Menurut KBBI, bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Terlihat jelas, bahasa hanya digunakan oleh manusia. Bagaimana dengan adanya istilah bahasa hewan? Hewan berinteraksi dengan menggunakan isyarat berupa bunyi-bunyian, perilaku tertentu, atau pengeluaran zat tertentu yang dipahami oleh hewan lainnya. Bagaimana dengan bahasa tubuh? Penggunaan istilah bahasa tubuh tidak dibenarkan. Bahasa merupakan sistem lambang bunyi, sedangkan bahasa tubuh tidak memiliki sistem tersebut. Istilah isyarat atau gerak tubuh lebih tepat digunakan.

Ada empat jenis keterampilan dalam berbahasa. Menyimak, membaca, menulis, dan berbicara adalah empat keterampilan berbahasa tersebut. Keterampilan-keterampilan itu dibagi menjadi dua kelompok, yaitu reseptif dan produktif. Menyimak dan membaca termasuk dalam kelompok reseptif. Kelompok produktif terdiri dari menulis dan berbicara. Tingkat kemahiran seseorang dalam tiap keterampilan berbahasa berbeda-beda. Ada yang rendah, sedang, hingga tinggi. Namun, seiring proses yang dilakukan maka seseorang bisa saja mahir pada semua keterampilan berbahasa. Seseorang yang pandai berbahasa akan semakin bermanfaat untuk masyarakat. Bukankah fungsi dari bahasa adalah untuk bekerja sama dan berinteraksi di masyarakat? Orang-orang juga mengerti bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk masyarakat. Melalui bahasa semoga kita bisa membawa kebaikan dan manfaat bagi orang lain dan masyarakat. Berikut ulasan ringkas tentang keterampilan berbahasa.

1. Keterampilan Menyimak
Menyimak tidak sekadar mendengar. Itulah hal pertama yang harus dipahami. Menyimak adalah mendengarkan (memperhatikan) baik-baik apa yang diucapkan orang. Mendengar hanya sampai pada tingkat dapat menangkap suara (bunyi) dengan telinga, tidak tuli. Jadi, perbedaan utamanya terletak pada kefokusan dan perhatian terhadap suatu ujaran.

Menyimak termasuk dalam kelompok reseptif. Artinya, orang yang menyimak hanya bisa menerima suatu informasi atau pengetahuan. Meskipun begitu, keterampilan menyimak perlu ditingkatkan. Beragam ilmu bisa didapatkan melalui kegiatan menyimak. Dengan ilmu yang dimiliki maka seseorang bisa membuat karya yang bermanfaat bagi khalayak. Dengan ilmu pula seseorang bisa menciptakan suatu perubahan bagi dirinya, orang-orang terdekatnya, saudaranya, bahkan masyarakat luas. Sederhana saja langkah awal yang perlu dilakukan, menyimak.

Setiap hari pertemuan antarmanusia selalu terjadi. Mereka pun pasti mengadakan suatu interaksi. Contohnya adalah interaksi antara pendidik dan peserta didik. Bagi para peserta didik, pelajar atau mahasiswa, suatu penjelasan yang disampaikan pendidik adalah suatu ilmu. Menyimak penjelasan dari mereka sudah seharusnya dilakukan meskipun cara menjelaskannya kurang baik. Suatu saat ilmu itu akan bermanfaat. Peserta didik yang tidak menyimak penjelasan dari pendidiknya adalah manusia yang sombong, seolah-olah tidak butuh ilmu itu. Mari kita menjadi penyimak yang bijak! Sesuatu yang baik diambil dan yang buruk dibuang.

2. Keterampilan Membaca
Membaca memiliki berbagai tingkatan. Mulai dari mengucapkan suatu teks dengan lantang hingga membaca alam atau kondisi masyarakat. Namun, dalam konteks bahasa membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis dengan melisankan atau hanya dalam hati. Ketika seseorang telah membaca, tetapi tidak paham isinya bisa jadi dia hanya melihat teks saja.

Pada dasarnya membaca bisa dilakukan setiap hari bahkan membaca pasti dilakukan setiap menit. Contohnya adalah membaca tulisan di kemasan makanan, membaca papan petunjuk jalan, membaca buku, hingga membaca pesan singkat di ponsel. Bagaimana dengan membaca ‘status-status’ yang ada di beragam media sosial? Saya rasa tidak ada masalah dengan hal itu. Hal tersebut menjadi masalah ketika berdampak negatif pada pembaca. Beberapa dampak negatifnya adalah kelalaian dalam menyelesaikan tugas utama, semangat belajar yang melemah, dan meningkatnya kadar emosional pembaca.

Seorang pelajar perempuan pernah bertanya kepada saya. Dia bertanya tentang bagaimana cara menulis yang baik. Berikut kutipan dialognya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Pelajar : “Mas, bagaimana ya supaya bisa menulis yang baik itu, merangkai kata-kata, seperti kamu.”

Saya: “Ya dengan membaca. Dengan membaca kita bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan. Setelah itu tinggal dijadikan sebuah tulisan.”

Pelajar: “Tapi aku malas membaca, Mas (tersenyum). Apalagi kalau bukunya tebal, tulisan saja isinya.”

Saya: (tersenyum) “Ya dibaca dulu apa yang kamu sukai. Setelah itu membaca bidang yang tidak kamu suka, bidang lain, begitu.”

