Diary Depresi (Last Child)

Malam ini hujan turun lagi
Bersama kenangan yang ungkit luka di hati
Luka yang harusnya dapat terobati
Yang kuharap tiada pernah terjadi

Kuingat saat Ayah pergi, dan kami mulai kelaparan
Hal yang biasa buat aku, hidup di jalanan
Di saat ku belum mengerti, arti sebuah perceraian
Yang hancurkan semua hal indah
Yang dulu pernah aku miliki

Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian
Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandingkan dengan
Hidupku yang kelam
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan

Mungkin sejenak dapat aku lupakan
Dengan minuman keras yang saat ini kugenggam
Atau menggoreskan kaca di lenganku
Apapun kan kulakukan, kuingin lupakan

Namun bila ku mulai sadar, dari sisa mabuk semalam
Perihnya luka ini semakin dalam ku rasakan
Disaat ku telah mengerti, betapa indah dicintai
Hal yang tak pernah ku dapatkan
Sejak aku hidup di jalanan

Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian
Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandingkan dengan
Hidupku yang kelam
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan

1. Segi Musik
Lagu ini diawali dengan suara hujan dan guntur sebagai ilustrasi yang menunjukkan lagu ini terjadi saat hujan lebat. Intro lagu ini juga sederhana. Hal yang sama juga terjadi pada interlude yang cukup sederhana, tidak seperti interlude-nya lagu “meraih mimpi” milik J-rocks. Interlude terjadi pada menit ke 3.40 sampai menit ke 4.40. Reff lagu ini nadanya cukup tinggi sehingga akan terjadi fals jika tidak kuat ke nada itu bagi yang ingin menirukannya. Nada tinggi juga menunjukkan ekspresi luapan hati yang begitu hebatnya. Nada selain reff begitu bagus kemasannya sehingga bisa membuat orang yang menghayati lagu ini akan sedih.

2. Segi Lirik
Pada bait pertama lirik lagu ini mirip dengan puisi yang rimanya a-a. Bait lainnya tidak demikian karena malah akan terasa tidak indah. Dalam lagu ini memuat teori sastra yaitu patriarki (lawannya feminisme) dengan contoh ayah sangat berperan dalam pemberian nafkah kepada keluarga. Begitu ada perceraian maka semuanya akan hancur. Padahal menurut feminisme, perempuan juga layaknya bekerja sehingga jika ada perceraian, dampak buruk finansial bisa diminimalkan. Lagu ini juga bagus karena lirik lagu pada era 2000-an cenderung tentang cinta terhadap lawan jenis. Namun, lagu ini justru bertema realitas sosial.

3. Segi Isi
Lagu ini menceritakan betapa terpuruknya kondisi fisik dan psikis seorang pemuda ketika harus menghadapi perceraian orang tuanya sehingga ia menjadi anak jalanan. Lagu ini mengingatkan kita untuk meningkatkan kepekaan sosial di tengah keegoisan yang begitu hebat. Secara tidak langsung lagu ini juga menyindir ‘orang-orang yang ada di atas sana’ supaya memperhatikan kondisi anak-anak terlantar. Bukankah di pasal 34 ayat (1) UUD 45 telah disebutkan ‘fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara?’

Catatan Penulis
*Sering-seringlah mendengar lagu semacam ini supaya bisa meningkatkan kepekaan sosial dan menguatkan mental! Lagu bertema cinta lawan jenis cenderung membentuk mental yang lemah, semangat yang rendah, dan angan-angan yang terkadang terlalu tinggi.

*Jika ada teman kita yang prilakunya sangat aneh, emosional atau murung terus, kita tidak boleh langsung memojokkan dia. Barangkali dia adalah korban broken home yang perlu diberi semangat dan kebahagiaan supaya bisa melupakan masalahnya.

*Berusahalah menguatkan kejiwaan karena ketika jiwa lemah dan terkena musibah dapat dipastikan akan melakukan hal buruk! Di lirik lagu tersebut terdapat contoh orang yang minum miras dan melukai diri dengan kaca sebagai luapan emosi.

(Sumber gambar: http://www.lagubaruku.com/download-lagu-last-child-mp3)