(Puisi Pertama)

Pendidikan itu Hak Kami
(Karya: Nur Afifah Firdaus Masykuri)*

Apa ini?
Anak kandung ibu pertiwi
Terperangkap dalam feodalisme baru
Mengejar gelar tanpa isi
Keilmuan aktual

Apa apaan ini?
Kaum terpelajar pengangguran
Rakyat frustasi pendidikan makin elitis

Pendidikan
Sejatinya ia adalah kunci utama
Pembuka pintu peradaban dunia
Sebagai bagian dari gerakan untuk memerdekakan diri
Manusia mandiri secara sosial ekonomi

Berjuanglah
Perjuangkan masa depanmu sendiri
Di sini di negeri ini
Tiada satupun yang bisa makan tanpa uang
Tiada sesenpun uang tanpa ilmu pengetahuan

Hai penguasa
Bongkar sekat pembatas antara kami
Kami sama milik pertiwi
Tiada beda tiada kasta

Apa ini?
Ini negeri kami
Kami anak negeri
Pendidikan itu hak kami

*Pembuat puisi adalah pelajar dari SMA Negeri 8 Surabaya. Dia pernah meraih peringkat dua lomba cipta dan baca puisi saat acara Genderang Sastra (Gatra) tahun 2014 di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Karyanya waktu itu adalah Tanah Airku Indonesia. Pendidikan itu Hak Kami adalah puisi terbaik ketika lomba cipta puisi dalam rangka memperingati HUT ke-49 SMAN 8 Surabaya tahun 2014.

(Puisi Kedua)

Siswa Tak Berseragam
(Karya: Hidayatu Laili Afifah)*

Hidup dalam angan-angan
Berusaha menggapai masa depan yang tak terlihat
Dan terus mencari mimpi yang tersembunyi
Mereka hanya bisa mengintip dari balik tembok nasib
Berharap ada sepercik ilmu yang akan teringat
Sepercik ilmu untuk menggapai angan yang telah lama digantung
Dan untuk membersihkan mimpi yang telah lama berlumut

Telanjang tanpa ilmu
Hati mereka menjerit
Meringik kesusahan
Mimpi yang mereka tulis
Telah banyak dihapus oleh nasib

Mereka hanya ingin menjadi pohon yang nantinya akan berbuah
Mereka hanya ingin menjadi ulat yang akan menjadi kupu-kupu
Dalam diam mereka belajar
Apa arti kehidupan
Melalui mata mereka melihat
Ketidakadilan Tuhan

*Pembuat puisi adalah pelajar dari SMA Muhammadiyah 10 Surabaya. Dia menjadi juara lomba cipta puisi saat acara Genderang Sastra (Gatra) tahun 2015 di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Dia bisa menjadi juara melalui karya puisi tersebut.

Dua puisi tersebut adalah karya dari dua pelajar yang memiliki nama yang sama, yaitu Afifah. Dua puisi tersebut juga memiliki tema yang sama, yaitu pendidikan. Karena bertema pendidikan, puisi-puisi itu tentu sangat dekat dengan dunia mereka. Hal itu menyebabkan puisi-puisi tersebut dibuat dengan sepenuh hati. Mereka berempati terhadap orang-orang yang tidak bisa menempuh pendidikan seperti dua Afifah itu. Perasaan itu akhirnya tertuang dalam rangkaian bait-bait indah sebuah puisi. Hal yang menarik jika kita mencoba menyandingkan dan membandingkan bait-bait indah tersebut dar berbagai sisi.

1. Judul
Judul adalah aspek penting dalam pembuatan puisi. Hal pertama yang dilihat pembaca pada suatu puisi adalah judulnya. Oleh karena itu, judul yang dibuat sebisa mungkin mampu menggetarkan hati dan membuat orang tertarik atau penasaran.

Judul pada puisi pertama terkesan biasa saja, sudah jelas maksudnya. Namun, jika judul itu dicermati lebih lanjut, sesuatu yang berbeda akan tampak. Pendidikan itu Hak Kami seolah menggambarkan sosok-sosok manusia yang telah terampas salah satu haknya. Dengan melihat judul saja pembaca yang peka akan merasa miris. Ketika pendidikan telah jelas menjadi suatu hak setiap orang, seharusnya ‘kurang perlu’ dideklarasikan bahwa pendidikan itu hak kami. Ketika ada fenomena ‘pendeklarasian’ itu, tentu ada masalah pada hak pendidikan orang-orang tetentu.

