A. Sinopsis Novel
Inti cerita dari novel karya Tere Liye ini adalah perjuangan menyelamatkan Bank Semesta oleh Thomas, konsultan keuangan profesional. Bank tersebut hendak ditutup karena suatu kasus. Jika bank itu ditutup, seluruh uang nasabah akan hangus dan pihak bank tidak bisa menagih piutang yang belum dibayar nasabah atau pihak lain. Tentu itu sangat mengancam dan merugikan Om Liem, pamannya Thomas sekaligus pemilik Bank Semesta. Dampak yang lebih besar lagi adalah adanya efek domino terhadap dunia keuangan. Uang para nasabah bisa selamat jika pemerintah memberikan dana talangan untuk Bank Semesta. Thomas harus beradu fisik dan strategi dengan petinggi-petinggi yang berkaitan dengan kasus Bank Semesta, orang-orang yang ingin mencari keuntungan saja. Ironisnya lagi dua orang dari mereka adalah sosok di balik pembakaran rumah dan pembunuhan dua orangtua kandung Thomas, Letnan Satu Wusdi dan Jaksa Muda Tunga. Tentu usahanya untuk menghadapi mereka semakin berapi-api.

Thomas selalu punya strategi dan keberanian untuk melarikan diri dari penjara, menang dalam pertempuran dengan pasukan yang menembakinya, beradu fisik dengan tangan kosong, bernegosiasi dengan seorang petinggi, hingga mengendalikan opini yang ada di media. Dia selalu dibantu oleh Maggie, Julia, dan Erik. Maggie adalah sekretaris Thomas yang sangat cekatan. Julia adalah wartawan profesional. Erik adalah rival Thomas di klub petarung. Akhir cerita, Bank Semesta tidak jadi ditutup berkat usaha keras dan cerdas dari Thomas beserta teman-temannya. Namun, kasus belum selesai. Masih ada sosok Tuan Shinpei, dalang utama di balik kasus Bank Semesta dan kematian orangtua Thomas. Pada kisah selanjutnya, novel Negeri di Ujung Tanduk, akan diceritakan perjuangan Thomas menaklukkan dia. Amanat dari novel Negeri Para Bedebah akan penulis paparkan di bawah ini.

B. Amanat Novel
1. Jaringan yang Kuat
Thomas termasuk anggota klub petarung. Klub petarung beranggotakan orang-orang penting yang memiliki jabatan tertentu seperti polisi, kepala imigrasi bandara, orang-orang pemerintahan, hingga eksekutif muda. Dia juga memiliki akses dengan ‘putra mahkota’, orang paling penting di salah satu partai yang berslogan katakan tidak pada koruptor. Sesuai namanya, agenda utama klub itu adalah mengadakan pertarungan dua orang. Itu hanya bentuk menyegarkan pikiran saja dari rasa penat setelah bekerja. Dalam perjalanannya menyelamatkan Bank Semesta, Thomas dibantu oleh orang-orang itu. Pihak yang menang berhak meminta bantuan apapun dan kapanpun kepada pihak yang kalah. Memiliki jaringan sangatlah penting. Suatu saat ketika kita mengalami kesulitan, akan ada orang-orang yang bisa dimintai pertolongan. Jika tidak mengenal orang-orang berpengaruh, para petinggi, atau orang-orang penting, setidaknya hal itu bisa diatasi dengan cara berteman akrab dengan kawan yang mengenal mereka.

2. Menepati Janji
Janji harus ditepati. Itulah kalimat yang sering kita dengar. Namun, bisa jadi sebuah janji sering kita langgar. Manusia memiliki fitrah untuk melakukan perilaku timbal balik. Jika temannya menepati janji, dia juga akan melakukan hal yang sama dan sebaliknya. Bila tidak ingin dibohongi, menepati setiap janji adalah solusinya. Novel ini menceritakan betapa penting dan sakralnya sebuah janji. Para anggota klub petarung terdidik untuk menepati janji, janji yang kalah terhadap yang menang.

*”Kau teman baikku sekaligus petarung. Aku percaya kau akan memegang janji, membayar kontan semua bantuan, kalimat yang kaukatakan di Jatiluhur”. (halaman 326)

*”Besok siang, jika keputusan komite adalah menyelamatkan Bank Semesta, seperti janjiku, aku akan membayar lunas semua bantuanmu, lengkap dengan bunga-bunganya. Itu janji petarung, kau tahu persis nilainya” (halaman 395)

3. Sosok di Balik Perjuangan
Perjuangan yang dilakukan Thomas tidaklah mudah. Andai ia melakukan semuanya sendirian, takkan ada kata kesuksesan. Maggie, dialah sosok paling berharga di balik perjuangannya. Dia rela bekerja sangat keras dan mengorbankan waktu bahkan nyawanya untuk membantu Thomas. Loyalitasnya luar biasa demi kebenaran dan perjuangan. Di dunia nyata pasti juga begitu. Ada seseorang di balik perjuangan sosok anak manusia. Maka dari itu, jangan pernah sia-siakan dukungan yang telah diberikan misalnya berupa semangat yang sangat menginspirasi. Dukungan juga bisa berwujud tenaga, pikiran, dan materi.

