Di dunia ini ada begitu banyak manusia yang setiap hari melakukan beragam aktivitas. Di antara mereka ada yang belajar, bekerja, beribadah, bermain, tidur, serta melakukan hal-hal baik dan buruk. Jika dihayati secara benar, aktivitas-aktivitas yang dilakukan umat manusia sungguh begitu kompleks. Hal itu mengakibatkan seseorang harus melakukan interaksi dengan orang lain. Manusia akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan aktivitas dan potensinya bila tidak ada suatu interaksi. Oleh karena itu, muncullah teori manusia adalah makhluk sosial.

Belajar dari pertemuan. Judul yang singkat dan mungkin bisa menimbulkan salah penafsiran. Maksud dari judul tersebut adalah sejatinya seseorang bisa mengambil suatu hikmah dari interaksi yang dilakukannya. Interaksi yang dimaksud bisa berupa interaksi individu dengan individu atau individu dengan kelompok. Amatlah disayangkan bila seseorang sekadar bertemu, berinteraksi, dan bekerja sama dengan orang lain tanpa mengambil ilmu darinya.

Selama ini tentu kita telah bertemu lalu berinteraksi dengan orang banyak. Kita juga tentu pernah bekerja sama dengan orang lain. Contohnya adalah saat mengerjakan tugas kelompok, melakukan suatu profesi atau pekerjaan, berorganisasi, dan lain-lain. Karakter orang yang bekerja sama dengan kita pasti beragam. Ada yang bekerja sama sepenuh hati, membantu secara terpaksa, tidak acuh (cuek), hingga pura-pura bekerja sama padahal niatnya ingin membuat kita celaka. Di situlah kepekaan hati dan kecerdasan pikiran kita diuji. Kita harus membiasakan diri membaca situasi. Tujuannya bukan untuk berprasangka buruk. Namun, tujuan utamanya adalah supaya kita memiliki sikap waspada. Tentu hakikat dari berprasangka buruk dan waspada berbeda jauh.

Hal yang pasti diingat adalah suatu pengalaman yang berkesan sangat buruk atau sangat baik. Contoh dari kesan sangat baik adalah bisa bekerja sama dengan orang hebat. Orang hebat yang dimaksud adalah orang yang baik dari sisi etika, pemikiran, komunikasi, dan pemecahan masalah. Sekali lagi, amatlah disayangkan jika kita pernah bekerja sama dengan orang seperti itu, tetapi tidak bisa mengambil suatu ilmu darinya. Sebab, ilmu tidak harus bersumber dari bacaan. Adanya pengalaman langsung itulah yang justru bisa benar-benar menancapkan suatu ilmu ke dalam diri manusia. Cara mendapatkan ilmu dengan cara lain adalah melalui diskusi, berbincang santai yang terarah, atau penghayatan atas sebuah realitas. Semoga kita menjadi pembelajar sejati. Pembelajar yang tidak sekadar meniru dari orang lain. Namun, pembelajar yang mampu mengambil suatu ilmu dari orang lain lantas mengembangkannya.

*”Allah, Sang Mahakuasa dan Maha Berkehendak, pada-Mu rasa syukur teramat dalam kuhantarkan melintasi awan dan langit. Engkau mengizinkanku bersua dan berpadu dengan para ciptaan terbaik-Mu, mereka yang senantiasa mengembangkan anugerah yang telah diberikan. Dari ‘perempuan’ itu, ‘cahaya yang berharga’, hingga ‘sang mata kemuliaan’, dan yang lainnya, hamba-Mu telah belajar banyak hal. Kini, relung hati ini mencurahkan sebuah doa. Esok, semoga kami bisa bersua lagi, bersisian ciptakan suatu kebaikan bersama, sebagai bentuk ketundukan kami pada-Mu, wujud nyata rasa syukur atas anugerah terindah dari-Mu, dan kebermanfaatan di tengah para insan di bumi yang agung ini.”

Advertisements