Saya pernah berbincang sebentar dengan seorang mahasiswi semester empat. Sebelumnya kami pernah dua kali bekerja sama dalam divisi kepanitiaan yang sama. Ada suatu pelajaran yang bisa diambil meskipun percakapan kami sederhana. Berikut kutipan percakapannya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Saya: “Kamu mengajar les tiap harikah?”

Dia: “Iya. Apalagi kalau hari-hari tertentu, aku mengajar les dua anak.”

Saya: “Wah, itu bagus. Berarti kalau malam, menyisakan rasa lelah saja ya? Tidur saja maksudnya.”

Dia: “Tidak, Mas.”

Saya: “Kamu lho pagi sampai siang kuliah lalu ketika sore mengajar les.”

Dia: “Iya, tapi kalau malam aku cuci-cuci piring terus belajar. Aku tidurnya pukul 12 malam. Kadang juga sebelum tidur aku diskusi atau bercanda dengan kawan-kawan film di Bandung.”

Saya: “Owalah, pantas saja kamu cerdas, cara berbicaranya bagus, dan energik. Otakmu lho kamu pakai terus buat mengajar dan belajar, sering berbicara juga, dan selalu beraktivitas.”

Dia: “Iya juga sih, Mas.”

Apa yang bisa dipetik dari percakapan tersebut? Sederhana saja, tetapi itu sangat bermakna. Kita telah diberikan banyak sekali nikmat oleh Sang Maha Pengasih. Nikmat yang melekat pada diri berupa akal, perasaan, nyawa, dan fisik. Bila satu di antara empat hal itu hilang, predikat sebagai manusia dalam diri seseorang pun juga hilang.

Berbicara tentang nikmat tentunya tidak jauh dari bersyukur. Setiap manusia hendaknya mensyukuri karunia yang telah diberikan oleh Allah, penciptanya. Cara bersyukur yang sederhana adalah dengan mengucapkan “Alhamdulillah”. Namun, ada cara bersyukur yang lebih baik. Mengoptimalkan sebaik mungkin segala anugerah yang telah diberikan merupakan cara tersebut. Dengan begitu maka potensi yang dimiliki oleh seseorang akan semakin meningkat. Bila ia sering berpikir, orang itu akan menjadi semakin cerdas. Jika sering menghadapi masalah, pasti mentalnya akan semakin terlatih. Kalau sering beraktivitas, semangat dan ketahanan fisik akan meningkat. Orang yang pandai berkomunikasi juga hampir dipastikan berproses dengan cara yang sama, sering memaksimalkan kemampuan berkomunikasinya secara konsisten dan baik.

Manusia berbeda dengan mesin. Bila mesin sering digunakan, secara alamiah mesin akan semakin lemah fungsinya, menjadi aus. Namun, jika akal, perasaan, dan fisik manusia sering digunakan secara konsisten dan baik, fungsi ketiganya justru bisa meningkat. Realitasnya, ada beberapa orang yang kualitasnya lebih rendah daripada orang lain yang usianya lebih muda darinya. Hal itu mungkin bisa terjadi karena cara bersyukur mereka yang berbeda. Tentu orang yang lebih muda tadi telah sangat bersyukur dengan cara memaksimalkan potensinya. Oleh karena itu, hendaklah kita memahami potensi yang ada di dalam diri. Cukup disayangkan bila seseorang tidak mengetahui potensi yang ada dalam dirinya. Setelah mengetahui potensinya, hendaknya kita mensyukurinya, memaksimalkan potensi tersebut untuk kebaikan tanpa melupakan kewajiban-kewajiban yang diemban. Potensi itu akan meningkat dan kemampuan kita akan bertambah. Mungkin hal itu yang dimaksudkan Allah dalam sebuah firman-Nya. Jika bersyukur, memaksimalkan potensi atau nikmat yang dimiliki, akan ditambah nikmat, potensi, tersebut oleh-Nya.

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”(Luqman[31]: 12)

(Sumber gambar: http://introductislam.blogspot.co.id/2014/09/tentara-allah-meliputi-seluruh-alam.html)

Advertisements