Perjalanan hidup manusia sungguh beragam. Ada sejumlah kejadian yang berkesan, unik, menyenangkan, hingga tragis. Satu di antara banyak hal dalam kehidupan adalah terjadinya titik balik dalam diri seorang manusia. Menurut KBBI, pengertian dari titik balik adalah titik di dalam suatu kurva hasil yang menjadi batas kenaikan hasil mulai berbalik menurun. Jika dihubungkan dengan kehidupan, realitas seperti itu memang ada. Terdapat manusia yang mengalami suatu titik balik hingga menyebabkan pemikiran atau perilakunya berbalik turun, berubah menjadi buruk. Namun, titik balik yang dimaksud dalam tulisan ini bukanlah itu, tetapi justru sebaliknya. Titik balik yang dimaksud adalah perubahan positif secara drastis yang dialami oleh manusia dan menjadikannya sosok yang jauh lebih baik. Ada beberapa momentum yang menyebabkan seorang manusia bisa mencapai titik balik positif tersebut. Penjelasannya diuraikan sebagai berikut.

1. Keinginan Diri yang Kuat
Dua anugerah dari Allah kepada manusia adalah akal dan perasaan. Jika dua hal itu bisa bersinergi, orang itu akan menjadi luar biasa. Akan tetapi, memfungsikan akal dan perasaan secara baik adalah hal yang cukup sulit khususnya bagi remaja. Terkadang fungsi perasaan bisa melemahkan fungsi akal.

Satu di antara semua dampak positif sinerginya akal dan perasaan adalah mampunya seorang manusia mencapai titik balik. Prosesnya dimulai dari menghayati realitas diri sendiri dan lingkungan. Dia berpikir bahwa jika tidak berubah mulai sekarang, keadaannya akan tetap saja. Secara alamiah orang menginginkan sesuatu yang lebih baik. Namun, jika tidak ada dorongan dari dalam diri, hal itu susah atau mustahil terwujud. Akal menuntun manusia untuk memperhitungkan setiap variabel dalam kehidupannya. Perasaan membimbing manusia supaya termotivasi melakukan respons atas perhitungan-perhitungan tadi. Dengan demikian, terciptalah suatu perpaduan yang luar biasa.

*“Kalian mungkin memiliki masa lalu yang buruk, tapi kalian memiliki kepal tangan untuk mengubahnya. Kepal tangan yang akan menentukan sendiri nasib kalian hari ini, kepal tangan yang akan melukis sendiri masa depan kalian” (Kutipan novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye)

2. Penyikapan terhadap Kejadian yang Berkesan
Kawan saya pernah bercerita bahwa dulu dia memiliki mental yang lemah. Suatu saat dia pulang ke rumah sambil menunjukkan sikap lemahnya itu ke Ibunya. Dia menangis. Ibunya malah membawa sapu, marah, lantas berkata, “Kamu kalau seperti ini terus, mending tidak usah pulang! Ayo, jangan begini terus!” Kawan saya menjadi orang yang tangguh sejak peristiwa itu. Awalnya, catatan Facebook ini dibuat karena terinspirasi darinya.

Peristiwa marahnya Ibu kawan saya tadi tergolong sebagai kejadian berkesan buruk. Suatu kejadian yang berkesan baik atau buruk memang bisa mengubah seseorang. Tentunya hal itu bergantung dari cara penyikapan terhadap kejadian itu. Seandainya kawan saya tadi melakukan cara penyikapan yang buruk, mentalnya akan semakin lemah. Namun, dia justru bersikap sebaliknya, menjadikan kejadian itu sebagai titik baliknya. Hal itu juga bisa dikaitkan dengan penyikapan terhadap kejadian berkesan baik. Seseorang tidak akan mencapai titik balik positif bila setiap peristiwa berkesan baik dibiarkan begitu saja, tidak diambil hikmahnya dan tak pernah disyukuri.