*Aku tersenyum lebar, menatap Maggie penuh penghargaan. “Terima kasih, Mag. Kau tahu, tanpa bantuanmu, aku tidak akan bisa melakukan apa pun dengan baik.” (halaman 320)

4. Sebuah Ketenangan
Ketenangan akan berujung kebaikan. Orang-orang yang tegang, gelisah, atau panik justru akan membuat dirinya tidak bisa berpikir secara baik. Pikiran yang baik mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi. Begitu juga dengan Kadek yang melarikan Om Liem dan Opa dari Wusdi, Tunga, dan petinggi-petinggi jahat lainnya. Sedikit saja ketenangan hilang darinya maka semuanya akan kacau. Karena itu, Thomas ingin Kadek bersikap tenang dan berpikir jernih.

*”Kau jangan panik, Kadek. Tetap terkendali, selalu berpikir jernih. Paham?” aku meneriakinya sebelum menutup telepon. (halaman 178)

*Kadek tertawa kecil. “Bukankah Pak Thom sendiri yang berpesan, saya jangan panik, saya tetap terkendali, saya selalu berpikir jernih. Nah, saya mendapat pencerahan dari pesan itu. Pak Thom-lah yang secara tidak langsung menyelamatkan Opa.” (halaman 202)

5. Pengalaman Masa Lalu
Tidak ada salahnya untuk mengingat kejadian masa lalu meskipun peristiwa itu sangat buruk. Suatu pelajaran berharga akan bisa diperoleh dari proses mengingat itu. Dengan demikian, langkah kehidupan selanjutnya akan lebih baik. Jika pengalaman buruk tidak masalah untuk diingat, pengalaman baik malah sangat tidak masalah untuk diingat karena pada dasarnya pengalaman adalah guru terbaik. Di dalam novel Negeri Para Bedebah Thomas mengingat kematian orangtuanya yang tragis, dibakar hidup-hidup. Dia menjadikan itu sebagai salah satu semangatnya untuk membalas dendam, tetapi dengan cara yang berkelas dan elegan, adu strategi, tidak seperti di film-film yang justru saling membunuh. Lagipula pada akhirnya Wusdi dan Tunga terkena karma, mati secara tragis karena diracun oleh Ram, orang yang dipercayainya. Opa juga pernah bercerita tentang Mata Picak. Thomas mendapatkan ide melompat dari pesawat bersama Rudi untuk untuk menghindari kepungan pasukan khusus yang hendak menangkap Thomas. Tentu saja itu dilakukan ketika roda pesawat telah menempel di tanah saat mendarat.

6. Kewaspadaan
Sungguh menyakitkan dan merugikan jika orang yang kita percaya justru melakukan pengkhianatan. Hal itu juga terjadi pada Thomas. Ram, orang kepercayaan Om Liem, justru adalah orang suruhan Tuan Shinpei, dalang utama kasus Bank Semesta. Thomas dan kawan-kawannya sempat disandera oleh Ram. Meskipun begitu, pada akhirnya Ram berakhir secara tragis, terjebak di sepotong laut yang hilang dari peta. Ada suatu pelajaran yang bisa diambil. Bersikaplah waspada terhadap ucapan, sikap, atau tindakan yang mencurigakan meskipun dilakukan orang kepercayaan! Waspada bukan berarti buruk sangka. Tindakan mencurigakan Ram di novel adalah sering bertanya kepada Thomas tentang keberadaan Om Liem yang sedang disembunyikan. Tentu sebelumnya Ram telah mendapat arahan dari Tuan Shinpei, Wusdi, atau Tunga.

*Orang terkadang lupa, orang-orang di sekitarnya yang selama ini terlihat biasa saja dan sederhana, justru adalah bagian terpenting dalam hidupnya. (halaman 269)

*”Dicoba, gagal. Dicoba, gagal lagi. Terus saja kaulakukan. Lama-lama kau tahu sendiri bagaimana seharusnya trik terbaik dan tidak mengulangi kesalahan yang sama” (halaman 290)

*”Semua baik-baik saja, Ram. Tidak selalu apa yang kaudengar seburuk yang sebenarnya.” (halaman 321)

Advertisements