Pada April akhir 2016 lalu laptop dan ponsel saya hilang karena dicuri. Ketika mengetahuinya, hal yang kali pertama diri ini lakukan adalah diam sejenak, bernafas lebih perlahan, lalu menjernihkan pikiran. Mengapa? Sikap itu bertujuan menenangkan diri, meskipun sejumlah data masih ada salinannya, tidak hilang semua. Alhamdulillah saya masih memiliki salinan data berupa nama dan nomor telepon di kontak sekitar 98%. Salinan data di laptop pun masih ada di posel, Facebook, dosen, dan penyimpan data sekitar 10% saja.

Sesuatu yang hilang pasti ada penggantinya. Begitulah kira-kira anggapan yang ada di masyarakat. Sejak lahir saya kehilangan tangan kiri yang normal, tetapi Allah menggantinya dengan suatu anugerah. Memberi, menerima, makan, dan minum selalu menggunakan tangan kanan. Ketika bersekolah di SMA penulis catatan ini pernah kehilangan seseorang, Allah menggantinya dengan dua orang yang lebih baik, ‘cahaya yang berharga’ dan ‘mata kemuliaan’. Hal yang sama pun juga terjadi pada bagian pertama tulisan ini.

Ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan ketika kehilangan. Saya sadar bahwa pikiran dan hati manusia sangatlah kompleks sehingga mungkin opini di tulisan ini sekadar teori. Namun, diriku percaya bahwa bahasa bisa memengaruhi pikiran dan hati. Pikiran dan hati bisa memengaruhi sikap. Semoga untaian bahasa yang disampaikan dalam tulisan ini bisa berpengaruh terhadap pikiran dan hati pembaca. Inilah hal-hal yang sebaiknya dilakukan ketika kehilangan apapun.

1. Sabar dan Ikhlas
Semua yang ada pasti bisa tiada kecuali satu hal, pencipta ketiadaan itu. Orang, benda, atau hewan bisa hilang dari kita, tidak dimiliki, tidak dekat. Beberapa hal masih bisa dilakukan untuk mengembalikan kondisinya. Namun, beberapa hal lain justru bisa berakhir secara sia-sia. Hal yang bisa dilakukan kali terakhir adalah ikhlas dan bersabar meskipun bersabar tidak dimaknai sebagai perilaku diam saja tentunya. Secara tersirat novelis Tere Liye memaknai sabar seperti yang tertulis di bawah ini.

*Ada sesuatu yang jika memang sudah selesai, maka sudah demikianlah, tidak ada lagi yang bisa dilakukan, selain menerimanya dengan lapang. Kita tidak bisa lagi menyiram bunga yang sudah mati. Buat apa? Tidak akan tumbuh, tidak akan berbunga. Lebih baik, bersiap menanam bunga berikutnya. (Status Facebook Tere Liye)

Tuhan pun telah memberikan informasi kepada manusia bahwa sesuatu yang di sisi kita bisa hilang. Namun, Dia menjanjikan suatu ganjaran bagi orang-orang yang sabar. Allah berfirman yang artinya

*Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (An Nahl[16]: 96)

2. Jangan Galau
Percaya tidak empat belas abad silam Allah memerintahkan manusia bersikap kuat, tidak mudah galau? Karena waktu itu bahasa Indonesia belum ada dan Alquran turun di Arab, tentu hal tersebut tidak disebutkan secara eksplisit. Jika seseorang bersikap galau, bimbang, sikapnya akan tidak terarah. Dampak buruknya bisa mengarah ke diri sendiri. Orang lain pun juga bisa terkena imbasnya padahal setiap manusia seharusnya bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, bukan malah merugikan. Orang-orang yang memiliki akal dan hati yang baik hampir dapat dipastikan mampu menjadi penguat dirinya atau orang lain saat kehilangan terjadi, ketika masalah muncul, apapun itu.

*Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.  (Ali ‘Imran[3]: 139)

*Kita dapat melihat dengan mata kepala sendiri, ada orang yang energinya seakan tak habis-habis. Mereka terus bergerak dan beraksi. Padahal, jika kita lihat, masalah yang mereka hadapi sangatlah besar. Namun, hal itu tak pernah menyurutkan langkah mereka untuk berusaha sekuat tenaga. (Kutipan buku Muda Mulia halaman 124 dan 125)

3. Yakin
Telah dikatakan sebelumnya bahwa sesuatu yang hilang pasti ada penggantinya. Namun, bukan berarti kita sengaja menghilangkan sesuatu supaya bisa mendapatkan sesuatu yang baru. Tindakan itu amatlah konyol. Bila memang kita mengalami kehilangan sesuatu atau seseorang, suatu saat akan tiba yang lebih baik. Hal itu bergantung tingkat kesabaran kita. Pengganti tersebut lebih baik atau tidak juga bergantung persepsi atau cara pandang kita. Sesuatu yang kita anggap buruk justru bisa saja sebenarnya lebih baik. Intinya kita harus yakin dengan sesuatu atau seseorang yang akan datang, mengganti kehilangan itu.

*Lepaskanlah, maka semoga yang lebih baik akan datang. Lepaskanlah, maka semoga suasana hati akan lebih ringan. (Status Facebook Tere Liye)

*Bagi orang-orang yang bersabar, maka apa-apa yg datang di kemudian hari akan lebih baik dibanding yg lalu, yg telah pergi. (Status Facebook Tere Liye)

4. Sikap Sebelum Kehilangan Terjadi
Bagian terakhir ini membahas tentang sikap manusia pada umumnya sebelum dan sesudah kehilangan terjadi. Di balik istimewanya manusia sebagai makhluk, tersimpan sesuatu yang ironis dalam dirinya. Mengapa ironis? Ketika mendapat nikmat, dia lupa bersyukur. Sewaktu ditimpa musibah, nikmatnya hilang, tiba-tiba dia menjadi hamba yang sangat dekat dengan Tuhannya. Beruntunglah bagi orang-orang yang meluangkan sedikit waktunya untuk berpikir, memaknai hidup ini.

*Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga, kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar. (Huud[11]: 9―11)

Setiap orang pasti ingin hal yang terbaik dalam hidupnya. Namun, ada beragam realitas yang menyebabkan keinginan dan kenyataan tidak sejalan. Seingat saya Mas Hendri, saudara seakidah saya yang memiliki pemikiran ilmiah sangat baik pernah berkata, keinginan dan kenyataan yang tidak sejalan disebut masalah. Kehilangan pun juga disebut masalah. Dengan akal yang baik dan hati yang jernih masalah tersebut akan bisa diatasi.

Advertisements