Setiap manusia pasti pernah menjalani peran ketika hidup. Peran yang dimaksud dalam tulisan ini bukanlah karakter yang dimainkan seseorang ketika sedang melakukan drama. Namun, peran dimaknai sebagai kontribusi yang dilakukan seseorang dalam suatu organisasi, instansi, masyarakat, keluarga, atau yang lainnya. Kontribusi tersebut bisa berupa pikiran, tenaga, atau dana. Entah berperan secara besar atau kecil, hal terpentingnya adalah seseorang yang memiliki kemampuan mau untuk berperan. Hal itu disebabkan adanya beberapa nilai penting dari suatu peran.

1. Kebermaknaan

“Peran bisa membuat seseorang lebih berharga dan bermakna.”

Itu adalah ucapan dari seorang pemateri pada suatu seminar di kampus Universitas Muhammadiyah Surabaya. Peran yang dilakukan seseorang memang bisa membuatnya seperti itu, berharga dan bermakna. Mengapa? Karena melalui peran yang dijalani, seseorang akan mengerti nilai penting keberadaannya. Bayangkan bila ada seseorang yang tidak mengerti fungsi keberadaannya! Secara alamiah dia akan bingung dan merasa dirinya tak berarti. Pada titik tertentu dia akan mengalami frustrasi eksistensial. Pertanyaan mendasar untuk apa dia hidup dan untuk apa dia di sini takkan mampu dijawabnya. Jangan sampai keberadaan kita dianggap tidak penting! Maksudnya, ada atau tidaknya kita merupakan hal yang sama, tak ada bedanya. Oleh karena itu, hendaknya setiap orang memiliki peran di tempat ia berada. Meskipun begitu, hal yang harus dihindari adalah hanya mencari penghargaan dari manusia ketika menjalani suatu peran.

2. Konsistensi

“Kamu masih merasa bagian dari sini kan, Fik?”

Itu adalah pertanyaan retoris yang ditujukan kepada diri ini sekitar Mei akhir 2016 yang lalu. Mendengarkan pertanyaan seperti itu, saya pun tertawa. Pertanyaan tersebut sudah jelas jawabannya: iya. Adanya peran akan membuat seseorang terikat dengan suatu organisasi, instansi, masyarakat, keluarga, atau yang lainnya. Tentu makna terikat tidak dimaknai sebagai suatu keterpaksaan. Namun, terikat dalam konteks ini dimaknai sebagai sikap menyatu dan konsisten tetap bersama untuk satu tujuan. Bila seseorang memiliki peran yang jelas, lalu ada sistem kontrol yang baik, hampir dapat dipastikan ia akan konsisten di tempat ia berada. Dengan kata lain peran merupakan sarana pemersatu. Namun, yang perlu diingat adalah tempat ia berada harus baik. Begitu pun juga dengan orang-orang di dalamnya dan sistem kontrol yang ada. Bila tidak, sangatlah sulit orang tersebut untuk tetap konsisten.

3. Pengingat

“Samean lho bisa menulis sesuatu, puisi, cerpen, atau yang lain. Jadi, ya berperan sekaligus mengingatkan diri.”

Sekitar Maret 2016 yang lalu saudariku berkata seperti itu. Meskipun dia berusia lima tahun lebih muda, diri ini sepakat dengan jalan berpikirnya. Dengan demikian, suatu ilmu bisa diperoleh dari siapa saja. Mengapa saya sepakat? Misalnya, ada seorang guru agama yang setiap hari mengajarkan nilai-nilai keislaman, kisah para rasul, akhlak yang baik, dan yang lainnya. Selain mengingatkan para siswa tentang kebaikan, dia juga mengingatkan dirinya secara tidak langsung. Oleh karena itu, terkadang ustaz yang ceramah sebelum salat Jumat sering berkata, “Saya mengingatkan para jamaah pada umumnya dan diri saya sendiri pada khususnya untuk tetap berada di jalan-Nya.”

Idealnya, perilaku guru atau ustaz tersebut sesuai dengan yang diucapkannya. Akan tetapi, bagaimana dengan berita tentang guru agama yang berbuat asusila? Sebenarnya hal tersebut sangatlah ironis. Lisannya tidak sejalan dengan perilakunya. Ada dua dampak buruk yang terjadi terkait peristiwa itu. Pertama, orang akan enggan memberi suatu nasihat karena ia takut tidak bisa menjalani nasihatnya padahal setiap orang dianjurkan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran (Al ‘Ashr[103]: 3). Kedua, orang bisa memiliki anggapan bahwa semua guru agama, ustaz, atau ustazah sama saja, semuanya buruk. Anggapan dengan cara berpikir generalisasi tersebut tidaklah baik. Bila tidak memiliki pendasaran yang kuat atau tidak mengetahui suatu hal, kita dilarang untuk mengikutinya dan membuat simpulan karena akan ada suatu pertanggungjawaban terkait itu (Al Israa[17]: 36)

4. Aktualisasi

“Teori Abraham Maslow (tentang hierarki kebutuhan dasar manusia) pada zaman sekarang seolah tidak berlaku. Orang kalau sudah beraktualisasi diri dan sangat nyaman, bisa-bisa dia lupa atau tidak ingin segera makan (untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya).”

Saya masih ingat sekitar April 2016 lalu seorang dosen pernah berkata seperti itu. Awalnya diri ini hanya ingin bimbingan PKM. Namun, ucapan tersebut tidak sengaja terdengar darinya yang sedang diskusi. Makna dari aktualisasi diri adalah mengeluarkan kemampuan yang dimiliki seseorang secara optimal untuk suatu tujuan. Contohnya, seseorang yang memiliki imajinasi dan wawasan yang baik bisa mengaktualisasikan diri dengan cara membuat tulisan fiksi. Seseorang yang paham ilmu tentang kimia bisa mengaktualisasikan diri dengan cara mengajarkan kimia, melakukan penelitian, dan menjadi pembicara pada suatu seminar tentang kimia. Masih banyak contoh yang lain. Tugas atau peran yang dimiliki hendaknya dijadikan sarana aktualisasi diri, bukan suatu keterpaksaan. Mengapa? Peran yang dijadikan sarana aktualisasi diri bisa berlangsung secara optimal dan menyenangkan.

Sebenarnya peran atau aktualisasi diri yang dijalani seseorang bisa meningkatkan kemampuannya. Orang yang sering menulis maka kualitas tulisannya bisa menjadi lebih baik. Orang yang sering membuat konsep maka konsep-konsepnya dapat menjadi lebih matang, penuh perhitungan. Bayangkan bila ada suatu keterpaksaan terhadap peran yang dijalani! Selain merugikan diri sendiri, pelaku peran tersebut juga bisa merugikan orang lain dalam suatu kelompok.

(Sumber gambar: http://setiafurqon.com/motivasi-hidup-sukses.html)

Advertisements