Judul kedua sudah jelas letak menariknya. Judul Siswa Tak Berseragam tentu mengundang sebuah pertanyaan. Bagaimana mungkin seorang siswa tidak memakai baju seragam? Bukankah siswa itu identik dengan baju seragam yang selalu dikenakan ketika bersekolah? Pembuat puisi sepertinya berusaha memisahkan dua hal yang sudah padu sehingga judul yang dibuat memunculkan sisi ironis.

2. Jumlah Kata Tiap Baris
Jumlah kata tiap baris ialah banyaknya kata dalam satu baris. Ada teori bahwa puisi itu bebas. Hal itu memang benar. Namun, ada kaidah tentang derap nafas. Derap nafas adalah satu tarikan nafas untuk membaca satu baris puisi. Artinya, alangkah baiknya jika satu baris puisi dibaca hanya dengan satu tarikan nafas saja. Banyak tidaknya suatu kata dalam satu puisi juga berpengaruh pada tingkat kepadatan puisi.

Puisi pertama memiliki jumlah kata yang sedikit tiap barisnya. Ada satu baris yang hanya diisi oleh satu kata. Hal itu menyebabkan puisi tersebut begitu padat dan ringkas. Setiap kata memiliki kekuatan tersendiri karena tidak didukung oleh kata-kata yang lain dalam satu baris.

Puisi kedua memiliki jumlah kata yang cukup banyak dalam satu baris. Akibatnya, beberapa baris tidak padat dan tidak memiliki kekuatan tersendiri. Selain itu tidak semua orang bisa membaca puisi tersebut dengan derap nafas yang baik. Alasannya adalah kemampuan mengambil dan menahan nafas tiap orang berbeda. Lebih baik jika pembuat puisi menerapkan metode enjambemen, membuat baris baru sehingga kata-kata dalam satu baris terpisah menjadi dua baris. Namun, setiap baris pada puisi tersebut selalu terdapat kalimat-kalimat indah yang disusun dengan kata-kata kias. Puisi tersebut tidak padat, tetapi pembuat puisi bisa menggetarkan perasaan pembaca.

3. Diksi dan Majas
Diksi adalah pilihan kata yang digunakan di dalam puisi. Majas adalah gaya bahasa yang menghiasi bait-bait indah suatu puisi. Penggunaan diksi dan majas sangat berpengaruh terhadap keindahan dan kebermaknaan puisi. Diksi yang tepat bisa saja membuat pembaca puisi tersentuh hatinya. Jika diksi yang tepat dikombinasikan dengan suatu majas, puisi akan tampak lebih indah, bermakna, dan menggugah emosi pembacanya.

Pembuat puisi pertama memulai puisinya dengan sebuah pertanyaan Apa ini? Mengawali puisi dengan kalimat tanya adalah sesuatu yang jarang terjadi. Pembuat puisi sepertinya ingin mengajak pembaca untuk langsung berpikir. Secara umum kata-kata pada puisi pertama mudah dipahami. Kata-kata tersebut juga sifatnya provokatif, mengajak setiap manusia untuk memperjuangkan hak pendidikannya. Saya menemukan ada frasa yang perlu pemahaman lebih lanjut seperti feodalisme baru dan keilmuan aktual. Ada pula satu kata yang salah menurut kaidah. Perhatikan bait kedua baris ketiga! Frustasi tidak ada di dalam KBBI. Frustrasi adalah kata yang lebih tepat untuk mengistilahkan suatu perasaan kecewa. Beralih ke majas, contoh majas dalam puisi pertama tampak pada bait ketiga. Pembuat puisi mengibaratkan pendidikan sebagai kunci. Orang-orang yang berpendidikan akan bisa membuka pintu-pintu dunia yang berisi segala peradaban, pengetahuan, dan kebudayaan.