 

Ada satu realitas dalam dialog tersebut. Seorang siswa yang berinteraksi dengan buku dari pagi hingga sore di sekolah belum tentu memiliki minat baca yang tinggi padahal tingginya minat baca sangat penting. Membaca hal yang disukai adalah langkah pertama meningkatkan minat baca. Setelah itu alangkah baiknya membaca sesuatu terkait bidang lainnya yang bermanfaat. “Saya sangat suka membaca tulisan-tulisan di media sosial.” Jika ada yang beranggapan seperti itu tidak ada masalah. Alangkah baiknya jika pengguna media sosial mengikuti atau menyukai halaman-halaman yang berisi tentang motivasi, berita, dan pengetahuan. Dengan begitu menggunakan media sosial akan membawa manfaat, tidak sekadar membuang waktu. Semoga kita menjadi pembaca yang bijak, mampu menyaring segala informasi dan menggunakannya untuk kebaikan.

3. Keterampilan Berbicara
Berbicara merupakan kegiatan melisankan isi pikiran atau perasaan untuk tujuan tertentu. Dengan berbicara maka orang lain akan mengerti apa yang kita inginkan. Terlalu pendiam adalah sifat yang kurang baik. Orang lain ‘dipaksa’ untuk mengerti isi pikirannya. Tentunya sangat sulit membaca pikiran orang lain. Terlalu banyak bicara juga tidak baik. Terkadang orang yang seperti itu banyak berbicara tentang hal-hal yang tidak penting. Menyesuaikan situasi dan kondisi adalah cara yang bijak untuk berbicara.

Manusia adalah makhluk sosial. Mereka selalu berinteraksi dan saling membutuhkan terhadap manusia lainnya. Tentu hal tersebut bisa terjadi melalui kegiatan berbicara. Lebih dari itu berbicara ternyata mampu membawa manfaat yang luar biasa bagi masyarakat. Contoh sederhananya adalah seorang pengajar. Ia memperoleh suatu kebermaknaan dengan cara membagikan ilmunya. Pengajar hal apapun selama ilmunya baik akan mendapat sebuah kemuliaan. Saya tidak mengatakan bahwa pengajar itu harus guru. Pengajar adalah orang yang mengajarkan ilmu seperti guru, dosen, motivator, dan instruktur. Siapa saja bisa juga menjadi sosok pengajar jika ilmu yang dimiliki dibagikan pada orang lain. Dengan adanya pembagian ilmu tersebut maka secara perlahan dan pasti diri sendiri, orang-orang terdekat, hingga masyarakat akan berubah pola pikirnya. Sungguh beruntung orang-orang yang memanfaatkan masa hidupnya untuk membangun masyarakat melalui pembagian ilmu tersebut.

Apakah pernah ketika kita berbicara di depan umum, tetapi kita tidak diperhatikan? Tidak masalah. Beberapa manusia mulia terdahulu justru dilempar batu, diludahi, dicela, hingga diancam akan dibunuh ketika mereka menyampaikan ilmunya. Itu merupakan sebuah pembelajaran bagi kita. Tidak setiap yang benar itu didengar. Tetaplah berproses! Berproses menjadi sosok pembicara yang santun dalam berkata, etis dalam bertindak, dan rasional dalam berpikir.

4. Keterampilan Menulis
Menulis adalah menuangkan isi pikiran atau perasaan melalui tulisan. Persamaan antara menulis dan berbicara adalah keduanya termasuk keterampilan berbahasa yang produktif. Artinya, dengan menulis dan berbicara seseorang pasti memunculkan suatu luaran (output). Menulis bisa dilakukan hampir setiap saat yang sepertinya terjadi pada anak muda sekarang. Mereka hampir setiap saat menulis sesuatu di media sosial. Tentu hal itu berbeda dengan berbicara. Sangat jarang terjadi ketika seseorang berbicara, tetapi tidak ada lawan bicaranya. Berbicara memerlukan suatu situasi yang tepat, berbeda dengan menulis.

Setiap manusia harus berkarya. Itulah prinsip yang harus tertanam dalam diri setiap orang. Mengapa seperti itu? Manusia telah dibekali Tuhan berupa akal, perasaan, dan fisik yang luar biasa. Cara bersyukur terbaik adalah menghasilkan karya melalui tiga hal itu. Kita telah mengetahui bahwa ada empat macam keterampilan berbahasa. Dua di antaranya bersifat produktif. Keterampilan berbahasa yang produktif inilah yang mampu menghasilkan karya. Bagi yang lemah dalam hal berbicara, menulis merupakan solusi tepat untuk berkarya. Menulis apa saja tidak masalah selama bermanfaat. Contohnya adalah menulis puisi, opini terkait suatu kejadian, kata-kata bijak, kritik terhadap sesuatu, dan masih banyak lagi.

Orang yang terbiasa berpikir maka pikirannya akan terlatih. Begitu juga dengan berbicara dan menulis. Bagaimana cara menghasilkan tulisan yang baik? Banyak-banyaklah menyimak dan membaca sesuatu yang bermanfaat dan biasakan diri untuk berpikir! Dengan perpaduan tiga hal itu bukan tidak mungkin setiap manusia bisa menghasilan tulisan yang baik dan bermanfaat untuk masyarakat. Sayangnya, kemajuan zaman dan teknologi bisa menurunkan daya pikir, minat baca, dan menyimak khususnya bagi remaja. Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak rela daya pikir ini terampas oleh kemajuan teknologi. Semoga kita menjadi pribadi yang bisa ‘menggenggam’ kegiatan membaca di tangan kanan dan menyimak di tangan kiri sehingga tercipta segitiga emas ilmu antara berpikir, membaca, dan menyimak. Segitiga yang nantinya menjadi awal membangun diri dan masyarakat. Segitiga yang menjadi dasar untuk membuat perubahan melalui ucapan dan tulisan.

(Sumber gambar: https://othersidemiku.wordpress.com/2013/06/26/bahasa-dan-berbahasa/)

Advertisements