Hampir dapat dipastikan orang yang membaca judul tulisan ini akan merasa heran. Bagaimana mungkin pakaian yang dijemur bisa memberi pelajaran hidup kepada kita? Ide tulisan ini muncul ketika hari Minggu, 20 Maret 2016. Kegiatan yang selalu saya lakukan pada hari itu adalah mencuci pakaian. Tentu saja selanjutnya cucian tadi saya jemur. Karena pengisi daya (charger) laptop dan jaket saya tertinggal di rumah saudara pada hari Sabtu, saya pun ke sana untuk mengambilnya sesudah menjemur pakaian. Muncullah ide tulisan sangat sederhana ini sesaat setelah saudara saya memberikan dua benda itu.

Sejatinya segala sesuatu bisa diambil filosofinya. Mulai dari setetes embun hingga alam semesta, sebuah kotoran hingga sebongkah berlian, dan seekor amuba hingga seorang manusia. Hal itu bergantung dari cara pandang kita terhadap sesuatu. Satu di antara semua cara bersyukur adalah menggunakan sebaik-baiknya anugerah yang telah diberikan. Akal kita bisa digunakan untuk mengambil suatu filosofi dari apapun termasuk pakaian yang dijemur. Filosofi yang dimaksud diuraikan sebagai berikut.

1. Berproses untuk Mencapai Tujuan
Tujuan dari menjemur pakaian tentunya adalah supaya pakaian itu kering. Pakaian yang dijemur bisa kering karena adanya panas dari matahari dan embusan angin. Tanpa adanya dua faktor itu pakaian yang dijemur tetap akan bisa kering, tetapi membutuhkan waktu yang sangat lama.

Penjelasan tersebut bisa dikaitkan dengan kehidupan manusia. Bila ingin mencapai suatu tujuan yang tinggi, seseorang pasti mendapat tempaan atau ujian yang amat berat. Bila jemuran ditempa oleh panas matahari dan embusan angin, manusia ditempa oleh yang lainnya. Tempaan itu bisa berupa cacian, rasa lelah, penat, pemfitnahan, hingga sesuatu yang membahayakan fisik. Akan tetapi, itu bukanlah masalah bagi orang-orang yang memiliki semangat yang tinggi dan tempat bergantung yang kuat. Mereka akan tetap bersungguh-sungguh melakukan suatu kebaikan bagi dirinya dan orang lain. Suatu saat kebaikan yang dilakukan akan menunjukkan hasilnya.

*Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (Al Israa’[17]: 19)

2. Tempat Bergantung yang Kuat
Cara yang terbaik untuk menjemur pakaian (baju atau kaus) adalah dengan menggantungkannya dengan menggunakan kapstok. Bila tempat yang ada untuk menggantungkan pakaian tidak kuat, tidak stabil, pakaian yang dijemur akan jatuh, terbawa angin, atau yang lainnya. Semakin kuat tempat untuk menggantung pakaian maka semakin baik pula kestabilannya ketika dijemur.

Penjelasan tersebut bisa kita jadikan suatu pelajaran hidup. Seharusnya setiap orang memiliki tempat bergantung yang kuat, tidak pernah lelah dijadikan sandaran hidup. Allah, Sang Mahakuasa dan Mahaperkasa, adalah tempat bergantung terkuat bagi umat manusia. Hal itu sesuai dengan empat ayat yang terdapat dalam surat Al Ikhlas. Meskipun begitu, beberapa manusia sangat sulit menjadikan-Nya tempat bergantung. Ada pula yang enggan melakukan hal itu. Penyebabnya ialah wujud-Nya yang tak terlihat atau bantuan-Nya yang mungkin tidak datang secara langsung. Hal tersebut berbeda dengan manusia yang wujudnya terlihat dan bisa membantu secara langsung. Meskipun begitu, ada perbedaan yang jauh sekali antara manusia dan Allah. Allah takkan pernah tertandingi oleh manusia. Para manusia takkan bisa sekuat dan sehebat Allah. Bukankah telah disebutkan sebelumnya bahwa semakin baik tempat bergantung maka semakin kuat pula kestabilan suatu benda atau seseorang? Kestabilan yang dimaksud adalah kestabilan manusia menghadapi suatu masalah dan konsistensi untuk tetap berbuat baik.

3. Bersiaga terhadap Kemungkinan Terburuk
Kita tentu ingin jemuran cepat kering ketika matahari bersinar sangat cerah. Namun, terkadang tiba-tiba langit menjadi gelap dan turunlah gerimis. Akibatnya, kita harus segera memindahkan jemuran itu ke tempat yang lebih aman.

Hal sederhana tersebut bisa dihubungkan dengan kehidupan manusia. Semestinya manusia membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan. Orang yang tidak membuat perencanaan adalah orang yang merencanakan kegagalan. Akan tetapi, terkadang rencana yang telah dilakukan menemui hambatan atau kegagalan. Oleh karena itu, perlu adanya pemikiran dan tindakan yang cepat dan tepat untuk mengatasi hal itu. Selain itu hendaknya seseorang memiliki rencana cadangan untuk mangantisipasi hal terburuk. Jika rencana A gagal, masih ada 25 huruf alfabet yang lain. Jadi, santai saja. Begitu kalimat motivasi yang ada di internet dan telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Rencana-rencana tersebut diwajibkan bersifat baik tentunya.

*Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur. (Faathir[35]: 10)

(Sumber gambar: http://life.viva.co.id/news/read/563312-jemur-pakaian-dalam-rumah-ancam-kesehatan)

Advertisements