Alam telah menyediakan banyak hal untuk kita ambil filosofinya. Contoh sederhananya adalah padi. Darinya kita belajar bahwa semakin tinggi pengetahuan atau jabatan seseorang maka hendaklah ia semakin rendah hati. Contoh lain yang sering kita jumpai adalah filosofi buih di lautan. Janganlah kita seperti buih di lautan yang jumlahnya banyak, tetapi memiliki kekuatan yang lemah dan mudah hancur! Namun, ada suatu hal yang bisa jadi sangat jarang diambil filosofinya. Saya mengistilahkan hal itu dengan sebutan ragam bentuk kata-kata. Dari hal tersebut ada sebuah pelajaran yang bisa dipetik. Entah tulisan ini sifatnya terkesan sekadar menghubung-hubungkan atau bukan, saya serahkan kepada pembaca. Berikut uraian artikel filosofi dari ragam bentuk kata-kata.

1. Suku KataUkhuwah

(a) Per ja lan an

(b) Per-ja-lan-an

Bentuk kata pada butir (a) pasti tidak pernah kita jumpai. Setiap suku kata terpisah tanpa tanda hubung sehingga tidak jelas apa maksud dari per, ja, lan, dan an. Bentuk kata pada butir (b) tentu sering dijumpai bila kita ingin memisahkan kata berdasarkan suku katanya. Di setiap suku kata terdapat tanda hubung (-) sehingga jelas maksud di setiap bagiannya. Per adalah awalan, ja dan lan adalah pemisahan suku kata jalan sedangkan an adalah akhiran. Filosofinya adalah kita harus berusaha mempererat tali persaudaraan dan tetap terhubung dengan saudara, sahabat, dan orang-orang yang sangat berarti buat kita. Memang kita tidak bisa menghindar dari kewajiban-kewajiban yang harus dijalani. Namun, teknologi saat ini bisa membuat seseorang tetap terhubung dengan orang lain meskipun berada pada jarak yang jauh. Terlebih ada waktu-waktu libur tertentu yang memungkinkan kita bisa berkunjung ke mereka.

*Sedih sekali ketika teman baik menghindar, kemudian menjauh, menjadi orang asing. Ayo, persahabatan kita jauh lebih penting dibandingkan egoisme sesaat, pun kesalahpahman, maupun batu kerikil kecil lainnya. (Status Facebook Tere Liye)

2. HomonimSifat

(a) Bisa

(b) Rapat

Kata bisa memiliki dua makna yaitu mampu dan racun. Kata rapat memiliki dua makna pula. Makna pertama ialah kondisi saat tidak renggang. Makna kedua adalah pertemuan untuk membicarakan sesuatu. Filosofinya adalah dalam tubuh seseorang pasti memiliki dua sifat, yaitu sifat baik dan sifat buruk. Dua sifat itu ada pada satu tubuh, mirip seperti homonim yang terdapat dua makna pada satu kata. Suatu saat entah sengaja atau tidak, teman, sahabat, guru, atau siapa saja mungkin melakukan kesalahan pada kita. Nah, bagaimana cara menyikapi yang bijak? Novelis Tere Liye memberikan jawaban seperti ini:

*Menyakiti balik orang2 yang menyakiti kita boleh jadi memang memberikan rasa puas, kebahagiaan. Biar tahu rasa. Tapi hakikat terbaik dari pembalasan justeru saat kita bisa melakukannya, tapi kita memilih memaafkannya. Melupakannya. Itu sungguh akan memberikan rasa puas, kebahagiaan yang lebih hakiki. Lebih menentramkan. (Status Facebook Tere Liye)

*Kesabaran selalu menaklukkan apapun. (Kutipan buku Sepotong Hati yang Baru karya Tere Liye)

3. ImbuhanKesungguhan

(a) Ajar

(b) Belajar, pengajar, pembelajar, pelajar, mengajar, ajaran, ajarkan, mengajarlah, ajari, pengajaran, kepengajaran, pelajaran, pembelajaran, mengajari, dan mengajarkan

Kata pada butir (a) adalah kata dasar yang terdiri atas empat huruf, tiga fonem, dan dua suku kata, sederhana sekali. Bandingkan dengan kata-kata pada butir (b) yang memiliki imbuhan sehingga mengalami perubahan dari bentuk asalnya! Serumit apapun kata tersebut yang penting kita ingat dan tahu kata dasarnya. Begitu pun manusia, awalnya ia sangat sederhana, yang dimengerti sedikit, dan keterampilannya rendah.  Lambat laun jika berproses, dia akan menjadi lebih ‘kompleks’. Bila seseorang memiliki keterampilan mengajar, ia bisa menjadi guru. Bila ada orang yang memiliki keterampilan mengemudikan pesawat, ia bisa menjadi pilot. Bila ada orang yang ahli dalam menyembuhkan secara medis orang sakit, ia dapat menjadi dokter. Masih banyak contoh yang lain. Mencapai suatu profesi yang kita inginkan tidaklah mudah. Belajar, kerja keras, kerja cerdas, motivasi, dan doa akan sangat membantu tercapainya cita-cita yang diinginkan. Sebuah cita-cita karir yang kelak bisa bermanfaat bagi masyarakat tentu sangat didambakan semua orang. Orang-orang yang paham akan kebermaknaan hidup tentunya.

