Manusia adalah makhluk sosial yang mau tidak mau akan senantiasa berinteraksi dengan orang lain entah itu interaksi yang sifatnya asosiatif atau disosiatif. Interaksi asosiatif adalah hubungan timbal balik yang mengarah kepada kebaikan dan persatuan, sedangkan interaksi disosiatif bersifat sebaliknya. Kita sebagai manusia tentu saja pernah melakukan dua tipe interaksi tersebut kepada orang lain. Namun, yang akan dibahas di sini adalah interaksi disosiatif, yaitu pemberian kenangan buruk pada orang lain.

Kenangan adalah kesan yang pernah dirasakan dan diingat seseorang mengenai suatu peristiwa pada masa lalu. Namun, sebagian orang berpendapat kenangan itu harus lama waktunya entah setahun atau sebulan yang lalu. Sejam atau semenit yang lalu pun juga termasuk peristiwa yang bisa dijadikan kenangan. Pemberian kenangan pada orang lain bisa dilakukan dari aspek yang berbeda-beda, bisa melalui ucapan, tindakan, atau sikap. Jika ada kenangan baik, pasti ada lawannya, yaitu kenangan buruk. Mengapa kita tidak boleh memberikan kenangan buruk pada orang lain? Inilah beberapa dampak negatifnya.

1. Berpotensi Menimbulkan Trauma
Jika suatu perlakuan diberikan secara keras terhadap orang lain, orang tersebut bisa trauma. Contohnya adalah interaksi antara murid dan guru. Suatu hari si murid tidak bisa mengerjakan sebuah soal matematika. Soal tersebut berkategori mudah. Hanya saja saat itu si murid tidak konsentrasi karena sedang memikirkan masalah di rumahnya. Akhirnya, si guru pun berkata dengan nada tinggi, “Kamu itu bodoh, soal seperti ini saja gak bisa!” Murid tersebut perempuan dan memiliki mental yang lemah. Tentu saja dia langsung down dan selalu ada rasa takut jika bertemu dengan guru itu. Dia juga trauma ‘dekat-dekat’ dengan matematika. Dua hikmah yang bisa dipetik, yaitu berkatalah yang baik dan jangan langsung memvonis sebelum tahu latar belakangnya.

2. Bisa Mengubah Karakter/Sifat
Satu di antara dua karakter manusia adalah extrovert. Manusia dengan karakter seperti itu cenderung mudah bergaul, terbuka, aktif, dsb. Ketika memperoleh kenangan yang buruk, karakter itu bisa berubah 180 derajat. Hal itu disebabkan ketidaksiapan mental atau pikiran dalam menghadapi masalah yang ada. Jika ada berita tentang tindakan asusila, presenter sering berkata, “Sejak peristiwa itu, sebut saja Bunga, selalu murung dan menyendiri di rumahnya padahal dulunya ia termasuk anak yang periang di sekolahnya.” Ada pula yang sifatnya berubah menjadi emosional atau kadang-kadang melakukan tindakan atau ucapan yang tidak jelas. Perhatikan teman-teman di sekitar kita pasti ada yang semacam itu! Hampir dapat dipastikan ia telah mengalami kejadian buruk.

3. Berpotensi Menimbulkan Balas Dendam
Alasan itu sangat logis karena korban ingin melampiaskan sakit hatinya pada pelaku atau korban ingin pelaku merasakan sakit yang ia rasakan. Jika ada momentum yang tepat, akan ada praktik balas dendam ini. Tak jarang pula balas dendamnya melebihi apa yang pernah dilakukan pelaku. Rantai kejahatan pun takkan putus. Meskipun membalas setimpal dibolehkan, tetapi lebih baik jika memaafkan.

*Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. (Asy Syura[42]: 40)

4. Dapat Mengubah Pandangan (Pemikiran)
Masih ingatkah kita dengan peribahasa karena nila setitik rusak susu sebelanga? Dalam peribahasa itu terlihat bahwa sekecil apapun keburukan yang dilakukan dapat merusak kebaikan sebesar apapun. Hal itu bisa menjadi sangat merugikan bagi orang-orang yang berusaha konsisten dalam berbuat baik. Jika mereka melakukan kesalahan yang sangat fatal terhadap orang lain, bisa dipastikan orang lain itu tidak akan percaya bahkan benci terhadapnya sekalipun kebaikannnya ibarat seluas samudera. Introspeksi dan manajemen diri perlu dilakukan dalam hal ini.

*Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan (Yunus[10]: 27)

*Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (Ar Rahman[55]: 60)

Catatan Penulis

*Berusahalah memahami karakter orang-orang yang kita kenal supaya bisa mencegah mereka emosi, kecewa, dsb karena tindakan, sikap, atau ucapan kita!

*Berusahalah memberikan kesan yang baik pada setiap orang supaya tidak ada keburukan atau kejahatan yang muncul!

*Jangan pernah berbuat buruk pada orang lain jika kita tidak mau diperlakukan buruk!

(Sumber gambar: https://okepuisi.blogspot.co.id/2014/05/puisi-perasaan-hati-ini.html)

 

Advertisements