk kepada orangtuanya karena pernah diperlakukan seperti itu. Perlakuan seperti itu telah masuk di alam bawah sadarnya.

Segala ucapan, tindakan, pola pikir, dan kondisi perasaan anak kecil dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan terdekat bagi anak adalah orangtuanya. Secara umum dia akan meniru mereka. Kita tentu bisa membayangkan kondisi anak bila diasuh oleh orangtua yang tidak baik. Kondisi itulah yang ia bawa setelah melewati masa anak-anak. Oleh karena itu, siapa saja harus melakukan beragam persiapan termasuk peningkatan kualitas diri supaya generasi yang dilahirkan adalah anak-anak yang baik.

Negara memang telah menetapkan usia minimal bagi seorang laki-laki dan perempuan yang akan menikah. Namun, bukan berarti pada usia tersebut seseorang ‘layak’ untuk menikah lalu memiliki anak. Orang yang cerdas tentu bisa mengukur kualitas dirinya. Bila orang itu masih memiliki beberapa ketidaksiapan dalam hal kualitas diri, hendaknya yang dilakukan adalah meningkatkan kualitas diri. Kita pun tahu anak yang berkualitas pada umumnya berasal dari orangtua yang berkualitas pula. Hal yang perlu digarisbawahi adalah kualitas diri bukan berarti harus berpendidikan tinggi, tetapi berpendidikan tinggi bisa berperan dalam upaya peningkatan kualitas diri.

“Aku sumpek, capek, pengen nikah”, “temanku-temanku lho udah nikah semua, aku telat”, “lucu ya anak itu, pengen deh segera punya anak.” Ungkapan-ungkapan seperti itu tentu pernah kita temui. Saya rasa menikah dan memiliki anak bukan satu-satunya solusi supaya tidak penat. Menikah dan memiliki anak juga bukan suatu perlombaan sehingga harus cepat-cepat dilakukan. Selama kita memiliki suatu rencana maka semuanya akan baik-baik saja, tidak perlu terburu-buru. Tentunya rencana yang kita buat harus bersifat matang. Oleh karena itu, mari kita meningkatkan kualitas diri masing-masing dalam hal ilmu dan iman, membuat perencanaan, dan tetap berbakti pada orangtua kita, sosok yang kali pertama membuat diri kita berkualitas.

*Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Luqman[31]: 14)

*Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu, “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Mujaadilah[58]: 11)

*Tidak perlu terburu-buru. Apalagi dalam urusan perasaan. Karena jikalau itu memang spesial, menunggu lama sekalipun itu tetap berharga. Tidak perlu cemas apalagi takut. Apalagi dalam urusan perasaan. Karena jikalau itu memang sejati, kita tidak akan cemas walau sesenti, sejauh apapun pergi, dia akan kembali (Status Facebook Tere Liye)

(Sumber gambar: https://serambimata.com/tag/anak-kecil/)

Advertisements