Liburan semester memang menyenangkan semua mahasiswa. Tentu mereka telah melakukan beragam aktivitas untuk memanfaatkan lIburan tersebut. Mungkin dari mereka ada yang berjalan-jalan, nonton film di bioskop, duduk-duduk sambil berbincang bersama teman, bekerja paruhwaktu, membantu orangtua, atau tidur dan bersantai di rumah. Apapun yang telah dilakukan semoga bisa membawa manfaat. Saya memanfaatkan waktu di pasar selama tiga bulan libur kuliah. Membantu orangtua merupakan kegiatan yang dilakukan di sana. Sebagai manusia yang berakal, kita wajib mengambil hikmah atau pelajaran dari sesuatu. Manfaat utamanya adalah supaya kita bisa menjadi orang yang lebih baik dan bijak. Berikut delapan hikmah yang bisa dipetik selama saya memanfaatkan waktu libur kuliah di Pasar Babaan Surabaya.

1. Jujur
Zaman sekarang kalau jujur malah hancur.  Pernah mendengar ungkapan seperti itu? Tentu saja ungkapan tersebut menyesatkan. Justru kejujuran bisa membawa pada kebaikan. Segala puji bagi Allah karena saya memiliki orangtua yang jujur. Sebenarnya banyak peristiwa yang menunjukkan hal itu, tetapi cukup satu saja yang akan saya paparkan. Perhatikan percakapan berikut!

Pembeli  : “Beras mana yang bagus antara ini dan ini?” (menunjuk dua jenis beras)

Bapak     : “Yang ini harganya lebih mahal tapi ada sedikit gabah dan kerikilnya (sambil menunjukkan gabah dan kerikilnya). Yang ini harganya murah, cukup bersih berasnya.”

Pembeli   : “Ya sudah saya beli yang ini saja.” (menunjuk  beras yang lebih murah)

Strategi tersebut tampaknya merugikan karena beras yang mahal justru tidak terbeli. Namun, efek jangka panjangnya adalah orang-orang menjadi percaya dan membeli barang secara rutin. Jadilah orangtua saya memiliki banyak pelanggan saat ini. Alhamdulillah.

*Sisi universal: Kita tidak perlu takut, ragu, atau malu untuk untuk melakukan hal yang jujur. Dengan sikap jujur maka orang lain mendapat kebaikan dan manfaat selama jujurnya benar. Bukankah sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat untuk manusia lainnya?

2. Amanah
Satu di antara empat sifat para rasul adalah amanah. Sebagai orang beriman hendaknya kita meneladani mereka. Hal itu juga yang dilakukan orangtua saya dalam menjalankan usahanya. Contohnya adalah pada saat ada seseorang yang membeli beras satu karung dia minta berasnya dikirim di rumahnya pada tempat dan waktu tertentu. Anggap saja tempat dan waktunya di Jalan Melati nomor 8 pukul 09.00. Demi menjaga amanah itu maka orangtua saya mengirimkan pesanan pembeli tersebut ke rumahnya pada waktu yang tepat. Sebenarnya tidak masalah jika barangnya sampai ke tangan pembeli pada pukul sembilan lewat atau setengah sepuluh. Namun, kembali lagi pada prinsip bahwa menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh merupakan kebaikan.

*Sisi universal: Kecil atau besarnya amanah yang kita terima bukan menjadi penentu semangat kita untuk menjalaninya. Ada hal baik yang menunggu di sana. Siapakah sosok manusia yang patut diteladani di atas rasul, sang pemilik sifat amanah?

3. Waspada
Waspada bukan berarti buruk sangka. Pembeda utama antara keduanya adalah keberadaan hipotesis yang kuat. Buruk sangka hanyalah menduga-duga berdasarkan prasangka subjektif. Hal itu sangat berbeda dengan waspada. Orangtua saya telah menerima beberapa uang palsu selama belasan tahun berdagang. Ada juga uang yang asli, tetapi sebagian kertasnya hilang sehingga uangnya tidak bisa digunakan. Nominalnya mulai dari Rp5.000,00 sampai Rp100.000,00. Dari pengalaman itulah mereka bersikap waspada terhadap gerak-gerik pembeli yang mencurigakan seperti:

  • Membeli dengan uang yang sengaja dilipat hingga menjadi kertas kecil yang sangat kusut,
  • Membeli barang yang harganya rendah dengan menggunakan uang yang nominalnya sangat tinggi,
  • Menukarkan uang ke orangtua saya dengan sikap tergesa-gesa,
    Membeli sesuatu, tetapi perkataannya tidak jelas, patah-patah.

*Sisi universal: Ada beragam sifat dari orang-orang di sekitar kita. Sifat baik dan buruk pasti ada pada mereka. Lantas apakah salah jika kita bersikap waspada?

4. Harga
Kita tentu akrab dengan ungkapan sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Tidak jauh berbeda dengan ungkapan itu, orangtua saya juga menerapkannya. Laba yang diambil mereka tidak banyak (tidak perlu saya sebutkan nominalnya). Justru itulah yang membuat pembeli tertarik. Orangtua saya sadar bahwa kawasan di tempat mereka berjualan adalah kawasan menengah dan menengah ke bawah. Tentu penentuan harga sangat berperan jika kondisinya demikian.

*Sisi universal: Melakukan sesuatu tidak sekadar berbicara tentang seberapa besar hasil yang diperoleh. Setiap orang membutuhkan strategi dan pemikiran yang luas supaya apa yang dilakukan berefek jangka panjang. Meskipun hasilnya kecil, itu bukan masalah. Apakah kita ingin jika yang kita lakukan memiliki efek sangat besar tapi sementara?

