Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Surabaya telah berakhir. Selama satu bulan para mahasiswa mengabdi di masyarakat dalam bentuk pelaksanaan program kerja kelompok. Ada tiga kota yang menjadi lokasi KKN, yaitu Bojonegoro, Lamongan, dan Surabaya. Semua lokasi KKN tentu memiliki dinamika masing-masing.

Bojonegoro merupakan tempat terjauh dalam pelaksanaan KKN pada Juli hingga Agustus tahun ini. Dua kecamatan yang menjadi lokasi KKN di sana adalah Kanor dan Trucuk. Tulisan sederhana ini menceritakan tentang beberapa pelajaran hidup yang diperoleh diri ini selama melakukan KKN di Desa Mori, Trucuk, Bojonegoro.

1. Bacalah
Perintah untuk membaca telah terdapat dalam Alquran surat Al Alaq ayat pertama. Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan oleh penulis melalui media bahasa tulis. Arti secara umum dari membaca memanglah demikian. Namun, kita juga mengenal istilah membaca orang dan membaca masyarakat, suatu teknik membaca yang lebih dari itu.

Satu bulan menjelang KKN semua kelompok melakukan survei. Hal tersebut dilakukan untuk membaca kondisi masyarakat secara umum. Hasil membaca itulah yang dijadikan sebagai acuan pembuatan program KKN kelompok. Meskipun KKN telah usai, kemampuan membaca orang dan masyarakat harus tetap dikembangkan dan dijalankan. Hal itu dikarenakan supaya kita tetap dapat bersikap secara bijak kepada orang lain. Seluruh ucapan, tindakan, dan sikap kita sebisa mungkin tidak merugikan orang lain dari segi hati maupun fisik. Namun, sangatlah ironis bila ada orang-orang tertentu yang memanfaatkan kemampuan ini untuk kepentingan yang buruk.

2. Kemampuan dan Kontribusi
Pernah melihat film Divergent? Film itu menceritakan tentang pembagian masyarakat menjadi faksi-faksi tertentu. Factionless merupakan golongan pinggiran dan dianggap tidak berguna. Hal itu dikarenakan mereka tidak memiliki kemampuan tertentu atau berkemampuan rendah dibanding faksi lain. Gambaran tersebut sepertinya sejalan dengan kondisi di masyarakat saat ini.

Setiap orang pasti memiliki kemampuan dan potensi tertentu. Dua hal itulah yang harus dikembangkan. Nantinya orang tersebut bisa turut berkontribusi untuk pembangunan masyarakat. Percayalah! Kebermaknaan akan muncul bila kita kelak bisa turut membangun masyarakat di dunia yang ‘sesungguhnya’. Para peserta KKN yang telah berkontribusi, seperti mengajar, menjadi pemateri sosialisasi, memotensikan lingkungan (penghijauan, pemasangan alat inovasi, perbaikan/pembuatan sarana umum untuk warga, dsb.), serta yang lainnya pasti merasakan kebermaknaan tersebut.

Ada berbagai sektor yang bisa dibangun di masyarakat. Sektor mana yang kelak akan kita bangun tentunya menyesuaikan kemampuan dan potensi yang dimiliki serta kondisi masyarakatnya. Maka dari itu, ayo maju, ayo berkembang, ayo berkarya!

3. Lain Ladang Lain Belalang
Arti dari peribahasa tersebut adalah setiap daerah memiliki aturan yang berbeda. Kita wajib mengerti dan menaati hal itu. Bila tidak, tentu suatu sindiran, teguran, bahkan cemoohan akan diperoleh. Beradaptasi untuk memahami dan melaksanakan aturan itu pun hanya memerlukan waktu relatif singkat. Jadi, tidak ada kendala yang berarti tentunya.

Aturan yang tidak tertulis biasa disebut norma. Ternyata norma di desa ‘lebih kuat’ daripada di kota. Ternyata? ‘lebih kuat’? Ya, saya warga asli Surabaya, tidak memiliki desa. Jadi, segala sesuatu tentang norma di perdesaan hanya mengerti dari cerita saja, tidak pernah mengalami langsung. Di sana hukumnya menyapa orang seolah menjadi benar-benar wajib. Berbahasa Jawa Krama seolah benar-benar sangat dianjurkan. Memang warga dan perangkat desa berkata, “Tidak apa-apa memakai bahasa Indonesia.” Namun, ada respons yang ‘berbeda’ antara penggunaan bahasa Jawa Krama dan bahasa Indonesia kepada mereka. Akhirnya, di mana saja kita berada, pemahaman dan pelaksanaan aturan wajib dilakukan.

4. Dinamika Mengarahkan Orang
Hal yang menjadi program beberapa kelompok adalah sosialisasi. Tujuan dari sosialisasi secara umum adalah memberikan suatu pengetahuan dan wawasan kepada masyarakat. Harapannya adalah pengetahuan dan wawasan tadi bisa turut berguna untuk pengembangan desa.

Realita yang terjadi terkadang tidak sesuai keinginan. Setiap kelompok tentu menginginkan warga yang hadir berjumlah relatif banyak dan antusias. Namun, warga yang hadir bisa jadi tidak banyak dan kurang antusias. Tentu hal itu membuat peserta KKN merasa agak kecewa atau bingung.

Pelajaran yang bisa diambil adalah sampaikanlah pengetahuan atau kebenaran secara sepenuh hati meskipun yang mengikutinya sedikit. Akan tetapi, bukan berarti mengarahkan dan mengondisikan sasaran menjadi tidak penting. Justru hal yang luar biasa bisa terjadi bila kualitas materi yang disampaikan baik dan kuantitas yang memahami serta menerapkan materi berjumlah banyak.

*Terima kasih kepada semua pihak dari kampus dan pihak dari lokasi KKN yang telah memberikan suatu lahan belajar, aktualisasi, dan pengembangan diri kepada kami.

Advertisements