Cerita ini terjadi sekitar tahun 2011. Jam menunjukkan pukul 06.30. Bel tanda masuk sekolah telah berbunyi. Saya bergegas masuk ke kelas. Teman-teman yang lain juga begitu meskipun ada juga yang tidak segera masuk. Tak lama kemudian kami berdoa di kelas masing-masing yang dipandu oleh seorang guru dari pusat pengumuman di ruang guru. Kebetulan saat itu yang membaca doa adalah Bu Chusniyah, guru kimia yang selalu tampak bersemangat ketika mengajar. Bacaannya fasih dan lantang. Membaca Alquran atau doa yang berbahasa Arab secara fasih memang wajib supaya tidak menimbulkan makna yang salah.

Waktu itu pelajaran pertama di kelas kami, XI IPA 6, adalah fisika, pelajaran paling kubenci meski diri ini masuk jurusan IPA. Namun, saat itu pembelajaran dilaksanakan di laboratorium IPA. Syukurlah, cukup menyenangkan karena bagiku belajar fisika di kelas selama 90 menit seolah belajar seharian. Berlebihan? Tidak. Jenuh, pusing, penat, dan bingung. Itu yang kurasakan selama tiga tahun belajar fisika. Ketika pembelajaran sedang berlangsung, wakasek kesiswaan mengumumkan sesuatu menggunakan pelantang (microphone) di ruang guru.

“Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuhmohon maaf kepada Bapak dan Ibu guru pengajar di kelas, pengumuman ini ditujukan kepada Fikri Fachrudin kelas XI IPA 6 supaya segera ke ruang guru sekarang juga. Sekali lagi, pengumuman ini ditujukan kepada Fikri Fachrudin kelas XI IPA 6 supaya segera ke ruang guru sekarang juga. Terima kasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahiwabarakatuh.”

Saya berpikir, “Waduh, ada apa ini?” Bagi sebagian siswa, dipanggil oleh wakasek kesiswaan atau guru BK pasti menimbulkan ketakutan tersendiri. Tidak jarang siswa yang dipanggil oleh mereka adalah siswa bermasalah. Saya pun juga agak takut, tetapi seorang kawan malah bergurau dengan berkata, “Rekor, Fik. Baru kamu di kelas ini yang dipanggil langsung lewat ruang guru. Hebat, luar biasa.” Saya hanya tersenyum dan segera meminta izin ke guru untuk meninggalkan kelas.

Ketika sampai di ruang guru, saya diberitahu bahwa ada orangtua siswa yang meninggal kemarin malam. Innalillahi wa innailayhi raji’un. Segera kuminta surat izin di BK untuk memanggil lima teman dari ekstrakurikuler Sie Kerohanian Islam (SKI) supaya bisa tidak mengikuti pelajaran sementara waktu. Mereka akan membantu mengumpulkan infak duka di semua kelas. Betapa kabar kematian bisa datang kapan saja, tidak peduli walau seseorang sedang berdiri, duduk, atau berbaring.

Infak duka adalah uang sukarela yang dikumpulkan oleh pihak sekolah dari semua siswa melalui Sie Kerohanian Islam (SKI). Uang itu diberikan kepada pihak dari ibu atau ayah-siswa yang telah meninggal. Setiap ada peristiwa itu pendataan dilakukan terkait identitas siswa tersebut beserta jumlah uang yang telah dikumpulkan. Data itu berada di suatu buku yang ditulis dan dipegang oleh ketua SKI. Data tersebut berisi nama siswa, kelas, orang yang meninggal (ibu atau ayah), tanggal pengumpulan uang, dan jumlah uang yang telah terkumpul.

Selama satu tahun saya selalu menjadi satu di antara enam petugas pengumpulan infak duka. Pengalaman yang sangat teringat adalah ketika ada seorang guru yang menyebutku ‘malaikat kematian’. Dia adalah Bu Dewi, guru bahasa Inggris yang luar biasa, meskipun beberapa siswa menganggapnya ‘terlalu luar biasa’ ketika mengajar. Mengapa beliau menyebut saya dengan julukan yang terdengar cukup aneh? Karena bila ada orangtua siswa yang telah meninggal, hampir selalu kelasnya saya datangi ketika beliau mengajar untuk mengumumkan kabar duka itu dan mengumpulkan infak duka.

Ada suatu pengalaman spiritual selama setahun menjadi petugas sekaligus pemegang buku infak duka. Pada suatu waktu saya melihat-lihat buku itu. Tertulis sepuluh nama siswa yang telah kehilangan orangtuanya. Tertulis juga jumlah uang yang telah diserahkan kepada keluarganya. Saya yakin uang itu takkan mampu menghapus rasa kehilangannya. Saat keheningan mulai menghampiri, pikiran tertuju pada sesuatu. Tubuh ini terasa sedikit bergetar bahkan hampir saja air mata ini mengalir.

Bagaimana jika yang meninggal adalah orangtusaya? Menjadi ‘malaikat kematian’ atas mereka. Lantas saya menuliskan namsaya sendiri di buku yang sekarang kupegang. Fikri Fachrudin, XII IPA 2, dst. Apakah saya sanggup melsayakannya? Rasanya tidak mungkin. Bahkan, diri ini juga tak tahu apakah saudara-saudara seperjuanganku dapat mengobati rasa sedihku, juga tak tahu apakah seseorang dari mereka bisa memberiku motivasi seperti yang biasa ia lsayakan. Entahlah. Itu artinya saya harus mulai semakin menata diri. Semoga orangtusaya bisa menyaksikanku kelak ketika sukses. Semoga.

Kematian memang nasihat terbaik. Tatkala langit telah memanggil. Tiada seorang pun yang mampu menolaknya. Tanah yang gelap nan sempit tengah menunggu setiap insan. Takut? Iya, wajar. Itu fitrah manusia. Namun, apakah ketakutan-ketakutan itu tidak membuahkan sesuatu? Amal yang baik misalnya. Semoga kita termasuk orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berbuat kebaikan. Hingga esok, saat hembusan angin yang menerpa tubuh, setiap jengkal tanah yang kita pijak, rembulan dan mentari yang senantiasa menyinari perjuangan kita, akan bersaksi pada-Nya tentang amal baik yang telah bergulir.

*Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali ‘Imran [3]:185)

(Sumber gambar: http://www.gencbirikim.net/infak-bilinci/)

Advertisements