A. Sinopsis
Kisah dimulai ketika Pak Komad, Saniyah, dan Salsabila Azzahra sedang berwisata di tepi Laut Karang Pucuk. Salsa, anak dari Pak Komad dan Saniyah, kala itu masih berusia delapan tahun. Dia mendapat kasih sayang yang begitu banyak dari orangtuanya. Namun, takdir berkata lain. Kasih sayang yang ia terima secepat kilat menghilang. Abinya mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat. Ibunya hanya mengalami luka ringan, sama seperti Salsa. Kejadian itu berlangsung ketika keluarga kecil ini pulang.

Tiga hari telah berlalu. Akan tetapi, duka masih menyelimuti Saniyah dan Salsa. Karena peristiwa itu, Saniyah terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Lebih terpaksa lagi ia memutuskan untuk menjadi wanita tunasusila (penjual dirI). Hutang yang ditinggalkan Pak Komad tidaklah sedikit. Kebutuhan sekolah Salsa pun demikian. Saniyah tanggalkan jilbabnya demi dua hal itu. Salsa sangat terpukul mengetahui hal tersebut.

Kabar itu menyebar dengan cepat. Salsa selalu menjadi bahan cemoohan terutama oleh Dewi dan Rika, temannya. Awalnya, Salsa merasa malu dan sedih. Namun, lambat laun perasaan itu hilang karena sudah terbiasa. Lagipula ada Ustaz Barqi yang selalu menguatkan hatinya melalui berbagai nasihat. Anzala, sahabat Salsa, juga selalu di sisinya untuk membela atau memberinya semangat.

Pekerjaan Saniyah tetaplah sama hingga Salsa bersekolah di SMK. Saniyah memang pernah berdoa supaya Tuhan mengirim seorang laki-laki yang baik, bertanggung jawab, dan bisa menghidupi keluarganya. Bila sosok lelaki itu tiba, dia akan berhenti dari pekerjaannya. Namun, doanya tak kunjung dikabulkan. Sebenarnya Salsa sudah berkali-kali mengingatkan ibunya untuk berhenti. Akan tetapi, dia tetap tidak mau berhenti dari pekerjaannya.

Sesaat sebelum Pak Komad meninggal, dia pernah berpesan kepada Ustaz Barqi supaya Salsa dijaga olehnya. Karena itu, Salsa ingin Ustaz Barqi menikahi ibunya. Dengan menikahi ibunya, secara tidak langsung Ustaz Barqi juga menjaga Salsa. Memanglah berat, seorang ustaz yang perjaka harus menikahi janda yang tunasusila. Melalui berbagai pertimbangan, Ustaz Barqi bersedia.

Seminggu setelah Ustaz Barqi melamar Saniyah, musibah terjadi. Salsa dan ibunya mengalami kecelakaan. Saniyah meninggal di tempat. Salsa mengalami luka parah. Kecelakaan itu terjadi tepat di tikungan terakhir menuju pesantren, tempat belajar Salsa yang baru setelah dia pindah sekolah dari SMK. Pesantren itu juga yang nantinya menjadi tempat hijrah Saniyah dari dunia malam.

Enam tahun telah berlalu. Pada akhir cerita dikisahkan bahwa Salsa sedang mengandung dan duduk di kursi roda. Ia bercengkrama dengan suaminya. Yang diajak bicara pun menanggapinya dengan halus. Kecelakaan dan keguguran anak pertama yang menjadi topiknya, menguatkan lagi tentang rasa takut yang baik. Ustaz Barqi tersenyum lembut kepada istrinya, Salsabila Azzahra.

B. Amanat
1. Cita-cita Mulia
Salsa memiliki cita-cita yang bisa dibilang hebat pada zaman sekarang. Ia ingin masuk surga. Cita-cita yang sungguh mulia, tetapi justru menjadi bahan tertawaan Dewi dan Rika. Ibunya yang seorang wanita tunasusila pun juga terkadang agak kesal dengan cita-cita anaknya itu. Akan tetapi, cita-cita itulah yang membuat Salsa tegar, kanaah, istikamah, dan mampu menghadapi semua ejekan yang menerpa dirinya. Semakin mulia cita-cita seseorang, semakin baik pula pikiran dan hati orang tersebut.