Telah dikatakan sebelumnya bahwa puisi kedua tidak padat, tetapi penuh gaya bahasa. Majas menghiasi hampir seluruh baris dari puisi itu. Pembaca artikel ini tentu bisa memahami maksud dari setiap majas yang disajikan oleh pembuat puisi. Saya sangat tertarik dengan rangkaian kata-kata indah mulai bait ketiga baris ketiga hingga bait ketiga baris keenam. Dalam diam mereka belajar, apa arti kehidupan. Orang yang diam sejatinya masih bisa belajar apalagi yang bergerak, tentu akan semakin banyak yang ia dapatkan. Bergerak dimaknai sebagai berkarya, berproses, mengamati realitas saat ini, memecahkan masalah, membangun masyarakat, dan membantu orang lain. Secara tidak langsung orang-orang seperti itu akan semakin mengerti arti kehidupan. Melalui mata mereka melihat, ketidakadilan Tuhan. Bagi orang-orang nonsastra kalimat tersebut dianggap sebagai bentuk kebencian terhadap Tuhan yang tidak adil. Jika Tuhan bersikap adil menurut versi manusia, untuk apa manusia diberi akal dan perasaan karena semuanya dalam kondisi baik, sempurna, dan tidak ada masalah? Justru itulah letak keadilan Tuhan yang memberikan akal dan perasaan pada manusia untuk menyelesaikan masalahnya. Kalimat pada dua baris terakhir justru bisa menambah semangat ‘siswa tak berseragam’ untuk tetap berpikir (belajar) di tengah keterbatasan sehingga ‘keadilan’ Tuhan akan terlihat.

4. Isi atau Amanat
Amanat merupakan hal paling penting dalam sebuah puisi. Pembuat puisi harus bisa menyampaikan suatu pesan kepada pembaca melalui rangkaian bait-bait indah. Memang pengaruh budaya terhadap sastra lebih besar daripada pengaruh sastra terhadap budaya. Namun, bukankah suatu kebaikan yang luar biasa jika seorang pembuat puisi bisa menginspirasi dan memotivasi orang lain?

Puisi pertama secara umum menceritakan dua hal. Hal pertama adalah tentang kondisi pembelajar yang ironis. Mereka hanya belajar untuk belajar dan belajar untuk gelar. Akhirnya, ilmu yang dimiliki tidak bisa diterapkan. Lebih buruk lagi bila mereka menjadi penganggur, tidak berprofesi atau bekerja. Pembuat puisi mengistilahkannya dengan kaum terpelajar pengangguran. Hal kedua adalah tentang kondisi pendidikan yang semakin elit. Pendidikan semacam itu tentu berdampak buruk bagi masyarakat. Mereka sulit mendapat pendidikan. Daerah-daerah tertentu bisa jadi belum memiliki pendidikan sebaik pendidikan di perkotaan, seolah ada batas dan perbedaan. Pembuat puisi dengan tegas menolak hal itu melalui tulisan Hai penguasa, bongkar sekat pembatas antara kami. Dengan dua kondisi itu maka pembuat puisi mengajak semuanya untuk memperjuangkan masa depan masing-masing terutama melalui pendidikan.

Puisi kedua menggambarkan tentang kondisi anak yang tidak bisa menempuh pendidikan, tetapi memiliki semangat belajar yang tinggi. Mereka hanya bisa belajar seadanya, berharap ada ilmu yang bisa diingat dan berguna pada masa depan. Mimpi-mimpi mereka banyak dan mulia. Cita-cita mereka bahkan lebih terang dari gemerlapnya bintang. Namun, mereka terhalang oleh tembok nasib yang tinggi dan ketidakpedulian pihak-pihak tetentu. Setiap manusia tentu miris jika melihat realitas yang seperti itu kecuali orang-orang yang nuraninya telah mati.

Ada amanat yang sama pada puisi karya dua Afifah itu. Mereka memandang pendidikan atau ilmu sebagai suatu hal yang sangat penting dan harus diperjuangkan. Bersyukur adalah hal terbaik ketika kita bisa menempuh pendidikan yang baik. Apakah cukup dengan mengucapkan alhamdulillah saja? Saya rasa semua orang tahu jawabannya. Mari bersungguh-sungguh dalam langkah meraih ilmu! Menjadi pembelajar yang senantiasa belajar dan mengajarkan sesuatu pada orang lain adalah kemuliaan yang luar biasa. Keterbatasan bukan menjadi suatu penghalang. Justru yang menjadi penghalang adalah manusia yang membatasi dirinya, merasa dirinya lemah. Semoga kita bisa menjadi pembelajar sejati. Pembelajar yang selalu meningkatkan kualitas diri, senantiasa mengisi kehidupan dengan manfaat dan kebermaknaan, serta suatu saat berusaha menjadi pendobrak batas-batas mengalirnya ilmu pada orang lain. Aamiin.

(Sumber gambar: http://www.kompasiana.com/girilu/gerakan-semesta-pendidikan-ala-indonesia-kembali-ke-pancasila_573ebdf07893733612a05c10)

Advertisements