Saya pernah saling berbalas pesan dengan seorang kawan melaui ponsel. Isi pesannya cukup sederhana, tetapi saya tertarik mengembangkannya menjadi sebuah tulisan. Berikut kutipan pesan tersebut yang telah diubah seperlunya, berbahasa Indonesia dan tidak disingkat supaya mudah dipahami.

(…………….)

Dia: “Hahahaha, ya tidak seperti itulah. Tadi bagaimana acaranya? Lancar?”

Saya: “Hehe, alhamdulilah lancar dan seru karena ada penampilan musik.”

Dia: “Owalah, alhamdulilah kalau begitu.”

Saya: “Untuk mengisi pameran, aku beri saja puisiku yang waktu itu kubuat karena terinspirasi dirimu.”

Dia: “Owalah, hahahaha, aku itu bukan siapa-siapa, Mas. Jadi tidak mungkin menginspirasi.”

Saya: “Setidaknya kerjasama kita kemarin sudah sangat bisa menginspirasi diri ini.”

Dia: “Itu buat Mas Fikri. Mungkin yang lain tidak merasa begitu.”

Saya: “Penilaian tiap-tiap orang berbeda, jadi ya wajar.”

Dia: “Hahahaha, ya sudah tahu aku.”

(……………..)

Saya: “Yang seperti itu memang baik. Oh ya, pernah tidak kamu diam, merenung, dan berpikir kekuranganmu apa saja? Aku merasa masih sangat kurang dalam hal komunikasi dan jaringan. Terkadang masih juga merasa minder karena aku ‘berbeda’ dengan yang lain.”

Dia: “Setiap orang memiliki kekurangan. Aku juga seperti itu. Jadikan kekurangan itu sebagai kelebihan. Dirimu itu pandai jadi tidak perlu minder. Harus yakin bahwa kamu bisa.”

Saya: “Iya juga sih. Aku memang terkadang bisa memotivasi diri sendiri, kadang juga butuh dari orang lain. Terima kasih.”

Dia: “Iya, Mas. Tenang sajalah, tidak perlu minder, hehehe.”

(……………..)

Ada dua pernyataan yang sering kita dengar atau baca dan tampak saling berlawanan. Pernyataan pertama adalah setiap manusia memiliki kecerdasan masing-masing. Secara tersirat pernyataan itu mengungkapkan bahwa setiap orang memiliki kelebihan. Bandingkan dengan pernyataan kedua! Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Secara tersirat terungkap pula bahwa setiap manusia sejatinya memiliki kekurangan.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa setiap manusia memiliki kelebihan. Kelebihan itu bisa berupa kemahiran berkomunikasi, kecerdasan berpikir, kekuatan fisik yang prima, kemampuan memimpin, dan yang lainnya. Jika seorang manusia benar-benar mengenal dirinya, ia akan tahu potensi yang dimiliki. Cukup ironis bila seseorang tidak mengenal dirinya. Oleh sebab itu, sangatlah penting bagi seseorang untuk ‘memetakan’ diri, menentukan letak kelebihan dan kekurangannya.

Secara umum ada dua jenis cara menyikapi kelebihan diri. Pertama, orang itu menyombongkan dirinya, merasa dialah yang terbaik. Tidak cukup sampai di situ, terkadang dia juga sampai merendahkan orang lain padahal belum tentu dia lebih baik dari yang direndahkan atau dihina. Dengan sikap seperti itu memang kelebihannya tidak akan hilang. Namun, bila ia membutuhkan bantuan, orang lain akan enggan atau terpaksa membantunya. Tentunya bantuan yang ikhlas atau terpaksa sangatlah berbeda. Kedua, orang itu tetap rendah hati, merasa dirinya masih kurang dan harus belajar lagi. Di percakapan tampak bahwa ‘dia’ merasa bukan siapa-siapa. Padahal dia telah banyak memberi inspirasi, motivasi, dan kontribusi kepada saya dan yang lainnya. Sikap seperti itulah yang seharusnya dimiliki setiap manusia.

*Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Al Israa’[17]: 70)

*Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum (merendahkan) kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang direndahkan) lebih baik dari mereka (yang merendahkan) dan jangan pula wanita-wanita (merendahkan) wanita-wanita lain, boleh jadi wanita-wanita (yang direndahkan) lebih baik dari yang merendahkan. (Al Hujuraat[49]: 11)

*Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (Al Furqaan[25]: 63)

Ibarat siang dan malam, panas dan dingin, tentu kelebihan selalu beriringan dengan kekurangan. Ada yang memiliki kekurangan dari sisi pikiran (kurang pandai, lambat menentukan keputusan, dll.), perasaan (mudah bimbang, mudah sedih, dll.), atau fisik (cepat lelah, disabilitas, dll.). Introspeksi dirilah yang membuat seseorang mengerti kekurangannya.

Penyikapan terhadap kekurangan diri pun juga terbagi menjadi dua. Pertama, orang itu terlalu memikirkan kekurangannya dan merasa lemah. Akibatnya ialah dia sulit untuk mengembangkan potensinya. Bila ia mampu memetakan dirinya, kelebihan yang tersembunyi bisa ditemukan dan dikembangkan. Hanya saja terkadang dia tidak bersikap seperti itu dan orang-orang di sekitarnya tidak pernah mendukungnya. Kedua, dia sadar bahwa setiap orang memiliki kekurangan baik fisik maupun nonfisik yang muncul sejak dalam kandungan, sesaat setelah lahir, atau masa sesudahnya. Namun, kekurangan itu tidak menjadikannya bersikap lemah. Dia justru bisa bersungguh-sungguh mengembangkan potensinya. Beruntungnya lagi bila di sisinya terdapat orang-orang yang mau, mampu, dan selalu memberinya semangat. Saya sangat bersyukur atas hadirnya orang-orang seperti itu di balik kondisi disabilitas yang saya alami.

*Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. (Ar Ra’du[13]: 8)

*Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali ‘Imran[3]: 139)

*Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (Al Israa’[17]: 19)

Sudah jelas bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Cara bijak menyikapi kelebihan adalah dengan tetap merasa kurang sehingga masih harus belajar lagi dan bersikap rendah hati. Cara bijak menyikapi kekurangan adalah dengan merasa lebih sehingga bisa mengembangkan potensi yang dimiliki dan tidak bersikap rendah diri.

(Sumber gambar: https://littlebookstory.wordpress.com/2015/04/30/kekurangan-dan-kelebihan/)

Advertisements