*Semua orang melewati proses panjang saat mencapai sebuah titik prestasi. Kita tidak tahu seberapa besar pengorbanan serta perjuangan yang mereka lakukan untuk tiba di titik tersebut. Pun, semua orang melewati banyak hal saat dia akhirnya menjadi seseorang yang kuat. Kita tidak tahu seberapa banyak air mata yang dia tumpahkan untuk tiba di posisi tersebut. (Status Facebook Tere Liye)

3. Pemberian Motivasi dan Perubahan Paradigma
Bahasa mampu memengaruhi pikiran. Pikiran bisa memengaruhi perilaku. Simpulannya, bahasa dapat berpengaruh terhadap perilaku. Beberapa tahun yang lalu kita dihebohkan dengan fenomena cuci otak. Orang-orang dari golongan tertentu memberikan motivasi semu dan mengubah paradigma para pemuda khususnya mereka yang tampaknya Islami. Yang menjadi masalah adalah sesuatu yang disampaikan orang-orang tadi bersifat sangat buruk. Akhirnya, perilaku pemuda tadi mencapai titik balik yang negatif karena paradigmanya telah diubah dan termotivasi oleh dalil-dalil yang disampaikan orang-orang itu. Mereka justru menjauh dari nilai-nilai keislaman. Dampak fenomena itu meluas. Orang-orang yang awam malah menganggap kajian-kajian diskusi keislaman patut dicurigai. Bila perlu diskusi keislaman itu ditiadakan untuk menghindari meluasnya fenomena cuci otak.

Bila dicermati, tampak bahwa di situlah letak hebatnya pemberian motivasi atau pengubahan paradigma seseorang. Bila titik balik negatif bisa terjadi karena dua cara itu, titik balik positif juga dapat terjadi disebabkan oleh dua hal itu. Semakin tinggi motivasi seseorang maka semakin hebat pula titik balik positif yang dicapai. Kita akan bisa melihat perubahannya secara jelas bila mengenal baik orang itu atau akrab dengannya. Efek pengubahan paradigma juga sama dengan pemberian motivasi. Misalnya, ada pelajar atau mahasiswa yang memiliki paradigma yang penting aku lulus, terserah bagaimana caranya. Akhirnya, dia menghalalkan segala cara atau malas-malasan untuk lulus. Pada suatu waktu ia diberi paradigma bahwa belajar secara sungguh-sungguh merupakan wujud syukur kepada Allah dan persiapan diri untuk berkontribusi kepada masyarakat. Dia mengerti dan menjalani kewajibannya secara baik. Akhirnya, perilaku dan pola pikirnya secara perlahan akan mencapai titik balik yang positif.

*Tidak semua orang bisa mengerti apa yang kita lakukan, pilihan yang kita buat, atau keputusan yang kita ambil. Tapi tidak mengapa. Jika kita yakin itu benar, jalani saja dengan yakin, besok lusa akan lebih banyak yang paham. (Status Facebook Tere Liye)

4. Pemberian Peran Secara Konsisten
Satu di antara lima kebutuhan dasar manusia adalah aktualisasi diri. Manusia bisa mengeluarkan segenap kemampuannya melalui proses aktualisasi diri. Secara alamiah pemberian peran secara konsisten akan membuat seseorang mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Tentunya hal itu berlaku jika peran-peran itu dilakukan secara maksimal. Peran tersebut seperti pengurus organisasi, panitia suatu kegiatan, jabatan di sebuah lembaga, atau yang sejenisnya. Secara perlahan kemampuan orang yang memiliki peran tersebut akan berkembang. Bila secara konsisten dia mendapat peran lalu menjalankannya secara baik, titik balik positif akan bisa diraihnya. Mulanya sulit berkomunikasi, akhirnya dia mahir melakukannya. Awalnya sukar menyelesaikan masalah, akhirnya dia malah menjadi rujukan dalam pemecahan masalah. Sejak dulu dia memandang sebuah realitas dari satu sisi saja, kini cara pandangnya telah berubah. Orang yang seperti itu kemungkinan besar telah mendapatkan berbagai pengalaman sangat berharga berupa peran-peran yang pernah dilakukannya.

*Dua puluh tahun dari sekarang, kita akan lebih menyesal atas hal-hal yang tidak pernah kita lakukan, bukan atas hal-hal yang pernah kita lakukan meski itu sebuah kesalahan (Kutipan novel Moga Bunda Disayang Allah karya Tere Liye)

(Sumber gambar: http://wartakota.tribunnews.com/2013/12/01/punya-titik-balik-membuat-badan-sehat)

Advertisements