*”Hidup ini tidak seperti roda seperti yang dikatakan orang-orang, Fik. Karena jika seperti itu, maka hidup ini tak ada akhirnya (terus berputar). Hidup ini seperti sebuah garis yang memiliki titik start dan finish. Garis tersebut kadang naik, lurus, bahkan turun. Nah, bagaimana caranya supaya hidup ini sering lurus bahkan naik dan menuju kebaikan? Ada sunnatullah-sunnatullah kesuksesan yang harus dijalani. Itu pilihan, Fik. Terlepas pilihan itu sulit atau mudah” (Ujaran Mbak Putri Asmarani, saudara saya)

*“Kalian mungkin memiliki masa lalu yang buruk, tapi kalian memiliki kepal tangan untuk mengubahnya. Kepal tangan yang akan menentukan sendiri nasib kalian hari ini, kepal tangan yang akan melukis sendiri masa depan kalian” (Kutipan novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye)

4. Perubahan Letak HurufAkal

(a) Tuhan
-Hantu
-Hutan
-Tahun

(b) Dan
-And
-DNA (Deoxyribonucleic Acid)
-ADN (Asam Deoksiribonukleat)
-NAD (Nangroe Aceh Darussalam)
-NDA (Non-Disclosure Agreement)

Kreatif. Ya, itu adalah kata yang bisa tergambar jika melihat tulisan di atas. Dari huruf-huruf yang sama bisa dihasilkan berbagai kata-kata maupun singkatan. Lantas filosofinya bagaimana? Kita memiliki dua mata. Kita juga memiliki dua tangan. Hati (kalbu) dan akal juga pasti dimiliki setiap manusia. Masih banyak sebetulnya anugerah lainnya. Dengan ‘modal’ yang sama semestinya tiap manusia bisa menjadi sesuatu yang berarti. Bukankah kata-kata dan singkatan di atas juga memiliki arti dengan modal huruf-huruf yang sama? Hanya saja terkadang manusia tidak mengoptimalkan potensi yang ada pada dirinya. Tentu mereka punya alasan masing-masing. Satu nikmat dari-Nya yang hebat adalah pikiran. Manusia mampu mencapai tujuannya dengan pikiran yang dimilikinya. Entah baik atau buruk tujuannya yang menjadi suatu faktor penting tercapainya tujuan adalah penggunaan akal.

*”Tahukah Tuan hal yang paling menyedihkan di dunia ini? Bukan! Bukan seseorang yang cacat, memiliki keterbatasan fisik, bukan itu! Melainkan seseorang yang sehat, normal, sempurna fisiknya, tapi justru memiliki keterbatasan akal pikiran. Bebal. Bodoh” (Kutipan novel Moga Bunda Disayang Allah karya Tere Liye)

5. Penilaian yang Salah Terhadap Suatu KataAnggapan

(a) Tilang

(b) Acuh

Selama ini mungkin ada orang yang beranggapan bahwa kata tilang merupakan kata kerja biasa seperti tulis, tidur, dan tambah. Akan tetapi, tilang merupakan sebuah akronim. Tilang adalah kependekan dari bukti pelanggaran. Kata acuh juga sering disalahartikan oleh sebagian orang. Acuh sering diartikan sebagai tindakan tidak memperhatikan, tidak memedulikan, dan cuek. Akan tetapi, justru acuh artinya adalah peduli; mengindahkan. Sungguh dua hal yang sangat bertolak belakang. Begitulah fenomena yang bisa kita ambil sebuah pelajaran. Tidak semua yang banyak itu benar. Tidak semua hal yang sudah jelas terlihat memang begitu adanya. Ada hal-hal tersirat di balik itu. Pemikiran yang objektif dan hati-hati mutlak diperlukan untuk urusan itu.