*Salsa telah belajar tausiah-tausiah dari ustad Barqi akan pahitnya hidup dan keteguhan hati, juga akan impian dan cita-citanya yang mulia. Salsa telah mengerti bahwa impian serta rencana-rencana mulia dalam hidup adalah GPS kesuksesan. Tanpa GPS, pengembaraan di bumi Tuhan ini akan kehilangan arah dan tujuan, bisa keluar dari jalur yang benar. (halaman 34 dan 35)

**Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (Al Israa’ [17]: 19)

2. Kecerdasan dalam Beragama
Sejak ditinggal ibunya yang mati dibunuh, Dewi mulai tidak percaya dengan adanya Tuhan dan perilakunya semakin buruk. Dia bahkan sempat overdosis. Di mana Tuhan saat ibunya hendak dibunuh? Itulah pertanyaan terbesar dalam hidupnya. Di tangan Ustaz Barqi, Dewi menjadi luluh. Sifatnya mulai melunak. Pemahamannya terhadap Tuhan mulai berubah. Dengan kecerdasan dan keikhlasan yang dimiliki, Ustaz Barqi mampu mengubah Dewi dan mempertahankan keimanannya ketika digoda oleh Dewi. Keimanan dan kecerdasan memanglah harus berdampingan dalam beragama.

*“Sesuatu yang ada tidak harus dilihat dengan mata. Mata bukan satu-satunya alat untuk melihat yang ada. Angin, magnet, gaya grafitasi, setan dan malaikat itu semua ada. Ada. Tapi mampukah mata kamu melihatnya?” Dewi dibuat seperti kerbau di sawah, melongo. “Apakah kamu menginginkan Tuhan itu bersosok seperti manusia? Datang mengenalkan diri-Nya padamu, memelukmu, mengajakmu berfoto ria, memberimu hadiah, lalu pergi tanpa pesan? Tuhan tidak bodoh. Ia ada dan bisa dirasakan kehadiran-Nya dengan hati. Ia tak terjangkau oleh akal. Tapi ia bisa dikenali oleh akal.” (halaman 178)

**Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (Yunus [10]: 100)

3. Menyikapi Ujian Hidup
Sungguh malang nasib Salsa. Pertama, dia melihat langsung abinya meninggal secara tragis. Kedua, sosok umi yang dulu dikenalnya malah berubah menjadi sosok wanita tunasusila. Ketiga, pada awalnya keinginannya belajar di pesantren ditolak oleh ibunya, terpaksa ke SMK. Keempat, Salsa harus merelakan peringkat pertama di kelas untuk Dewi supaya tidak terjadi keributan. Terakhir, perempuan cantik dan salihah ini harus menerima fitnahan dan cemoohan dari Dewi dan Rika. Akan tetapi, prinsip hidupnya mampu mengalahkan itu semua. Dia menerima dengan lapang dada segala musibah yang menimpanya.

*”Ya, sudah, tidak apa-apa. Bagaimanapun itu sudah menjadi bubur. Dan aku akan berusaha bagaimana caranya untuk menyukai bubur, meski kebanyakan orang sukanya nasi.” (halaman 151)

**Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (Muhammad [47]: 31)

3. Insya Allah Surga
Saniyah sungguh bergelimang dengan dosa. Ia hempaskan keimanannya dengan cara menjual diri, hal yang tentu saja tidak pernah diajarkan oleh Pak Komad, suaminya. Salsa pun tak mampu membuat ibunya bertobat. Ustaz Barqi-lah yang mampu membuat Saniyah kembali ke jalan-Nya. Dalam perjalanan tobatnya, ia mengembuskan napas terakhirnya. Tobatnya insya Allah mampu mengantarkannya ke surga. Kalimat dari Ustaz Barqi itu setidaknya bisa menenangkan hati Salsa. Kalimat itu juga bisa menenangkan hati semua insan yang berlumuran dengan dosa, merasa hina di mata Tuhan.

