Ulang tahun biasanya didefinisikan sebagai pertambahan usia seseorang tepat pada tanggal kelahirannya. Contoh sederhananya ialah pada tanggal 30 Juni 1998 si A lahir. Pada tanggal 30 Juni 2008 si A berulang tahun karena usianya bertambah tepat 16 tahun. Namun, ada perbedaan paradigma mengenai ulang tahun. Secara umum orang-orang menganggap ulang tahun adalah pertambahan usia. Akan tetapi, orang Islam dan mungkin orang yang beragama lain menganggap ulang tahun justru momen berkurangnya usia. Mereka menganggap semakin bertambahnya usia seseorang maka semakin berkuranglah ‘jatah hidup’ orang tersebut. Dengan kata lain orang itu semakin dekat dengan kematian.

Ulang tahun identik dengan dengan acara perayaan mulai dari yang sederhana, mewah, unik, bahkan tidak jelas. Semua orang tentu tahu hal apa yang dilakukan remaja tertentu ketika temannya ulang tahun. Telur dan tepung hampir pasti menjadi ‘bahan utama’ yang digunakan oleh mereka. Ada pula yang berbuat usil sehingga temannya menangis atau marah. Di sisi lain ada yang merayakannya dengan menghabiskan banyak uang dalam sehari, berfoya-foya. Tak jarang pula ada ‘ritual traktiran’ dari orang yang sedang ulang tahun ke teman-temannya. Semua tentu bisa menilai perilaku-perilaku tersebut, sederhana, mewah, unik, atau bahkan tidak jelas.

Substansi ulang tahun bukanlah terletak pada seberapa hebat acara perayaan yang dilakukan. Namun, intinya justru terletak pada pemaknaan oleh orang yang sedang berulang tahun terhadap pertambahan usianya. Berikut beberapa cara bijak dalam memaknai hari ulang tahun.

1. Evaluasi Diri
Melihat masa lalu adalah perilaku yang bijak. Tujuannya bukan untuk menyesali atau menangisi peristiwa yang telah berlalu. Seseorang bisa mengetahui kesalahan yang pernah dilakukan melalui penghayatan masa lalu. Hal itu dilakukan tentu tidak sekadar mengetahui dan menghayati, tetapi bisa berguna supaya kesalahan itu tidak terulang kembali. Sangatlah ironis bila seseorang jatuh pada lubang yang sama. Misalnya, ada seseorang yang dulu jarang membuat perencanaan hidup sehingga semuanya menjadi kacau. Alangkah bijaknya jika ia mulai sering membuat perencaan dalam hidupnya. Allah berfirman yang artinya Dan kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian (Az Zukhruf[43]: 56). Kata mereka mengacu kepada Firaun dan kaumnya. Secara tersirat Allah ingin hamba-Nya mengambil pelajaran dari masa lalu.

2. Meningkatkan Kualitas Diri
Manusia yang baik adalah manusia yang dinamis. Dia senantiasa melakukan berbagai perubahan ke arah yang positif. Dengan adanya peran akal dan perasaan, perubahan bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai. Memang segala sesuatu membutuhkan proses termasuk perubahan. Namun, proses yang dilakukan merupakan investasi yang harus dilakukan supaya kualitas diri bisa meningkat. Dengan meningkatnya kualitas di dalam diri, seseorang tentu akan semakin bisa bermanfaat untuk masyarakat. Andaikan orang itu belum bisa bermanfaat untuk masyarakat, setidaknya ia masih bisa bermanfaat untuk teman. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya? Allah pun juga menyuruh hamba-Nya supaya berlomba dalam hal kebaikan, meningkatkan kualitas diri. Allah berfirman yang artinya Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al Baqarah[2]: 148)

3. Membuat Perencanaan dan Menentukan Target
Ada kata-kata bijak orang yang tidak melakukan perencanaan sama dengan orang yang merencanakan kegagalan. Dengan perencanaan maka hidup seseorang akan lebih terarah, teratur, dan tidak sekadar mengikuti arus. Dengan target maka motivasi yang ada di dalam diri akan meningkat. Perencanaan dan target yang dibuat tentunya harus realistis untuk dicapai, tidak sekadar berbentuk konsep yang terlalu melangit. Sejatinya kesuksesan telah tercapai sebagian bila sudah membuat perencanaan dan target. Hal penting lainnya dari suatu perencanaan adalah sifatnya. Perencanaan yang dibuat harus bersifat positif karena Allah membenci rencana yang negatif. Allah berfirman yang artinya Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur. (Faathir[35]: 10)

*Jadikanlah hari ulang tahun sebagai momentum untuk berbenah diri dan berproses sehingga tidak ada penyesalan pada hari esok!

(Sumber gambar: https://muslim.or.id/3793-sikap-yang-islami-menghadapi-hari-ulang-tahun.html)