Semua orang tentu memiliki tanggal yang dianggap istimewa. Contohnya adalah tanggal lahir, tanggal kelulusan dari sekolah atau perguruan tinggi, tanggal pernikahan, atau tanggal saat seseorang telah mencetak prestasi yang sangat hebat. Hal yang dibahas dalam catatan ini adalah tanggal lahir. Orang-orang mengistilahkannya dengan ulang tahun bila tanggal itu tiba.

Secara harfiah ulang tahun diartikan sebagai bertambahnya usia seseorang tepat satu tahun yang acuannya bisa menggunakan kalender masehi atau hijriah. Ada pula yang memaknainya secara filosofis. Ulang tahun dimaknai sebagai momentum semakin menjauhnya seseorang terhadap tanggal kelahiran dan semakin mendekatnya dia terhadap waktu kematian. Tidak masalah bila seseorang merasa senang saat hari ulang tahunnya tiba. Yang menjadi masalah adalah bila kesenangan itu diwujudkan dalam bentuk perbuatan-perbuatan yang melanggar norma.

Sebenarnya ada beberapa cara bijak yang bisa dilakukan saat ulang tahun tiba. Pada tulisan Memaknai Ulang Tahun dalam Kehidupan terdapat tiga hal itu, yaitu evaluasi diri, meningkatkan kualitas diri, dan membuat perencanaan beserta targetnya. Pada bagian kedua ini terdapat empat hal yang dipaparkan sebagai kelanjutan dari bagian pertama. Semoga menginspirasi dan memotivasi.

1. Bersikap Lebih Dewasa
Telah dikatakan sebelumnya bahwa ulang tahun memiliki makna bertambahnya usia seseorang tepat satu tahun. Dengan demikian, bisa jadi ada pertumbuhan fisiologis dan pasti ada perkembangan psikologis yang terjadi pada orang itu. Namun, pada bagian ini kita fokus pada perkembangan psikologis.

Remaja pada umumnya memiliki kondisi kejiwaan yang tidak stabil. Beberapa sikapnya seperti anak-anak, tetapi ada pula sikap yang seperti orang dewasa. Di situlah letak kelabilan jiwa remaja. Lewat tibanya ulang tahun inilah momentum untuk berubah juga tiba. Beberapa sikap yang terlalu seperti anak-anak hendaknya dikurangi secara bertahap. Tentu sangatlah sulit bahkan mustahil untuk menghilangkan secara cepat dan keseluruhan sikap tersebut. Mengapa? Karena itu memang sudah sunnatullah. Perkembangan psikologis pasti berjalan secara bertahap. Mengubah sikap atau karakter memang sulit. Namun, setiap manusia memiliki kebebasan dan kehendak sehingga hal yang sulit pun bisa dilakukan.  Bila memiliki tekad yang kuat dan kondisi lingkungan yang mendukung, hal itu bisa menjadi mudah.

*Manusia diberi akal pikiran, kemampuan, kemauan, dan kebebasan untuk mewujudkan perbuatannya. Tetapi dalam hal apa akal pikiran, kemampuan, kemauan, dan kebebasan itu dipergunakan untuk kebaikan atau keburukan itu adalah hak manusia untuk melakukannya sebagai konsekuensi kebebasan yang diberikan kepadanya. (Kutipan buku Nikmatnya Iman Menenangkan Hati dan Pikiran halaman 141)

*Lebih dari itu, manusia juga diberi kemerdekaan untuk bebas memilih hidupnya sendiri hingga setiap pribadi memiliki self drive-nya masing-masing. Sungguh luar biasa pemberian-Nya kepada manusia sehingga tanpa terasa sebenarnya kita bekerja dan mengorbit dalam sistem kepemilikan-Nya (Kutipan buku Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi & Spiritual; ESQ Emotional Spiritual Quotient Jilid 1 Edisi Revisi halaman 216)

2. Sikap Terhadap Orangtua
Kita lahir dari seorang Ibu. Setelah itu kita dirawat dan dididik oleh orangtua, kecuali bagi yang bernasib kurang beruntung. Sangatlah besar jasa orangtua kepada kita, seolah seluruh pikiran, tenaga, jiwa, dan biaya digunakan seoptimal mungkin untuk kita, anaknya. Oleh karena itu, kita wajib membalasnya, meskipun semua yang kita lakukan tidak mungkin sebanding dengan semua yang telah mereka lakukan.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan terkait sikap kita terhadap orangtua. Pertama, kita menaati nasihat yang diujarkan oleh mereka. Tentu nasihat yang kita taati adalah yang tidak bertentangan dengan kelogisan dan keetisan. Allah telah menjelaskannya secara tersirat dalam surat Al ‘Ankabuut[29] ayat ke-8. Kedua, sering-seringlah kita berkomunikasi dengan mereka! Bila tidak bisa sering, sempatkanlah pada sela-sela waktu di antara kesibukan kita. Mengapa? Karena orang yang kali pertama mengajarkan kata-kata dan kalimat kepada kita adalah orangtua. Tentu cara bicara yang digunakan haruslah santun. Bila kondisi pikiran dan hati sedang kacau sehingga tidak mampu mengucapkan perkataan yang baik, lebih baik diam saja, tidak membentaknya. Hal itu senada dengan surat Al Israa’[17] ayat ke-23. Ketiga, persembahkan hal-hal baik kepada mereka! Contohnya adalah prestasi di lingkungan belajar atau bekerja, uang hasil bekerja yang sebagian kita sisihkan untuk mereka, dan sikap kita yang tidak pernah merugikan orangtua dan masyarakat. Masih banyak lagi contoh yang lain. Lewat momentum pertambahan usia inilah kita bisa mulai memperbaiki sikap kepada mereka dan menyesuaikannya dengan kesibukan yang dijalani saat ini.

*Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Al ‘Ankabuut[29]: 8)

*Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (Al Israa’[17]: 23)

3. Kebermanfaatan
Saya pernah mendengarkan suatu ceramah di masjid dekat rumah. Ustaznya berkata bahwa ketika di akhirat nanti, manusia akan ditanya tentang penggunaan umurnya selama hidup, masa hidupnya digunakan untuk kebaikan atau keburukan. Hal itulah yang menjadi acuan tempat berakhirnya manusia kelak di akhirat , surga atau neraka.

Ulang tahun sangat erat kaitannya dengan umur. Belasan atau puluhan tahun telah kita lewati sejak lahir. Pertanyaan mendasar terhadap diri sendiri adalah sudah aku gunakan untuk apa saja usiaku hingga kini? Sebelum ditanya oleh Tuhan, kita bisa bertanya pada diri sendiri lalu menjawabnya. Setelah itu kita dapat berusaha meningkatkan yang baik dan mengurangi atau menghilangkan yang buruk. Berbicara tentang kebaikan, tentu hal tersebut tak lepas dari kebermanfaatan. Orang yang baik di suatu masyarakat adalah yang mampu membawa manfaat bagi mereka. Namun, hal itu pasti membutuhkan suatu proses untuk melakukannya. Tidak apa-apa, kita bisa berproses secara bertahap. Tahap awalnya bisa berupa membawa manfaat bagi teman, saudara, orangtua, organisasi, dan yang lainnya. Akhirnya, perlahan tapi pasti suatu saat kita bisa membawa manfaat bagi masyarakat.

*Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram daripada kejutan yang dahsyat pada hari itu. (An Naml[27]: 89)

*Jangan berpuas diri pada yang hanya “ada”, tetapi harus membuat yang “ada” itu menjadi berguna. (Kutipan buku Sekolah yang Menyenangkan; Kisah-kisah Inspiratif dari Budi Mulia Dua halaman 108)

*Bercita-citalah besar dan berpikirlah maju. Anda tak diciptakan untuk menjadi orang kalah, namun sebagai wakil Allah di bumi untuk memberikan kemajuan dan kesejahteraan. Setiap langkah yang Anda buat, haruslah merupakan langkah-langkah kemenangan. (Kutipan buku Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi & Spiritual; ESQ Emotional Spiritual Quotient jilid 1 edisi revisi halaman 120)

4. Syukur
Hidup kita sungguh bergelimang dengan nikmat dari Allah. Kita, hamba-Nya, memanglah benar tidak bisa menghitung jumlah nikmat yang telah dianugerahkan. Udara yang selalu kita hirup, jantung yang tak lelah berdetak, serta penglihatan dan pendengaran yang senantiasa kita gunakan hanyalah secercah nikmat dari-Nya.

Manusia lahir dalam keadaan lemah. Meskipun lemah, manusia telah diciptakan secara unggul dan penuh perhitungan oleh Tuhannya. Seiring berjalannya waktu ia menjadi lebih kuat. Fisik dan jiwanya telah berfungsi secara baik. Idealnya, bila seseorang diberi sesuatu, hendaknya dia berterima kasih kepada si pemberi. Hal itu pun juga berlaku pada manusia terhadap nikmat yang telah diberikan oleh Tuhannya. Namun, manusia yang bersyukur ternyata hanyalah sedikit. Andaikan bersyukur pun, kadar syukurnya tidaklah banyak, sedikit. Allah menyatakan hal itu sebanyak tiga kali dalam Alquran, yaitu dalam surat As Sajdah[32] ayat ke-9, Saba’[34] ayat ke-13, dan Al Mulk[67] ayat ke-23.

Dengan adanya realitas itu, hanya sedikit manusia yang bersyukur, marilah kita menjadi golongan orang-orang yang sedikit tersebut. Maksudnya, kita bisa menjadikan diri sendiri sebagai orang yang pandai dalam hal bersyukur. Lebih baik lagi bila kita bisa membuat orang lain menjadi manusia yang pandai bersyukur. Bagaimana cara bersyukur yang baik? Ada beragam cara seperti mengucapkan alhamdulillah, menggunakan nikmat-Nya untuk kebaikan, dan mengasah potensi yang ada di dalam diri. Akhirnya, wujud nyata syukur kita akan bisa berguna untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitar. Ulasan lebih lanjut tentang syukur ada di catatan Mensyukuri Nikmat Pemberian Allah. Lewat momentum pertambahan usia inilah kita bisa menghayati besar tidaknya rasa syukur kita kepada Allah. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang pandai bersyukur. Aamin.

*Allah SWT menciptakan manusia secara sempurna, unggul dan dengan perhitungan yang cerdas. (Kutipan buku Membaca Muhammadiyah; Refleksi Kritis Anak Muda Lintas Isu halaman 159)

*Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Luqman[31]: 12)

*Hidup kita memang tidak sempurna. Tapi kita bisa membuatnya lengkap dengan selalu berterima-kasih. Hidup kita memang tidak hebat nan menakjubkan. Tapi kita bisa membuatnya utuh dengan senantiasa bersyukur. Apapun situasinya. Sekali kita bersyukur, selesai sudah. Keinginan ini-itu akan padam. Kekecewaan dan penyesalan akan hilang. Kesal, marah, dsbgnya berguguran. Cobalah. (Status Facebook Tere Liye)

(Sumber gambar: http://www.katamami.com/archives/category/ucapan/ucapan-selamat-ulang-tahun)

Advertisements