*Pernahkah kamu mendengar kisah tentang seorang pembunuh yang melakukan perjalanan tobat lalu meninggal di tengah jalan dan menjadi rebutan malaikat siksa dan malaikat rahmat? Dan malaikat rahmat memenangkannya setelah mereka berhitung jarak antara negeri tempat ia membunuh dengan negeri orang-orang taat yang dituju?” (halaman 247)

*”Bagaimana dengan ibumu yang jelas-jelas merawat dan membesarkanmu, bahkan mendidikmu. Ibumu juga meninggal ketika jarak ke pondok tinggal satu tikungan. Malah, mungkin kamu tidak tahu kalau ibumu sudah melakukan shalat setelah menyatakan diri bertaubat. (halaman 247)

**Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al A’raaf [7]: 153)

4. Nasihat Terbaik
Saniyah sungguh beruntung telah bertobat sesaat sebelum kematian mendekapnya. Namun, tidak semua manusia bisa mengalami hal itu. Mengapa? Karena tidak ada seorang pun yang tahu tibanya waktu kematian. Berusaha mendekatkan waktu insaf dengan waktu kematian sambil terus melakukan dosa merupakan suatu kemustahilan. Ya, kematian memanglah nasihat terbaik sepanjang masa.

*Akan tetapi, Allahu akbar! Ketika baru saja sepeda yang mereka tumpaki menyembul di jalan raya, sebuah truk menghantam mereka. Saniyah dan putrinya terpental di pinggiran jalan. Sementara pak Komad dan sepedanya terseret hingga bermeter-meter jauhnya. Terjungkal-jungkal. Kepala pak Komad berkali-kali membentur aspal. (halaman 5)

*”Apa?”

“Kecelakaan?”

“Itu tidak mungkin.”

“Sekarang ada di Siaga Medika?”

“Ya, Salsa di bawa ke rumah sakit. Di Siaga Medika. Tapi, ibunya meninggal di tempat.” Penjelasan wali kelas membuat kalimat tarji’ menggema. (halaman 243)

**Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (Al Anbiyaa’[21]: 35)

5. Sahabat Sejati
Anzala adalah sahabatnya Salsa. Dia yang selalu memberinya dorongan semangat untuk bangkit. Anzala pula yang senantiasa membela Salsa ketika diganggu oleh Dewi dan Rika. Ada pepatah yang mengatakan bahwa memiliki jutaan teman itu tidak hebat. Justru yang hebat adalah memiliki satu teman yang selalu berada di sisi ketika menghadapi jutaan orang. Itulah makna sahabat sejati, saling membantu sahabatnya.

*Anzala berdiri di samping Salsa dan tengah siap dengan kemungkinan selanjutnya. Rika datang dan tegap berdiri di samping Dewi. Adapun Salsa, menunduk sambil mengkibaskan bajunya yang kotor. (halaman 104)

**Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Al Maaidah [5]: 2)

6. Sepadan
Di dalam novel, Ustaz Barqi merupakan sosok yang tampan, saleh, cerdas, dan mampu menjaga keimanannya. Di dalam novel pula, Salsa merupakan sosok yang cantik, salihah, cerdas, dan memiliki keteguhan hati yang luar biasa. Melalui perjalanan hidup yang panjang, mereka akhirnya menjadi pasangan hidup yang sepadan, sama baiknya. Kisah dalam novel ini memang tidak nyata. Akan tetapi, melalui janji-Nya, kisah ini bisa menjadi suatu kenyataan. Orang yang baik akan berdampingan dengan orang yang baik pula dan sebaliknya, meskipun tujuan berbuat baik bukan untuk itu, melainkan sesuatu yang Salsa cita-citakan, surga.

*”Bulan itu seperti kerinduan seseorang yang berkunjung. Seperti tak sabaran hendak melihat cucunya,” ucap Salsa dengan nada penuh rindu, di atas kursi roda. (halaman 249)

*Barqi mendesah, menatap sendu bulan dan jutaan bintang. Lalu mendekap istrinya yang bersandar di kursi roda. Mengelus calon penerus yang sudah empat bulan di perut istrinya. (halaman 250)

**Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (An Nuur [24]: 26)

Advertisements