Pada tanggal 13―15 Mei 2016 lalu saya berkompetisi dengan 44 mahasiswa se-Jawa Timur selama tiga hari. Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Kopertis wilayah VII. Ada tiga jenis tes dalam kompetisi tersebut. Tes yang cukup sulit tentunya adalah memaparkan suatu karya tulis dan menjawab pertanyaan juri dalam bahasa Inggris. Hal itu dikarenakan saya adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), tidak terbiasa berbahasa Inggris. Namun, bukan berarti semua mahasiswa PBSI di negeri ini lemah dalam hal berbahasa Inggris. Selain tentang berbahasa, ada pula hal menarik yang saya temukan selama berkompetisi. Apa itu? Pelajaran yang bermanfaat sekali, pengalaman yang berkesan di hati, dan kebermaknaan dalam berprestasi. Hal yang tertulis berikut merupakan refleksi atas kompetisi yang telah berlalu.

1. Di Atas Langit Masih Ada Langit
Ungkapan tersebut tentu telah diketahui orang banyak. Dalam hidup ini pasti ada orang-orang yang lebih baik dari kita. Meskipun kita sangat kaya, sangat pandai, atau sangat rupawan, orang-orang yang lebih kaya, lebih pandai, atau lebih bagus wajahnya pasti ada di suatu tempat. Bisa jadi kita adalah yang terpandai di kelas, sekolah, atau kampus. Namun, bukan berarti kita tetap menjadi yang terpandai bila dibandingkan dengan kelas, sekolah, atau kampus lain. Mungkin kita merasa termasuk aktivis yang terhebat dalam suatu organisasi. Akan tetapi, bukan berarti kita boleh terlalu berbangga diri. Bisa jadi masih banyak di luar sana aktivis yang lebih hebat.

Ada dua hal yang hendaknya dilakukan terkait realitas yang telah disebutkan sebelumnya. Yang pertama adalah tetap bersikap rendah hati, tidak sombong. Sikap sombong akan mengakibatkan orang-orang menjauh, tidak mau akrab dengan seseorang yang sombong. Lebih dari itu Tuhan pun bisa ‘menjauh’ juga darinya.

*Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Luqman[31]: 18)

*Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (Al Furqaan[25]: 63)

Hal kedua yang hendaknya dilakukan adalah tetap belajar. Makna dari belajar tidak sekadar menerima materi dari guru, dosen, atau instruktur. Belajar adalah suatu proses yang dilakukan secara aktif dan integratif hingga tercapai suatu perubahan aspek-aspek kepribadian (Rusuli, Izzatur. 2014. Refleksi Teori Belajar Behavioristik dalam Perspektif Islam. Jurnal Pencerahan volume: 8, nomor: 1, halaman: 38―54, ISSN: 1693 – 7775). Berdasarkan pengertian tersebut maka belajar bisa dilakukan semua orang, setiap saat, dan di segala tempat. Hal itu tentu bergantung dari kesungguhan dan kesadaran kita sebagai makhluk yang berakal.

*Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya (Yunus[10]: 100)

2. Tetap Bersikap Percaya Diri dan Menerima
“Sudahlah, Mas! Sampean itu gak usah minder. Ngapain? Sampean lho punya kemampuan”! Kalimat bernada tinggi tersebut pernah diucapkan oleh kawan saya, seorang mahasiswi angkatan 2014. Awalnya, kami diskusi santai tentang organisasi hingga akhirnya kalimat tersebut muncul. Namun, hal tersebut secara tidak langsung menyadarkan diri ini.

Dalam suatu kompetisi hal yang hendaknya dilakukan adalah meyakinkan diri. Sebaik apapun persiapan yang dilakukan maka hasilnya akan kurang optimal bila tidak yakin. Istilah lain dari yakin adalah optimistis. Namun, sikap tersebut tentunya harus dilandasi oleh sikap realistis. Ketika berkompetisi, saya memetakan gambaran umum tentang kemampuan 44 mahasiswa tersebut. Simpulannya? Peluang saya untuk menang sangatlah kecil. Meskipun begitu, diri ini tetap berkompetisi secara optimal dan percaya diri. Hasilnya? Saya tidak termasuk enam peserta terbaik yang ditentukan oleh lembaga penyelenggara kompetisi itu. Hal tersebut bukanlah suatu masalah yang sangat besar karena…

*Tenang saja, ketika sesuatu yang kita anggap baik berakhir, ketika kita kehilangan seseorang yang kita nilai spesial, ketika sebuah kesempatan emas hilang maka, tenang saja, akan datang sesuatu pengganti yang lebih baik, seseorang yang lebih istimewa, pun kesempatan emas lainnya. Pastikan saja syaratnya terpenuhi: bersabar. Bagi orang2 bersabar, selalu datang hal-hal baik sebagai pengganti hal-hal sebelumnya. (Status Facebook Tere Liye)

3. “Sunatullah Itu Tampak Begitu Nyata”
Kalimat tersebut terucap dalam hati ketika juri mengumumkan nama para pemenang. Tentu saja secara sunnatullah hasilnya tidak seperti yang diharapkan, teraihnya sebuah kemenangan. Mengapa? Hal itu kembali lagi pada sunatullah. Orang yang sangat berprestasi tentu dinilai lebih baik oleh juri daripada orang yang hanya cukup berprestasi. Prestasi yang dia raih pun pasti melalui beragam proses. Apapun agamanya selama prosesnya baik dan tidak terganggu realitas lain maka hasilnya juga baik. Sesering apapun doa yang dipanjatkan oleh seseorang selama dia tidak berproses, prosesnya kurang baik, atau ada realitas pengganggu maka hasilnya tidak akan baik. Pernyataan itu bukan berarti meremehkan fungsi doa. Itulah sunatullah. Contohnya, bila ingin mendapatkan banyak pengetahuan dan menjadi pandai, hal yang bisa dilakukan adalah dengan cara sering menyimak, mengamati, atau membaca tentang suatu ilmu, tidak sekadar berdoa saja.

*Kegiatan membaca itu sangat penting dalam memperoleh informasi, karena dengan membaca orang akan mendapatkan berbagai macam pengetahuan. Bahkan sering di antara kita mendengar ungkapan yang mengatakan bahwa membaca merupakan jembatan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. (Putri, Ari Cahyani dkk. 2014. Pengaruh Metode Pembelajaran SQ3R Terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Kelas V SD. Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Volume: 2, Nomor: 1, Tahun 2014)

Segala sesuatu di dunia ini memiliki sunnatullah. Hukum Allah, istilah umumnya adalah hukum alam, akan selalu berlaku. Manusia sebagai makhluk berakal harus bisa menyikapi dan memikirkan sunatullah itu secara baik. Hal tersebut dilakukan terhadap sunatullah tentang manusia maupun sunnatullah tentang alam.

*Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali ‘Imran[3]: 190 dan 191)

Tibalah kita pada akhir catatan ini. Pada dasarnya setiap orang pasti memiliki kemampuan. Siapa saja pasti mempunyai potensi. Kemampuan dan potensi tersebut perlu diasah secara konsisten. Kita tidak perlu merasa rendah diri. Hal yang selanjutnya dilakukan adalah mengaktualisasikan kemampuan dan potensi tersebut. Aktualisasinya bisa berupa membuat karya di suatu organisasi, komunitas, instansi, masyarakat, atau yang lainnya. Berkompetisi secara etis juga merupakan bentuk lain dari aktualisasi kemampuan dan potensi yang dimiliki.

Advertisements