Assalamu’alaikum,

Bagaimana kabarmu hari ini? Semoga tetap dalam naungan langit Yang Agung. Langit yang tak pernah berhenti mencurahkan nikmat. Langit yang senantiasa memberikan hidayah bagi mereka yang mau menghayati tanda-tanda kekuasaan-Nya. Kalian tentu telah mengenalku. Ya, aku adalah sang hujan, butiran-butiran air yang jatuh dari langit. Kala musim hujan, hampir tiap hari diriku bertemu denganmu ketika engkau sedang di rumah, di jalan, tempat belajar, atau tempat bekerja. Tak jarang orang-orang membenci kehadiranku. Namun, di tengah-tengah itu selalu ada mereka, para pencinta hujan. Untukmu, Kawan, akan kutunjukkan arti hadirku di bumi.

Kalian suka tumbuhan? Aku suka. Mereka, para tumbuhan, akan lebih berkembang dengan hadirnya diriku. Butiran-butiran air yang tersebar, jatuh, lalu menyentuh daun, mengalir di dahan-dahan berkelok, terus dan terus turun hingga menyelinap di celah-calah tanah. Lalu? Para tumbuhan itu akan berkembang, menghasilkan bunga atau buah karena peranku. Begitulah. Hidup ini akan indah bila kita bisa bermanfaat untuk orang lain, menebarkan kebaikan, menyebarkan kemaslahatan, sama seperti sang hujan.

“Permukiman warga di beberapa kota terendam banjir. Warga diimbau untuk segera mengungsi.” Begitu kalimat dari manusia yang pernah terdengar olehku. Itu sebabnya mereka membenciku. Seolah makhluk terhina di alam ini adalah hujan. Bukankah tiap orang harus mencegah keburukan yang kelak akan menghampiri, bersiap atas kemungkinan terburuk, lantas melakukan apa yang bisa dilakukan sembari menunggu kabar baik? Begitu juga diriku yang telah bersiap, tak bisa menemui para pencinta hujan bila mentari telah mengikrarkan tibanya musim kemarau.

Hampir selalu aku ditemani dua sahabatku ketika di bumi, mendung dan kilat. Kami sering beriringan. Terkadang aku kasihan pada anak kecil yang takut lalu menangis karena ulah sang kilat. Bahkan, sahabatku itu pernah membuat nyawa orang melayang. Termasuk diriku pula dengan banjir yang besar, membuat orang-orang berlarian. Semoga engkau bisa mengambil hikmah dari itu. Tentang sebuah kewaspadaan. Tentang suatu peringatan. Tentang secercah pelajaran.

Penciptaku, Sang Mahakuasa, pernah berfirman yang artinya Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya. Firman itu tertulis dalam Alquran surat ke-30, Ar Ruum, ayat ke-24.

Penciptaku, Sang Maha Mengetahui, juga pernah berfirman yang artinya Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (dari padanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat). Firman itu tertulis dalam Alquran surat ke-25, Al Furqaan, ayat ke-50. Semoga kita termasuk makhluk yang senantiasa taat pada-Nya. Aamiin.

Wassalamu’alaikum.

(Sumber gambar: http://ummi-rissa.blogspot.co.id/2012/01/sapa-senja-dalam-hujan.html)

Advertisements