*Orang bawa bantal, belum tentu tidur. Orang bawa handuk, pun belum tentu bakal mandi. Orang yang bawa piring, juga belum pasti akan makan. Di dunia ini banyak sekali yang sudah terlihat begitu, ternyata memang belum tentu akan begitu. (Status Facebook Tere Liye)

6. Perubahan Satu HurufSederhana

(a) Suka

(b) Duka

“Jangan pernah meremehkan hal-hal kecil karena bisa besar dampaknya suatu saat!” Kata-kata tersebut tentu sering kita dengar entah dari orangtua, guru, atau sahabat. Suka dan duka merupakan hal yang berlawanan. Sedikit saja perbedaan di antara dua kata itu. Akibatnya bisa fatal jika kita salah membaca, menulis, berbicara atau menyimak dua kata yang mirip itu. Filosofi dari uraian nomor enam ini terletak pada kalimat pertama. Kita tidak perlu berkecil hati bila perbuatan kita sederhana dibandingkan orang lain. Selama kita ikhlas dan perbuatan itu bermanfaat maka bisa jadi nilainya lebih tinggi. Kita tidak tahu berapa nilai kebaikan yang telah dilakukan karena yang tahu persis adalah Yang Maha Mengetahui. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan. Aamiin.

*”Ray, kecil-besar nilai sebuah perbuatan, langit yang menentukan, kecil-besar pengaruhnya bagi orang, langit juga yang menentukan. Bukan berdasarkan ukuran manusia yang amat keterlaluan mencintai dunia” (Kutipan novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye)

7. Padanan KataBaru

(a) Lotion, baby sitter, layout, snack, online, full time, dan laminating

(b) Calir, pramusiwi, atak, kudapan, daring, purnawaktu, dan penyalutan

Semua orang tentu mengenal kata-kata pada butir (a). Namun, apakah semua orang juga mengenal kata-kata pada butir (b)? Sebenarnya banyak padanan kata dari bahasa asing yang belum diketahui. Bisa jadi karena kita tidak mau belajar atau sedikitnya informasi yang diterima. Filosofinya adalah banyak hal yang belum kita ketahui di dunia ini tentang ilmu, alam, kondisi sosial, dan masih banyak lagi. Beberapa orang melakukan aktivitas tertentu untuk mengetahui dan belajar hal-hal baru. Ada yang melakukan perjalanan. Ada pula yang mencoba hal-hal baru. Yang penting adalah kegiatan itu positif dan bermanfaat.

*Pergilah melihat dunia, kunjungi lembah2 luas, lereng2 gunung. Datangilah padang2 rumput, padang2 pasir. Lihatlah kota2 gemerlap, desa2 damai tenteram. Bukan karena dengan begitu, kita akan mengerti banyak hal. Bukan pula kita akan jadi lebih tahu banyak hal. Apalagi jadi punya koleksi foto2 keren di tanah orang. Di atas segalanya, saat kita kembali, sungguh, kita akan menjadi ‘orang yang berbeda’. (Status Facebook Tere Liye)

* Dua puluh tahun dari sekarang, kita akan lebih menyesal atas hal-hal yang tidak pernah kita lakukan, bukan atas hal-hal yang pernah kita lakukan meski itu sebuah kesalahan (Kutipan novel Moga Bunda Disayang Allah karya Tere Liye)

8. Perangkaian dan Pemisahan Dua Kata–>Hati

(a) Bos ok

(b) Bosok (memiliki arti busuk alias basi dalam bahasa Jawa)

Tibalah kita pada akhir artikel ini. Pembahasan tentang perangkaian dan pemisahan dua kata sengaja diletakkan terakhir karena yang dibahas adalah sesuatu yang harus diletakkan ‘di belakang’ jika belum siap. Perasaan suka terhadap lawan jenis memang fitrah dari manusia. Teori hierarki kebutuhan dasar manusia dari Abraham Maslow juga menjelaskannnya. Manusia butuh memenuhi rasa memiliki dan kasih sayang. Hanya saja kesabaran mutlak diperlukan dalam urusan perasaan. Pada butir (a) terlihat bahwa dua kata yang terpisah justru bermakna baik. Bos ok memiliki arti atasan yang baik. Pada butir (b) justru makna yang muncul bersifat tidak baik. Bosok memiliki arti busuk dalam bahasa Jawa. Makna itu muncul ketika kata bos dan ok dirangkai. Hal itu juga sama dengan manusia. Jika tidak bisa melihat kondisi dan tidak sabar, ‘penyatuan hati’ dua manusia akan memiliki sifat dan dampak yang buruk. Namun, jika telah memiliki kesiapan dan ada kesesuaian, hendaknya segera ‘menyatukan hati, visi, dan tujuan’. Menyatukan hati apakah maksudnya sama dengan pacaran? Kata-kata indah di bawah ini akan menunjukkan jawabannya secara tersirat. Semoga bisa dipahami.

*Orang-orang yang merindu, namun tetap menjaga kehormatan perasaanya, takut sekali berbuat dosa, memilih senyap, terus memperbaiki diri hingga waktu memberikan kabar baik, boleh jadi doa-doanya menguntai tangga yang indah hingga ke langit. Kalaupun tidak dengan yang dirindukan, boleh jadi diganti yang lebih baik. (Status Facebook Tere Liye)

(Sumber gambar: http://blog.dnwahyudi.com/2014/01/tulisan-jelek/)

Advertisements