Waktu itu hari begitu cerah tak berawan. Suasana di Desa Mori, Bojonegoro, sangatlah permai. Saya bersama 19 teman sedang duduk-duduk di rumah seorang warga. Kami baru saja tiba di sana. Perjalanan dari Surabaya cukup membuat tubuh agak merasa lelah. Mengapa kami ada di Desa Mori? Kuliah Kerja Nyata (KKN). Ya, selama sebulan kami akan belajar bermasyarakat, menempa diri bersama warga, dan menerapkan ilmu selama belajar di Universitas Muhammadiyah Surabaya. KKN tahun 2016 lalu dilaksanakan pada bulan Juli hingga Agustus. Satu hal yang paling berkesan dalam KKN waktu itu adalah hadirnya ‘rembulan sabit’ Desa Mori.

Pada suatu sore saya sedang mengobrol bersama tiga orang teman. Mereka adalah Muktamirul, Ningsih, dan Udin. Kami sedang berdiskusi tentang program-program KKN yang akan dilaksanakan. Tak lama kemudian datanglah anak-anak Desa Mori. Mereka berujar, “Kakak-kakak KKN, ayo kita belajar bareng habis magrib nanti.” Ningsih menjawab, “Iya, sebentar. Nanti teman-teman KKN pasti ke sana kok buat mengajar les kalian.” Anak-anak itu pun bersorak. Mereka senang sekali. Tas dan buku yang telah dibawa bergoyang-goyang karena mereka melompat-lompat kegirangan sambil tertawa riang. Hatiku bertanya penuh keheranan, “Beginikah luar biasanya anak-anak desa? Mereka ingin belajar tanpa disuruh. Mereka memiliki niat yang besar untuk mendapat ilmu. Sungguh berbeda dengan anak-anak perkotaan yang hanya ingin bermain, bermain, dan bermain.” Namun, kisah sesungguhnya baru dimulai setelah itu.

Waktu yang dijanjikan pun tiba. Azan magrib telah berkumandang. Anak-anak yang tadi mengajak belajar bersama telah duduk di dalam musala. Kadang-kadang mereka diingatkan oleh takmir supaya tidak gaduh. Saya mewajarinya karena mereka masih siswa tingkat SD. Gurauan dan candaan memang sesekali terdengar. Namun, ketika imam sudah bertakbir untuk memulai salat, suasana menjadi tenang. Anak-anak tadi telah paham bahwa tidak boleh ada keramaian sedikit pun ketika tangan telah diangkat, gerakan takbir penanda dimulainya salat.

Di sebelah tempat ibadah tadi memang terdapat bangunan yang terdiri atas empat ruang. Anak-anak Desa Mori setiap sore belajar mengaji di sana. Di sanalah mereka belajar bersama kami. Ruang paling ujung digunakan untuk anak-anak yang ingin belajar membaca Alquran bersama Muktamirul, mahasiswa FAI UM Surabaya. Mereka masih ingin belajar meskipun pada sore hari telah belajar bersama guru TPA di sana. Anak-anak yang ingin belajar tentang pelajaran di sekolah berada di ruang ketiga. Mereka begitu antusias untuk belajar. Keinginan yang besar untuk belajar bersama kami tampak dari sorot mata, perilaku, dan responsnya selama belajar. Lagi, saya terheran-heran dengan hal itu karena di perkotaan suasana seperti itu sangatlah jarang bisa ditemui.

“Kak, ayo cerita.” Awalnya saya agak bingung ketika mereka berkata seperti itu. Akan tetapi, semangat merekalah yang membuat diri ini sejenak berpikir, mereka-reka cerita dalam bentuk dongeng. Akhirnya, terciptalah dongeng Kadal dan Cicak. Mereka begitu antusias menyimak cerita tersebut. Ada pula yang sampai tertegun. Di sela-sela cerita banyak yang bertanya, “Kak, kenapa cicak ke sawah? Kenapa kadalnya hilang?” Beragam pertanyaan sering muncul. Tentu pertanyaan yang bertubi-tubi itu harus dijawab dengan sabar. Ada pula anak yang mencoba menebak alur cerita. Namanya Andika, seorang anak yatim. Dia berusaha menebak cerita dengan berkata pasti setelah itu begini, terus begini. Saya pun tertawa lantas mengubah alur cerita. Dia berkata, “Wah, Mas Fikri curang!” Kami tertawa. Lihatlah! Betapa cerdasnya mereka, betapa kritisnya meraka, aset bangsa yang perlu dibina tanpa pengaruh negatif teknologi layaknya anak kota. Agenda bercerita pun menjadi hal yang rutin setalah belajar mengaji dan les. Tentu cerita yang disampaikan mengandung suatu amanat. Terkadang merekalah yang bisa menyimpulkan amanat dari kisah yang telah diceritakan. Menyampaikan suatu pesan moral melalui cerita memang lebih efektif daripada mengatakannya secara langsung.

Selain mengajar mengaji dan les, kami juga mengajar di SDN Mori I dan SDN Mori II. Para siswa di sana sangat senang diajari oleh kami. Bila ada hal yang tidak dimengerti, mereka langsung bertanya. Tak jarang pula pertanyaan yang diberikan kepada kami bisa dijawab secara benar. Mungkin bagi orang lain mereka termasuk siswa yang ribut dan menyusahkan. Namun, kami menganggap mereka adalah siswa yang aktif. Sesekali mereka berkata kepada saya, “Kak, ayo cerita.” Saya jawab, “Iya, nanti saja setelah magrib.” Mereka sedikit kesal, “Aduh, Kak, ayo cerita.” Akhirnya, saya pun bercerita, sekadar melepas kejenuhan mereka setelah belajar dari pagi hingga siang.

Bercerita. Itulah hal yang paling menyenangkan di antara saya dan anak-anak Desa Mori. Lewat cerita, kami merasa. Lewat cerita, kami bermakna. Ada berbagai pesan kehidupan yang telah didapatkan. Ketaatan kepada Tuhan, kepatuhan kepada orangtua dan guru, pentingnya persahabatan, akibat buruk berbohong, kewajiban saling menolong, dan masih banyak lagi merupakan benih kebaikan yang telah tertanam di sanubari mereka. Sayangnya, benih-benih itu mampu saya tanam selama sebulan saja. Menjelang masa akhir KKN, kami saling bercerita, mengingat kembali masa-masa awal perjumpaan mereka dengan saya. Ada yang tertawa. Ada pula yang kecewa karena perjumpaan ini begitu singkat. Andika, anak yang selalu mencoba menebak alur cerita saya, berujar, “Kak, jangan pergi! Tinggal di sini saja.” Saya pun hanya tersenyum, “Mas Fikri harus melanjutkan kuliah di Surabaya, maaf. Semoga kita bisa bertemu lagi.” Dia memegang erat tangan saya.

Masa penutupan KKN di Dsa Mori pun tiba. Saya dan teman-teman berpamitan kepada Pak Andhik, Kades Mori, beserta jajaran. Tak lupa kami berpamitan kepada guru-guru di SDN Mori I dan II. Jauh sebelum hari itu tiba sebuah puisi telah terbentuk. Puisi yang menggambarkan kekaguman terhadap anak-anak Desa Mori. Puisi yang khusus didedikasikan untuk mereka, anak-anak yang telah mengajarkan semangat belajar kepada kami. Puisi tersebut terabadikan di ruang guru SDN Mori II. Terima kasih Andika, Amelia, Ratu, Mahda, Syifa, Chika, dan yang lain. Kalian luar biasa. Semoga tetap menjadi rembulan sabit Desa Mori.