5. Otak
Selama lIbur kuliah biasanya otak jarang dipakai untuk berpikir. Penyebabnya adalah tidak ada tugas, UTS, maupun UAS. Otak akan berkurang daya pikirnya jika jarang digunakan. Tiga bulan jarang menggunakan otak sudah cukup membuat fungsi organ tersebut melemah. Selama di pasar, saya disarankan oleh Ibu sebisa mungkin menghitung tanpa kalkulator jumlah harga yang dibeli oleh pelanggan atau pembeli biasa. Itu dilakukan supaya kinerja otak tetap terjaga. Hal yang mengejutkan dari Ibu adalah beliau bisa berbahasa Madura padahal bukan berasal dari tanah Madura. Ternyata Ibu sering berkomunikasi dengan pembeli atau tetangga yang berasal dari Madura. Mengapa kita susah berbahasa Inggris padahal sejak SD sudah diajarkan? Hal itu disebabkan oleh kita sangat jarang berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Otak belum terbiasa dengan bahasa Inggris. 

*Sisi universal: Gunakan akal sebaik mungkin! Saran yang singkat, jelas, dan padat. Apakah kita hendak menyia-nyiakan nikmat yang telah diberikan oleh Allah?

6. Ramah
Orang kota diidentikkan dengan sifat egois, tak acuh, cuek, dan sebagainya. Ketika ada orang kota yang memiliki sifat ramah, hal itu mungkin merupakan hal yang langka. Orangtua saya berasal dari Surabaya. Namun, saya melihat mereka begitu dekat dan ramah pada pembeli. Bahkan Ibu tahu kondisi detail beberapa pelanggan. Beliau mirip dengan tokoh utama novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye. Sekali lagi, berbisnis bukan sekadar mencari untung. Datangnya pembeli tiap hari adalah kebahagiaan tersendiri.

*Sisi universal: Orang lain akan senang jika kita bersikap ramah dan santun. Dengan begitu kita akan mendapatkan banyak teman. Tanpa bantuan orang lain bisakah kita menyelesaikan masalah yang sangat rumit dan besar?

7. Lelah
Ada ungkapan bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Kita tentu tahu ungkapan itu sejak kecil. Untuk mendapatkan sesuatu, kita harus bersusah-susah dulu. Yang menjadi permasalahannya adalah apakah kita mau berusaha keras demi mendapat sesuatu yang besar? Alhamdulillah orangtua saya adalah sosok pekerja keras. Cukup susah mendeskripsikan kerja keras mereka. Mereka berangkat pagi-pagi setelah salat subuh berjamaah di masjid, bolak-balik ke Danakarya (depan SMA Negeri 8 Surabaya) untuk membeli beras, mengantarkan pesanan para pembeli, melayani para pembeli di pasar dan lainnya. Mereka Lebih lelah lagi jika ada momentum zakat fitrah.  Lewat kerja keras itulah kami, anak-anaknya, bisa menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

*Sisi universal: Jangan mengeluh pada kesulitan-kesulitan yang kita hadapi! Dengan mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan biaya maka kesulitan itu akan berakhir. Apakah mengeluh bisa menyelesaikan permasalahan yang ada?

8. Kondisi

Istri        : “Mas, beli beras yang mana?”

Suami    : “Yang ini aja lho, bagus.” (menunjuk beras A)

Istri        : “Tapi yang itu mahal, ini aja lho.” (menunjuk beras B)

Suami    : “Yang itu murah, tapi lihat kualitas berasnya, kurang bagus.”

Istri        : “Terus gimana, uang kita…….” (sepertinya hendak bicara “pas-pasan”)

Suami  : “Ya udah gak apa-apa, kita beli yang ini, tapi jangan banyak-banyak.” (menunjuk beras A)

Percakapan tersebut terjadi pada pasangan yang baru menikah dan sedang menggendong bayi. Jika mereka memiliki banyak uang, mudah saja bagi mereka untuk membeli sekarung beras yang paling mahal. Namun, kondisi mereka berbeda. Mengapa suami memutuskan untuk membeli beras yang kualitasnya bagus meskipun sedikit? Kualitas lebih penting dari kuantitas. Bayi mereka membutuhkan makanan yang sangat baik. Alasannya mungkin seperti itu. Sepintas percakapan tersebut tampak biasa-biasa saja. Namun, jika ditarik ke hal yang lebih jauh lagi, ada pesan moral yang bisa diambil.

*Sisi universal: Waktu akan terus berjalan. Tahap demi tahap akan dilalui. Bagi semua orang terutama para pemuda alangkah baiknya selalu membangun diri. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Yang kita tahu hanyalah kesiapan kita menghadapi masa itu. Kesiapan fisik dan psikologis tentunya yang dibutuhkan. Satu, dua, tiga, belasan, atau puluhan tahun selanjutnya adalah misteri. Lalu, mengapa kita tidak segera mulai membangun diri?

 Catatan dari penulis:
Apapun profesi orangtua kita bukanlah menjadi masalah selama halal. Yang menjadi masalah adalah jika kita, anak-anak mereka, tidak bersyukur dan tidak berbakti pada mereka. Hal yang sangat bagus jika kita bisa membantu perekonomian keluarga dengan bekerja tanpa melalaikan kewajiban utama. Bagi yang tidak bekerja, persembahkan hal-hal baik, prestasi, atau sesuatu yang membanggakan dan menjanjikan pada masa mendatang!

Advertisements